Skip to main content

Posts

Cukup Kadang-Kadang aja Gilanya :D

  Meski awalnya merasa kesepian karena nggak ada temen yang nyambung, tapi lama-lama nyambung juga. Satu persatu mulai nambah temen dari kenalan berantai. Salah satunya namanya Esti, kenal dari Anas. Si Anas ini temennya Kian. Kian temennya Ian. nah, si Ian ini sahabatku sejak SMA. Nah lo, bingung kan? Kalo bingung nih tak jelasin sekali lagi. Aku ->>>Ian->>>Kian->>>Anas->>>Esti. Cerita lengkapnya begini, aku sama Ian sahabatan waktu SMA trus kmai beda kampus waktu kuliah. Ian melanjutkan di AMG (Akademi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) di Jawa Barat sana. Nah dia punya sahabat namanya Kian (aku benci mau manggil mereka apa, dipanggil ‘yan’ semuanya nengok jadi kuputuskan untuk tidak memanggil sepenggal nama mereka. Untung kami nggak satu frame, jadi nggak banyak interaksi dengan sebutan sepenggal nama yang merepotkan).  Nah jaman kulaih dulu Ian yang sok idealis nggak mau bikin facebook akhirnya dia pinjem facebook si Kian ini b...

Resensi Buku (again)

Bukunya Valiant Budi langsung menarik perhatianku di Gramedia Surabaya. Tagline nya yang bertuliskan 'Kisah Nyata Seorang Penulis yang Menjadi TKI' membuatku penasaran akan isi buku ini. Buku terbitan Gagas Media sudah bisa ditebak gaya bahasanya. Lugas dan menyenangkan.  Tanpa banyak pertimbangan, aku langsung menyabet buku setebal 441 halaman itu. Gambar tempat kopi simple itu menggodaku terlalu akut hingga aku nggak sanggup meninggalkan buku terbitan Gagas Media di Toko Buku Gramedia ini. Baca lembar pertama.........’Nggak salah langsung jatuh hati’. Novel karya Valian Budi ini gaya bahasanya lugas dan kocak abis. Membacanya kayak kita bener-bener mengalaminya. Jalan ceritanya ringan dan mudah dicerna. Semuanya mengisahakn tentang kehidupannya kerja di kedai kopi di Arab. Bagaimana kisahnya ngelamar kerja jadi TKI sampai pengumuman diterima yang sangat mendadak. Vibi, panggilan tokoh dalam cerita itu, ditempatkan di Damman. Sebuah kota yang diketahuinya d...

Terinsiprasi dari Lirik lagunya Om Ebit G Ade

‘Masih adakah cinta yang disebutkan cinta bila kasih sayang kehilangan makna’ Simple, tapi penuh makna. Indah dan dalam. Sebuah lirik dari Ebit G Ade yang mampu menggetarkan hati. sebuah lirik akan diartikan bermacam-macam oleh pendengarnya. Tergantung dari sudut mana melihatnya. Lirik lagu pria era orde lama ini semuanya sarat makna. Puitis dan indah. Mulai dari lagu cinta, patah hati, lagu kemanusiaan hingga lagu religi yang dikemas dalam musik khas Ebit. Suara dan nada yang bisa membuat setiap orang yang mendengarnya tergetar.  Kekhasan suara dan nadanya membuat siapa saja yang mendengar akan langsung tahu kalau itu musiknya Om Ebit. Lirik puitis yang mendalam selalu menyiratkan berjuta makna. Seperti lirik yang menarik tentang cinta, kasih sayang dan makna yang dilantunkan Om Ebit dalam sebuah lagunya. Kasih sayang adalah landasan dari cinta. Cinta takkan terasa indah tanpa kasih sayang. Kasih sayang kehilangan makna, inilah yang membuat banyaknya tindakan yang menagata...

