Skip to main content

Posts

Bejango Seharusnya Bukan Begitu

Jam pelayanan kantor sudah usai, saatnya merapikan berkas-berkas yang masih menumpuk dan nggak habis-habis. Dalam lelah dan penat, sebuah suara mengalihkan perhatian kami. Suara musik tradisional yang belum pernah kudengar berasal dari luar kantor. Kutinggalkan pekerjaan yang masih menumpuk di meja menuju jendela besar dekat pintu depan. Memastikan kalau asal suara itu berasal dari luar. Banyak orang berdiri di pinggir jalan. Beberapa gadis berpakaian kebaya seragam dengan make up tebal mulai muncul. Mereka berjalan teratur membentuk dua baris. Ternyata sebuah adat yang biasa kita lihat, nyongkolan atau bejango. Sebuah adat suku sasak mengantar pengantin ke rumah pengantin wanita untuk silaturahim dan dikenalkan kepada keluarga dan tetangga kalau mereka sudah menikah. Arak-arakan jalan kaki pengantin berangkat dari rumah pengantin laki-laki lalu disambut oleh kelarga pengantin perempuan yang berjalan menuju arah rumah pengantin laki-laki, saat bertemu di tengah jalan mereka bergabung m...

Perjuangan Seorang Sahabat

Tahun 2007 Ketika itu kami sedang sibuk mencari tempat melanjutkan ke perguran tinggi. Teman-teman seangkatan sibuk dengan pendaftaran kesana kemari mendapatkan perguruan tinggi yang mereka idamkan. Perjuangan dan pengorbanan demi masa depan. Semua berjuang demi cita dan asanya. Seorang sahabat sejak duduk di bangku SMP, memiliki cerita yang mirip sinetron. Kami tidak lagi berada di sekolah yang sama di bangku SMA. Aku memilih SMA Negeri di luar kota sedangkan dia memutuskan untuk melanjutkan di SMA Negeri di kota tempat kami tinggal, Ambarawa.  Menjalani masa-masa SMA, kami masih serng berkomunikasi lewat surat yang dititipkan pada adik kelas Sofa yang rumahnya dekat rumahku. Kami bercerita banyak tentang kehidupan SMA kami yang menyenangkan. Komunikasi kami lancar dengan sesekali mengirim surat dan bertemu di Depot Es Seruni langganan kami. Selalu ada cerita seru yang kami bagikan. Namun, mendekati penghujung SMA, kami justru semakin jarang komunikasi. Kesibukan membuat kami los...

Hidup yang mirip sinetron atau sinetron yang mirip kehidupan?

Cerita dari seorang sahabat: Seorang teman dari dua sahabatku memiliki kesamaan kisah yang intinya mereka tidak memiliki keluarga sebaik keluarga kami. Sebut saja Ina (untuk menjaga privasi orang tesebut) tinggal di Bekasi, orang tuanya bercerai sejak umurnya lima bulan dan dia dititipkan pada ibu kos dari ibu kandungnya yang dipanggilnya nenek. Sampai ia beranjak dewasa, ia hidup bersama nenek itu. ibunya yang membiayai sekolahnya merasa tidak sanggup lagi membiayai sekolahnya ketika ia duduk di bangku kelas 2 SMA. Ia pun mencari ayah kandungnya untuk memintanya membiayai sekolahnya. Namun, ayahnya pun tidak menyanggupinya. Bahkan ibunya sudah tak peduli lagi kalaupun Ina tak lagi sekolah. Ina yang sangat ingin menyelesaikan sekolahnya diajak saudara nenek itu ke Medan dan ia pun melanjutkan sekolah di tempat itu hingga lulus SMA. Ina bertahan di di Pulau Sumatera dengan bekerja untuk bisa melanjutkan ke perguruan tinggi, tapi karena tidak survive di pekerjaannya, ia pun keluar dan ...

