Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2011

KARENA SEGALA SESUATU PASTI INDAH KALA WAKTUNYA

ya... semua pernah seperti ini... Bukankah... Setiap orang di dunia ini pernah memiliki salah dan masa lalu yang kelam... Setiap orang di dunia ini pernah merasa benci dan muak melihat kesalahan mereka... Setiap orang di dunia ini pernah ingin memakai topeng terbaik dalam hidupnya walau harus meminjam topeng orang lain... Bukankah kita pernah begitu... Bukankah, aku atau dirimu pernah merasa sakit hati yang terlalu dalam sehingga setiap kali kau mengingat nama atau kejadian itu atau hari itu dadamu merasa sesak karena memendam amarah... Bukankah, aku atau dirimu pernah ingin membuang masa lalu dan seandainya bisa menghapus memori kelam itu... Bukankah, aku atau dirimu pernah sangat kecewa dengan seseorang yang kita percaya dalam hidup ini atau merasa di khianati olehnya... Ya, rasa itu ada dalam hati, susah untuk di hapus, dan menganggapnya tak ada... Tapi... Bukankah selalu ada kata maaf, yang aku atau dirimu terima untuk semua itu... Bukankah selalu ada perbaikan ...

Jeruk Manis (Jerman)

Udah lama ada rencana pengen ke Jerman, tapi karena nggak bisa nyamain waktu, jadi diundur terus. Sampai akhirnya, hari minggu, tanpa rencana kemana-mana, tapi pengen mbolang. Pucuk dicinta ulam tiba, ada ajakan jalan-jalan dari tetangga depan rumah. Pas juga lagi pada kumpul ngobrol-ngobrol di rumah. Tanpa pikir panjang, aku langsung mandi trus siap-siap. Walaupun nggak tahu mau kemana, yang penting jalan-jalan. Bosen juga di rumah terus, jadi pengangguran padat rencana doang. Akhirnya kami putuskan ke Jerman, air terjun katanya. Perjalanan melewati desa-desa dan tegal sekitar setengah jam.  Sampai di parkiran dan membeli karcis masuk yang cuma Rp 2.500,-/orang, perjuangan kami masih belum berakhir. perjalanan menuju air terjun masih 1,5 km lagi melewati hutan yang masih alami. Hanya ada dua berugak (gazebo) tempat istirahat sebelum sampai di air terjun yang menjadi ujung tujuan kami. Sejuk rasanya, walaupun capek, tapi nggak terasa karena rame-rame dan banyak angin sepoi menerpa...

40 Tahun Bunga itu Masih Mekar

“Tidak bisa,sayang” tangan lembut itu membelai rambutku memberikan sentuhan ketulusan. Mata itu masih memancarkan cinta. Dikelilingi kulit yang sudah mulai keriput, wajah ayu yang masih terlihat dibalik kerut-kerut yang mulai tumbuh disana terbalut senyum tulus penuh keikhlasan. Perpisahan yang dipaksakan empat puluh tahun silam tak membuat cinta itu sirna. Bunga itu masih tumbuh dengan indah disana. Di sudut yang tak terjangkau oleh siapapun. Bunga yang selama ini tak pernah dirawat dan disingkirkan juga dikucilkan diantara bunga-bunga lain yang tumbuh di taman, ia masih ada di sana. Masih seindah saat dicampakkan dan masih semerah saat disingkirkan ke sudut. Tak ada yang menyangka bunga itu masih tumbuh selama empat puluh tahun meski tak dirawat dan dipandang sebelah mata. Cinta eyang putri dan eyang kakungku. Empat puluh dua tahun silam, bunga itu mulai tumbuh di hati mereka masing-masing. Dua anak manusia di sudut Lombok Timur dipertemukan di sebuah rumah yang sedang didirikan. Eya...

