Skip to main content

Posts

Showing posts from 2014

Sebuah Bahagia

Menjadi seorang ibu dari seorang bayi perempuan mungil adalah aku sekarang. Istri dan ibu, bukanlah sosok yang bisa disepelekan. Baru satu anak saja sudah seperti ini repotnya, apalagi memiliki banyak anak. Namun, inilah hidup. Kita harus selalu belajar untuk menjadi lebih baik dan menjadi lebih dalam banyak hal. Tak bisa berhenti di satu titik saja dan menjadi seperti itu terus menerus. Kehadiran si kecil membuat keluarga kami menjadi terasa lebih lengkap meski banyak yang harus kupelajari Banyak yang aku masih belum mengerti tentang mengurus bayi, tapi aku terus berusaha belajar untuk bisa menjadi ibu yang baik. Kami, keluarga kecil kami sedang berusaha untuk menjadi yang terbaik baginya. Membangun sebuah keluarga kecil yang diridhoiNya. Selamat menjadi bagian dari hidup kami, sayang. Semoga Ayah dan Bunda bisa menjadi yang terbaik untukmu, menuntunmu ke jalan yang benar dan selalu berada di jalan ridhoNya. Berharap kau bisa tumbuh menjadi seorang gadis sholehah yang cerdas, ...

With My Nada

Aku sudah menjadi ibu, yah seorang ibu. Waktu berjalan begitu cepat. Rasanya  baru kemarin aku masih kuliah dan menghabiskan banyak waktu untuk bermain dan bekerja. Sekarang sudah bertambah lagi tanggung jawab tepat di sembilan bulan usia pernikahanku. Belajar menjadi istri sekaligus ibu di waktu singkat. Tak mudah, tapi aku pasti bisa.  Belajar menjadi ibu tak semudah yang dibayangkan. Banyak yang masih harus kupelajari. Memiliki seorang bayi membuat banyak pekerjaan tak tersentuh dan akhirnya harus meminta bantuan pada orang lain. Untungnya masih ada ibu dan mertua yang membantu meringakan karena si kecil masih belum bisa disambi mengerjakan pekerjaan lain. Tadinya aku selalu bisa membuat sarapan pagi buat suami, sekarang harus kelabakan kadang tak menyentuh sama sekali. Tadinya aku bisa menyetrika semua baju dalam waktu singkat sekarang sama sekali tak bisa menyetrika baju. Ibu mertua mengambil alih hampir semua pekerjaan rumah karena aku tak bisa mengerjakannya lagi. N...

My Baby's Born

Sembilan bulan menunggu kelahiran buah hati pertama kami, akhirnya tanggal 2 November aku pun merasakan kontraksi di kandunganku. Pukul 02.30 pagi, aku merasakan ada kontraksi dibarengi keluar sedikit cairan dari kemaluanku. Segera aku ke kamar mandi untuk mengecek, ternyata ada darah yang keluar. Dokter pernah berpesan padaku kalau ada keluar darah atau cairan yang cukup banyak dari kemaluan segera periksa mungkin saja itu tanda melahirkan. Segera kubangunkan suami untuk memberitahunya kalau sudah ada tanda aku akan melahirkan meski kontraksinya masih lama jaraknya. Meski sudah mendengar beberapa cerita tentang melahirkan, tapi kami masih bingung dengan keadaan ini. Aku pun menelfon ibuku yang ada di Lombok Timur untuk menanyakan apa yang harus kulakukan. Beliau menyarankanku untuk banyak jalan saja, menunggu pagi untuk ke Rumah Sakit karena jarak kontraksinya masih cukup lama. Beliau menyarankan kalau bisa tidur lebih baik aku tidur dulu dan makan yang bisa kumakan untuk tenaga saa...

Mimpi Itu Masih Kuyakini

Bahkan sampai sekarang aku masih berharap bisa kembali melanjutkan pasca sarjana seperti yang kucita-citakan selama ini. Bukan ego, tapi sebuah cita-cita untuk bisa menuntut ilmu setinggi yang kumampu, tapi keadaan yang membuatku masih belum bisa mewujudkan cita-citaku sendiri. Mungkin sebagian orang melanjutkan sekolah itu mudah karena mereka memiliki cukup uang untuk membayar atau banyak yang beruntung mendapatkan beasiswa dengan perjuangannya. Mungkin, kalau tak pernah ada masalah yang terjadi di keluarga kami, aku sudah sejak lulus S1 sudah berburu beasiswa untuk melanjutkan sekolah lagi. Namun, aku tak mau egois. Keluargaku membutuhkanku untuk membantu menguatkan mereka dari sebuah musibah yang menimpa keluarga kami.. Kami bahkan tak pernah tahu kejadian itu sebuah musibah, peringatan atau adzab atas kelalaian kami, tapi yang pasti kami harus berusaha untuk bangkit. Aku pun memutuskan untuk bekerja sementara bisa memulihkan sedikit kondisi keluargaku di pulau eksotis ini sambil...