Seharusnya Bisa Mengalir Bebas

Sungai. Tempat yang paling mengenaskan di Masbagik. Mungkin bukan hanya Masbagik, Aikmel dan Lenek juga tak jauh beda karena ada saudara yang tinggal disana. Air mengalir yang seharusnya menjadi salah satu bagian dari siklus hidrologi dan keseimbangan ekologi makhluk hidup menjadi tempat yang sangat kumuh. Semua sampah rumah tangga dibuang di sungai, tak peduli akibat yang akan ditimbulkannya. Bukan hanya limbah rumah tangga, limbah manusia pun dibuang di sungai. Bau dan kotornya sungai tak membuat mereka jijik untuk jongkok di dalam aliran air keruh itu. Lengkaplah sudah penderitaan sungai-sungai yang ada di sekitar perumahan warga Masbagik yang penuh sesak. Bendungan-bendungan sudah tersumbat sampah, terowongan bawah sungai penuh dengan sampah yang menyangkut, bau busuk menyeruak dan air sungai meninggi. Yang mengherankan ,mereka masih belum sadar dengan keadaan yang sudah sangat mengenaskan itu. Masih saja tega membuang kotoran di sungai dan bertahan tinggal di depan sungai dengan n...

Bias Gender, Keadaan atau pilihan?

Mereka, wanita-wanita yang bertahan untuk sesuatu yang mereka yakini. Mereka, ibu-ibu yang berusaha hidup lebih baik. Mendapatkan lebih dari yang biasa untuk uang saku putra-putrinya. Bukan sesuatu yang mengherankan banyak ibu-ibu setengah baya yang mengangkut pasir dan membantu pekerjaan tukang kayu dan tukang batu dalam membuat bangunan. Mereka menjadi pengangkut bahan bangunan. Panas terik menjadi teman, kulit legam menjadi biasa, mereka melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh kaum adam. Keikhlasan dan harapan menjadi alasan menjalani keadaan yang tak mereka harapkan itu. Memasak, mengurus anak dan menyambut suami pulang dengan hidangan di meja adalah hal yang paling membahagiakan. Namun, demi kehidupan yang lebih baik, angan itu harus dikuburnya. Mungkin suatu saat, akan bisa mewujudkannya. Suatu saat, ketika kehidupan mereka sudah lebih baik. Biaya sekolah anak, uang kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan lain dapat tercukupi hanya dari penghasilan kepala keluarga. Ember-ember...

Setahun lalu, di Solo

Pulang dari Al Fikr di Serengan, naik bis Nusa A pulang ke kampus. Berhubung nggak punya kendaraan sendiri, kema-mana harus bersahabat dengan kendaraan umum. Kutemukan bus Nusa A yang mangkal di perempatan gemblegan setelah jalan kaki lumayan jauh juga sekitar 1 km dari Al Fikr. Seperti biasa, ada pengamen naik ketika bus berangkat. Setelah menyanyikan lagunya ST 12 yang judulnya saya tidak ingat karena asik meelamun nggak jelas tentang apa yang akan saya lakukan setelah lulus nanti sambil melihat ke luar jendela, tapi saya masih sempat mengambil koin Rp 500,- dari dompet HP untuk diberikan pada segerombolan anak muda yang sedang bernyanyi. Karena terlalu asik melamun, saya tidak sadar kalau pengamen tadi sudah selesai menyanyi. “Mbak mau kemana mbak?” Tanya seseorang yang duduk di sebelahsaya  yang setelah saya sadar ternyata dia itu pengamen yang baru saja menyanyi dengan suara tidak terlalu bagus. “Ke UNS,” menengok padanya sebentar dengan muka agak males dan agak ramah lalu mem...

Kangen Kongja

Sahabatku yang ini, namanya Maharani Kusuma Djannata. Kami hidup satu kamar dalam dua tahun terakhirku di Solo. sebelumnya kami juga berada di kos yang sama, tapi nggak sekamar. Kami jadi penghuni pertama di kos baru yang jaraknya nggak lebih dari 2 meter dari kos lama, kos baru kami ada persis di depan kos lama. Sebelum berlanjut ke cerita tentang satu sahabatku yang ‘kadang bertingkah aneh” ini, akan kuceritakan bagaimana awal pertemuan dan kedekatan kami. Dia datang ketika kami sudah akan mulai OSPEK. Maha, begitu panggilan gadis mungil ini, datang bersama ayahnya.  Carrier yang dibawanya terlihat penuh dan berat. Ia tersenyum dan memperkenalkan diri pada kami yang ada di kos. dia ramah, tapi entah mengapa aku merasa ada yang berbeda darinya. Tapi nggak pernah aku ambil pusing. Maha menempati kamar tengah. Ketika itu keadaan kamar masih sangat acakadut. Kamar yang ditawarkan padaku belum dikosongkan sedangkan kamar paling kecil yang sementara kutempati sekarang ditawarkan pada...