Gili Kondo (nggak sengaja)

Awalnya cuma denger-denger aja ada Gili Kondo di daerah Timur, tapi nggak tahu di daerah mana tepatnya. Pas waktu mau ke Pantai Gili Lampu di Sambelia sama keluarga, ada yang bilang "Kalo ke Gili KOndo cuma bayar 15.000 mbak". ternyata kalau ke Gili Kondo yang katanya 11 12 sama Gili Trawangan itu ada di deket Pulau Lampu (sebutan untuk Gili Lampu). Aku jadi semangat, padahal awalnya males-malesan karena udah sering kesana. Alhasil karena nggak ada pinjaman mobil, kami pun berangkat naik motor. Bareng sama keluarga Pancor, Aikmel sama Pringgabaya. bermodal empat motor, kami meluncur dengan perbekalan yang lengkap (baca:makanan). Sampai di pulau lampu, udah rame banget, pantes aja. hari minggu. Pulau lampu dulu sama sekarang udah jauh berbeda. Dulu enam tahun yang lalu waktu aku sering kesini, masih sepi dan nggak banyak yang berkunjung. Sekarang udah banyak berugak (gazebo sederhana), orang jualan, tempat bilasan, mushola, pepohonan dan tempat duduk-duduk. Setelah mendapat t...

Ibu yang Menang

Sebut saja namanya Setia, dia lahir di sebuah keluarga miskin. Ayahnya seorang kuli yang bekerja padseorang juragan pasir di desanya. Ibunya seorang ibu rumah tangga yang pandai memasak dan sering dimntai tolong untuk memasak di beberapa acara hajatan ataupun menerima pesanan. Kakaknya, Mas Lis, begitu Setiani Putri memanggilnya, lebih tua tiga tahun darinya. Mereka hidup pas-pasan dengan penghasilan dari ayahnya yang hanya seorang kuli dan hasil jual kerupuk ibunya. Kegemaran ayahnya berjudi makin membuat kehidupan keluarga mereka menderita hingga mereka harus kehilangan rumah pemberian dari kakak kandung ibunya Setia (Pakdhenya Setia). Putri kedua keluarga itu masih kecil saat mereka harus pindah ke rumah adik kandung Budhe Tum, begitu orang-orang memanggil ibu Setia. Mereka berempat harus tinggal menumpang di rumah sempit yang masih terbuat dari kayu dan berlantaikan tanah. Setia harus tidur bersama Bulek Tami dan putrinya yang seumuran dengannya. Bulek Tami yang bekerja sebagai pem...

Mbah Seno

J a mper merah itu sudah lusuh. Tak jauh beda dengan celana kain hitam sebatas betis yang sepertinya sudah terlalu lama dipakai. Tubuhnya kecil terbungkus pakaian lusuh yang sudah saatnya diganti. Meski hanya melihatnya dari belakang, tapi aku tahu tubuh yang dibalut pakaian lusuh itu adalah tubuh renta. Dari dalam bus yang sedang berhenti di depan Rumah Sakit Kasih Ibu Boyolali saat perjalanan pulang ke Ambarawa senja kemarin, mataku terus terpaku padanya. Tubuh renta itu gemetaran sambli menata dagangan dalam gerobak kecil yang bi sa dipindah-pindah. Berjualan sekedarnya untuk menyambung hidup menjadi pilihannya daripada mengemis di pinggir jalan, mengharap iba orang lain. Tubuh renta yang telah gemetaran itu tetap mau berusaha. Seorang anak laki-laki kecil duduk di bangku panjang yang ada di sebelah gerobak tua yang mungkin sudah bertahun-tahun menemani kakek tua itu mengais rezeki. Anak laki-aki kecil yang duduk di bangku panjang itu mengamati setiap kendaraan yang lewat di depann...

Sudah Gila

Satu persatu yang ia miliki mulai lepas. Pekerjaan yang menyangga kebutuhan ekonomi keluarganya sudah tak punya. Padahal Simbok baru saja di-PHK dari pekerjaannya sebagai pegawai pabrik garmen. Banyak pabrik gulung tikar dengan mengurangi karyawannya karena tak mampu menggaji mereka sesuai UMR. Pesanan sepi, bahan baku mahal. Mau tak mau, semua harus menerimanya. Rakyatlah yang kembali merasakan kesengsaraan. Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Namun, tak sedikit yang kaya jadi miskin. Sebaliknya, yang miskin jadi kaya justru amat sangat jarang sekali. Kredit motor tak mampu dibayarnya beberapa bulan ini sehingga motor kesayangannya harus ditarik kembali oleh dealer. Usahanya di Kalimantan setelah masa kontraknya di pabrik selesai, tak membuahkan hasil. Yang ada, dia telah ditipu oleh temannya sendiri dan sekarang entah ke mana orang itu. Di saat sulit seperti ini, Simbok malah baru saja melahirkan adik bungsunya. Ditambah masalah hubungannya dengan kekasihnya, An...