Tinggal Sebulan

Prediksi dokter, tinggal kira-kira awa November atau kurang lebih sebulan lagi bayi yang ada di rahimku akan lahir. Kami sudah disibukkan dengan persiapan perlengkapan bayi dan menata ulang kamar kami agar nanti nyaman untuknya saat menjadi bagian dari penghuni kamar ini. Segala persiapan dibantu mertua dan orang-orang terdekat kami dengan memberikan masukan sedang dalam proses. Selain persiapan, banyak cerita tentang pengalaman melahirkan yang kudapatkan dari mereka yang pernah merasakannya bermacam-macam. Bukan membuatku menjadi takut, tapi paling tidak aku sudah punya banyak referensi tentang pengalaman melahirkan. Dari cerita melahirkan normal yang mudah sampai cerita melahirkan yang harus melalui induksi dan proses vakum agar bayi cepat keluar. Mulai dari ibuku sendiri yang menceritakan pengalaman melahirkanku yang paling mudah kemudian melahirkan adik keduaku yang harus didorong oleh bidannya karena kehabisan tenaga mengurusku yang baru berumur setahun hingga susahnya melahir...

Sunday Ceria

Minggu ini, akhirnya bisa juga menikmati Car Free Day di Udayana. Suami yang mendapat jatah untuk membuka stand di sana dari perusahaan tempatnya bekerja membawa keuntungan juga untukku. Setelah sholat subuh, kami pun bergegas untuk mencari lokasi menempatkan stand perusahaan suami di salah satu pinggiran Jalanan Udayana yang jam 6 pagi sudah harus steril dari kendaraan bermotor. Kami mendapat tempat yang tinggal satu-satunya yang masih kosong setelah berkeliling agak lama. Sepertinya kami kesiangan karena harus menunggu seorang teman suami untuk membantu membawakan perlengkapan ke lokasi. Tepat di sebelah stand sederhana berbahan plastik bongkar pasang yang dirangkai di pinggir jalan, ada keluarga yang juga sedang menemani kepala keluarga mereka membuka stand untuk perusahaannya di sebelah kami. Mereka menjual sebuah minuman pengganti cairan tubuh dengan menggunakan meja rakitan. Karena hanya diberi waktu 3 jam untuk car free day dan menggelar lapak di pinggiran jalan, jadi jarang y...

Edisi CPNS an

Untuk pertama kalinya aku ikut heboh sama pembukaan pendaftaran CPNS. Setelah semua rencanaku tak berjalan seperti apa yang sudah kuharapkan, aku harus memutar otak untuk menyusun kembali rencana masa depan dengan mempertimbangkan lebih banyak hal. Aku bukan lagi gadis single yang bisa kemana-mana sendiri. Kehamilanku kali ini membuat apa yang harus kufikirkan bertambah saat nanti buah hati kami lahir bukan hanya sekedar izin dari suami. Sebagai istri dan calon ibu, tentunya aku tak bisa seleluasa dulu untuk menentukan pilihan hidup karena harus mempertimbangkan kondisi keluargaku. Sebuah rumah tangga yang baru saja kami bangun dan anakku nantinya menjadi pertimbangan yang harus benar-benar aku fikirkan dengan baik. Bukan sekedar keinginan untuk memenuhi kebutuhan, bekerja bagiku adalah sebuah sarana untuk aktualisasi diri dan memperbanyak ilmu. Selain juga adik bungsuku masih membutuhkan bantuanku untuk menyelesaikan sekolahnya meski bapak masih bekerja sampai sekarang. Aku juga ing...

Tak Selalu Seperti Ini atau Itu

Pembukaan pendaftaran CPNS jadi tren yang menyita banyak perhatian orang. Aku salah satu yang baru mulai memperhatikan keributan orang sama tes ini karena sebelumnya nggak pernah kepikir pengen jadi PNS. Setelah jadi ibu rumah tangga, sepertinya aku mulai tertarik untuk mengikuti tes ini. Aku mulai memantau perkembangan informasi pembukaan pendaftaran CPNS sambil menikmati kehamilan yang bertambah besar. Sambil menunggu kelahiran bayi pertama kami dan mempersiapkan kelahirannya, kusempatakan untuk mengurus segala sesuatu untuk pendaftaran yang jadwalnya semakin mundur saja dari Agustus sampai akhirnya dibuka juga untuk wilayah Nusa Tenggara Barat lewat satu web yang diakses seluruh Indonesia, panselnas. Hari ini, aku minta adik sepupuku Sofyan untuk mengantar ke Kantor Catatan Sipil untuk mengurus perekaman KTP elektronik dan minta surat keterangan kalau e-KTP nya masih dalam proses. Rame juga yang antri dan semuanya buat daftar CPNS, tapi cuma aku yang perutnya besar Pas antri minta ...

Hidup Tak Pernah Terduga

Ternyata di pulau kecil seperti ini malah ketemu sama kakak kelas SMA dulu. Kami bertemu di tempatku bekerja dulu, di Selong. Karena logat Jawanya yang khas, aku pun iseng menanyakan asal tempat tinggalnya yang ternyata setelah obrolan berlanjut kami pernah sekolah di SMA yang sama. Meski nggak ketemu karena dia lima tahun lebih dulu daripada aku, tapi surprise juga ketemu kakak kelas di sudut pulau kecil ini. hahaha Kami menjadi lebih sering ngobrol baik lewat handphone maupun ketemu waktu makan siang. Cerita yang akhirnya sampai juga pada kehidupan kami masing-masing. Tak pernah menyangka kalau dia ternyata sudah menduda beberapa bulan ini. Kehidupan rumah tangga yang diinginkan langgeng sampai dunia akherat ternyata harus kandas tak lebih dari dua tahun. Ia sudah menikah dengan seorang gadis yang baru dikenalnya tiga bulan. Saat itu, ia masih bertugas di Wamena, Papua sedangkan calon istrinya tinggal di tempat asalnya, Salatiga. Mereka pun memutuskan menikah tak lama setelah kenal ...

Tujuh Bulanan

Alhamdulillah, usia kandunganku sudah memasuki usia tujuh bulan. Janin yang kami nantikan sebentar lagi akan lahir ke dunia ini. Seperti adat Jawa, saat sudah memasuki usia kandungan tujuh bulan biasanya ada sebuah syukuran sekaligus mohon doa agar diberi kelancaran saat persalinan nantinya. Kedua mertua yang berasal dari Jawa dan bapakku yang memang orang Jawa, membuatku  menggelar acara tujuh bulanan yang mungkin di beberapa daerah memang tak ada acara tertentu. Kami tak menggunakan adat Jawa utuh yang harus menggunakan acara mandi dengan air tujuh sumur denagn sederet ritual lainnya, kami hanya mengambil sebuah manfaat dari acara tersebut. Aku dan suami memilih untuk mengadakan pengajian yang dilanjutkan oleh makan bersama tetangga, keluarga dan sahabat. Berbagi kebahagiaan dengan mereka dan sekaligus mohon doa agar nantinya diberikan kemudahan dan kelancaran saat bayi kami terlahir ke dunia ini. Banyak yang datang membuat kami semakin bahagia. Banyak yang memberikan doa dan i...

Be Better

Menikah memiliki banyak makna. Seharusnya menikah bisa menjadikan kita menjadi lebih baik dalam banyak hal. Saling mengingatkan untuk menuju kebaikan. Menyadari kesalahan dan kekurangan masing-masing dan berusaha untuk menjadi lebih baik bukan hanya untuk menyenangkan pasangan, tapi juga untuk kebaikan kita. Menjadi lebih baik akan memiliki banyak manfaat bukan hanya untuk kehidupan dunia, tapi juga kehidupan akherat kelak. Bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk orang lain. Jadi, sudah sepantasnya bahkan seharusnya suami istri itu saling mengingatkan. Meski terkadang membuat sedikit pertengkaran kecil sampai harus diam, tapi kalau mau melihat esensi dari sebuah peringatan itu, kita pasti berterimakasih pada pasangan kita telah mengingatkan. Berumah tangga itu saling mengerti dan memahami, berusaha untuk beradaptasi. Sudah seharusnya memang ada perubahan. Itulah mengapa kita dianjurkan untuk memilih calon pendamping hidup yang baik agamanya terlebihd ahulu karena dalam agama itu m...

Kebutuhan atau Gaya Hidup?

Hidup di kota berbeda dengan hidup di desa. Aku begitu merasakan perbedaan hidup di beberapa tempat yang berbeda. Bapak yang bekerja sebagai konsultas jalan tol membuatnya harus berpindah-pindah tempat bertugas ketika ada proyek sesuai dengan tempat beliau ditugaskan. Namun, karena harus sekolah orang tua kami memutuskan untuk tak lagi ikut bapak berpindah-pindah lagi dan memilih stay di Ngampin, Ambarawa, tempat kelahiran bapak. Bersama ibu dan adikku, bapak yang harus bolak-balik pulang sebulan sekali ataupun dua kali. Meski tergolong desa, tapi tempat tinggalku tak jauh dari kota. Selain itu, kecamatan tempatku tinggal bisa dibilang tak terlalu ketinggalan jaman karena semua kemajuan teknologi dan perkembangan arus globalisasi masuk cukup pesat dan mudah diterima di daerahku. Apapun yang dibutuhkan sudah bisa kutemukan. Budaya gotong royong dan kebersamaan juga cukup menyenangkan sehingga nyaman untuk tempat tinggal. Namun, sudah mulai terpengaruh dengan arus individual yang menjal...

Cerita seorang Sahabat

Cerita ini sudah berlangsung sejak dua tahun yang lalu. Seorang sahabat di pulau kecil ini ternyata sama-sama berasal dari Jawa. Osi, panggilan untuk cewek tomboi yang manis sahabatku itu. Kami dulu sama-sama bernaung di BRI, tapi dia resign setahun sebelum aku juga resign tahun lalu. Saat masih sama-sama bertugas di BRI Cabang Mataram, kami ditempatkan di unit yang berbeda, tapi pernah beberapa kali aku bertemu dengannya yang mampir ke kantorku di Gunungsari karena selalu melewati kantorku. Kami justru dekat saat aku sudah dipindah ke kantor cabang lain di Lombok Timur. Dia sering menelfon ke kantorku untuk berbicara dengan seorang teman kantorku yang dulu pernah sekantor dengannya. Belakangan setelah aku akrab dengannya, baru aku tahu kalau ternyata mereka pacaran. Entah darimana kemana, aku akhirnya dekat dengan cewek ini karena tahu kalau kami punya bahasa daerah yang hampir sama, bahasa Jawa. Dia pun bertanya padaku tentang pacarnya yang sekantor denganku, tapi aku diminta tak m...

Duka akibat Leukimia

Pagi ini, saat memasak di dapur, ibu mertuaku mendapat telfon dari seorang saudaranya. Ada anak temannya meninggal dunia karena Leukimia. Usianya masih cukup kecil, baru kelas 4 Sekolah Dasar. Sudah sejak enam bulan yang lalu dia dirawat di Surabaya. Ada sebuah harapan dari keluarganya untuk bisa sembuh karena seorang anak wakil walikota kami pernah mengalaminya dan sembuh setelah melakukan serangkaian pengobatan. Namun, Allah berkehendak lain pada anak laki-laki itu. Allah memanggilnya setelah beberapa bulan berusaha untuk berobat di Surabaya. Kanker ini terdengar begitu menyeramkan dan sangat cepat perkembangannya. Telat sedikit menanganinya akan berakibat fatal dan mungkin inilah yang terjadi pada anak laki-laki itu. Penyakit yang menimpanya sudah tak bisa lagi disembuhkan karena sudah terlanjur menjalar cepat menggerogoti tubuhnya. Penyakit ini cukup cepat merenggut nyawa ketika tak segera ditangani dengan benar seperti yang terjadi pada keluargaku. Beberapa tahun yang lalu, du...

Sepeninggal Lebaran

Masih di bulan Syawal, tapi rasanya sudah berbeda. Disaat orang-orang sedang asik merayakan lebaran ketupat, aku sedang merasa kesepian karena semua kembali seperti semula. Bapak dan adikku sudah kembali ke Jawa, melanjutkan kewajiban mereka bekerja. Beberapa hari yang membahagiakan bisa bersama itu sudah berlalu dan aku sudah kembali ke rumah mertua bersama keluarga suamiku. Kembali menjalani rutinitas seperti biasa menjadi ibu rumah tangga yang menunggu suami pulang dan menjaga kesehatan janin yang ada di dalam perutku. Mencoba mencari kesibukan di tengah waktu luang yang kumiliki. Walaupun keadaan ini sudah kualami selama berpuluh tahun, tapi masih saja ada kesedihan setiap kali bapak berangkat bekerja dan meninggalkan kami. Rasanya masih tak rela apalagi beliau sudah cukup tua untuk bekerja di proyek. Ingin sekali melihat beliau berada bersama ibuku, ada yang merawat dan memperhatikannya. Badannya yang semakin kurus membuatku tak rela melihat beliau harus mengurus diri sendiri di...

SYAWAL 1435

Bertemu dengan Hari Raya dengan keadaan dan susasana yang baru. Berada di tengah keluarga baru yang kini menjadi bagian dari hidupku. Menjadi seorang istri dan menantu di sebuah keluarga baru, memiliki tugas dan tanggung jawab baru. Kehidupan selalu berubah dan terus menuntut kita untuk beradaptasi dan menjadi lebih baik. Tak selamanya akan sama terasa dan kita harus siap menjalaninya. Bahagia itu dari bagaimana kita mensyukuri apa yang kita miliki. Bahagia menjadi bagian dari keluarga baru meski tak bisa sholat ied bersama keluargaku. Bahagia menjadi istri dan bagian dari kewajiban baru. Bertemu dengan keluarga yang lebih besar, bertemu dengan orang yang lebih banyak juga belajar bersyukur atas apa yang kualami. Setelah Sholat Iedul Fitri di Lapangan Polda dekat rumah mertua bersama kakak ipar dan keluarganya, kami makan di rumah mertua tempatku tinggal. Menunya sama persis dengan menu yang ada di rumah Ambarawa dulu. Opor ayam, sambal goreng kentang dan hati juga sayur kulit sa...

My Pregnancy

Subhanallah, bertemu bulan Ramadhan dalam keadaan yang sangat berbeda. Marhaban Ya Ramadhan.....berada di tempat baru dengan keadaan yang baru. Menjadi seorang istri dan mengandung buah hati kami membuat Ramadhan ini terasa sangat penuh berkah. Rasanya bahagia itu memang sederhana. Meski masih ada di dalam kandungan, tapi keberadaannya membuat suasana menjadi lebih ramai. Hamil memicuku untuk terus konsisten tadarus setiap selesai sholat untuk mengajarkan dia yang ada di perutku untuk lebih terbiasa mendengar ayat suci. Memperkenalkannya pada agama Allah dan mengajarkan dia untuk lebih menyukai ayat suci. Begini rasanya akan menjadi seorang ibu, sebuah amanah besar yang Allah titipkan di perutku yang nantinya harus kami didik dan kami pertanggungjawabkan padaNya. Semoga Allah senantiasa membimbing kami untuk bisa mengarahkannya di jalanNya. Terkadang terbersit rasa takut kami tak bisa menjadi orang tua yang baik bagi buah hati kami. Sebuah amanah yang nantinya akan kami pertanggung...

Dari Karir ke Rumah

Kata orang, menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan paling mulia. Mengabdikan diri untuk keluarga merupakan sebuah kemuliaan seorang wanita ketika ia sudah memilih menjadi istri dan ibu. Berarti sekarang, aku harus bersyukur karena aku sedang menjalani tugas mulia itu. Berkesempatan untuk menjadi ibu rumah tangga meski terkadang kangen bekerja. Pernah menjadi pegawai sebuah bank BUMN membuatku terbiasa bekerja dari pagi sampai malam Bahkan di hari libur pun kusempatkan ke kantor sekedar membereskan meja kerjaku sambil browsing. Mengambil kesempatan lembur di hari libur atau setelah jam kerja untuk menyibukkan diri karena di rumah pun tak banyak yang bisa kulakukan. Selesai kerja, biasanya aku berkutat dengan laptopku sampai larut malam. Menghabiskan hari dengan rutinitas yang padat dan menyenangkan. Kini, semua berubah sejak aku menikah. Berada di rumah membereskan semua pekerjaan rumah dan menunggu suami pulang menjadi rutinitasku. Banyak waktu luang untuk bersantai dan tidur si...

My Pregnancy

Allah memberi kami amanah di dalam perutku tepat sebulan setelah kami menikah. Syukur yang luar biasa karena kami memang sudah ingin mempunyai anak, buah cinta kami berdua. Meski sempat mengalami flek di kehamilan awal, tapi alhamdulillah Allah masih memberi kesempatan kami untuk mempertahankannya. Belajar untuk menjaga amanah sebaik mungkin meski banyak kekurangan karena baru pertama kalinya kami diamanahkan. Memasuki usia 5 bulan, sudah mulai terasa ada beberapa kali gerakan dalam perut. Meski tak sering, tapi terasa begitu menyenangkan. Rasanya, ia sedang menemani hariku di rumah. Kebosanan yang melanda menjadi sedikit terobati dengan adanya gerakan dari dalam perut. Meski gerakan lembut, tapi begitu mengobati kebosanan yang selama ini kurasakan. Perut yang mulai membuncit juga membuat banyak orang memperhatikanku dengan wajah bahagia. Sama seperti saat aku melihat ibu hamil dulu, rasanya ikut berbahagia dengan kebahagiaan yang mereka rasakan. Kini, aku merasakan juga kebahagiaan ...

Ikhlas, Kunci dari Setiap Syukur

Ikhlas merupakan kunci dari setiap syukur. Tak pernah mengharap banyak akan rezeki yang Allah berikan dan ketika Ia memberikan yang tak pernah kita duga, syukur itu begitu membuncah. seorang sahabt bertanya tentang bagaimana caranya ikhlas. Menurut saya, ikhlas itu bukan ilmu yang sulit dipelajari atau sesuatu yang dicari dari ketiadaan. Ikhlas adalah sifat yang sudah ada, hanya saja bagaimana cara memupuknya agar menjadi lebih besar. Ikhlas pasti bergendengan erat dengan sabar. Ketika kita sabar, disanalah wujud dari keikhlasan dalam bentuk yang lain. Sama halnya dengan soal jodoh dan rezeki. Sebuah ketetapanNya justru datang ketika ikhlas menerima apapun yang digariskanNya dan berusaha untuk terus mendekatkan diri padaNya. Sudah lama bapak memintaku menikah bahkan dari dua tahun yang lalu. Beliau khawatir padaku karena tak pernah mengenalkan seorang pria sebagai calon pasangan hidupku. Mungkin beliau khawatir dengan umurku yang bertambah tapi tak kunjung ada yang datang untuk mel...

My Wedding

Sebuah cerita baru akan kami sejak hari itu, tanggal 9 Februari 2014. Kalimat akad yang merubah banyak hal, merubah yang haram menjadi halal, memindahkan tanggung jawab orang tua kepada suami dan memulai sebuah bangunan rumah tangga dalam iman dan islam sebagai imam dan makmum. Menjadikan kami naik ke tangga yang lebih tinggi dengan tanggung jawab dan kewajiban yang lebih pula. Air mata mengiring acara sakral nan khidmat itu. Meminta doa restu kepada kedua orang tua kami yang rasanya masih belum banyak yang bisa kami lakukan untuk mereka yang relah membesarkan kami sampai sekarang. Membimbing dan mengantarkan kami ke gerbang pernikahan yang berarti melepaskan kewajiban mereka sebagai orang tua dan menyerahkan tumpuan tanggung jawab pada kami berdua. Petuah dan nasehat juga doa mengalir dari ucapan mereka yang membuat suasana menjadi semakin haru teriring sholawat nabi yang terlantun dari kaset. Hari indah itu membuat bahagia banyak orang. Orang tua kami, keluarga besar kami dan ...

Yes, You

Tak pernah terbayangkan sebelumnya kau yang akan menjadi calon suamiku. Bukan kesempurnaan yang kuharapkan, tapi sebuah niat untuk bersama saling mengerti dan menghargai. Niat dan kemaumanmu untuk membimbing dan menuntunku di jalanNya. Bersama melangkah membawa sebuah cita dan harap kita berlabuh pada ridhoNya. Aku sadar kalau aku tak sempurna, aku pun tak sepenuhnya bisa seperti yang kau harapkan. Namun, aku akan berusaha untuk menjadi yang terbaik yang bisa kulakukan untukmu. Sudah kutekadkan untuk memberikan seluruh hatiku padamu, kumohon kau mau menjaga dan menyayanginya sebagaimana selama ini kujaga. Tak banyak kuminta tentang hatiku. Bersihkan kalau kotor, cerahkan kalau kusam, luruskan ketika mulai berbelok dan sabarkan ketika amarah membakarnya. Kupercaya kamu bisa. Kau, yang  sudah menjadi bagian penting dalam hidupku. Kau, yang akan menjadi imam bagi lembaran baru hidupku dan baktiku untuk ridhoNya. Aku sadar aku tak sempurna. Aku harap kau bisa mengerti ketidak ...