PKH day guys

Hari ketiga pencairan PKH (Program Keluarga Harapan), dana bantuan dari pemerintah untuk warga miskin. Pertama kali masuk di bank ini, langsung disodori program baru ini sehingga udah nggak asing lagi program yang banyak cerita ini. Sebelum dipindah ke Unit Masbagik, Unit Gunung Sari Lombok Barat juga melayani program dari dinas sosial ini. Pertama kali menerima SK penempatan untuk orientasi, kami disiapkan untuk pembukaan rekening PKH yang bejibun. Ketika itu aku masih berada di wilayah Cabang Mataram karena ikut seleksi lewat Cabang Mataram dan mendapat penempatan di Gunung Sari, wilayah Lombok Barat. Kementrian sosial bekerja sama dengan instansi tempatku bergabung saat ini untuk mencairkan dana bantuan berupa uang yang banyak disebut BLT (Bantuan langsung Tunai). Jumlah uang yang diberikan disesuaikan dengan jumlah tanggungan dalam keluarga dari segi pendidikan anak sesuai dengan wajib belajar sembilan tahun. Berapa banyak tanggungan anak sekolah yang masih berada pada area ...

First Dream

Session 2 Sederet mimpi muncul di benakku, seperti malam-malam biasanya. Kali ini semuanya kembali melayang-layang di angan yang membuatku tak bisa tidur.  Sekolah lagi untuk jadi dosen, punya usaha dan menjadi penulis. Belum ada satupun yang memiliki langkah pasti. Hanya sebuah pekerjaan yang sekarang kujalani menjadi langkah awal untuk bisa mewujudkan mimpi sekolah lagi dengan menabung. Namun, belum ada persiapan apapun untuk ke arah sana. Bahkan mencari lowongan beasiswa pun belum, hanya sekedar melihat-lihat saja. Kata orang kantor, “Buat apa sekolah lagi? Nggak ada gunanya, nggak naikin jabatan kecuali PNS” “Tapi itu mimpi saya mas” “Lagipula sistem pendidikan kita kan Cuma pake otak kanan aja, nggak berkembang sama aja” Ketika menyinggung sistem pendidikan kita memang benar seperti itu, tapi kalau semua orang berfikiran seperti itu lalu siapa yang mau merubahnya? Siapa yang akan meneruskan cerita pada akademisi? Banyak orang yang menempuh pendidikan tinggi hanya...

3 hati

Bertemu dengan seorang yang terlihat sombong dan angkuh pada kesan pertama. Kami bertemu secara tidak sengaja di Udayana. Aku yang waktu itu bertemu dengan teman yang pernah akan mencarikan kos untukku dan si Mas ini berada di sana juga. Kami hanya kenal sekilas dan tak pernah lagi bertemu setelah itu. Tanpa diduga, kami dipertemukan kembali di Kantor Cabang Selong ketika aku ada pertemuan. Melihat wajahnya, ada bayangan yang bekelebat tentangnya. ‘kayak pernah lihat, dimana ya?’ Ingatanku kembali pada malam itu, malam ketika kami dikenalkan oleh Anggi. Kuhampiri cowok dengan hem kuning dan celana kain yang sedang duduk sambil merokok di depan pintu depan kantor. “Temennya anggi ya?” tanyaku to the point. “Iya, temennya anggi yang ketemu malem-malem itu ya?” ternyata dia masih inget. Aku mengangguk. “Ngapain disini?” tanyaku. “Nggak ada, maen aja. Jadi sopir nih” atasannya yang berada di sampingnya Cuma senyum-senyum. Masih kucoba mengingat siapa namanya tapi tak be...

Hanya aku

Masih belum ada yang berubah sampai hari ini. dinginnya masih belum cair. Kebekuan hatinya masih belum bisa kuketahui. Terjebak dalam sebuah perasaan yang tak pasti, mungkinkah ini hanya sebuah harapan semu yang bahkan tak bisa untuk terwujud. Menunggu sesuatu yang tak pasti dan merefleksikan dalam sebuah rasa yang tak menentu. Bahkan sampai hari ini,detik ini masih saja ada keraguan. Ragu untuk melangkah maju atau mundur dan tak berani menanyakan tentang rasa yang ada dalam dirinya. Rasa yang mungkin aku takut untuk mengetahuinya, aku bahkan belum siap untuk kemungkinan terburuknya. Kemungkinan yang tak pernah kuharapkan dan belum siap untuk kuterima. Mengapa aku selalu sulit untuk mengungkapkan apa yang ada di hatiku? Mengapa terlalu sulit?terlalu sulit untuk diungkapkan karena tak ada signal yang cukup kuat darinya. Kedewasaan dan tanggung jawabnya membuatku tak kuasa untuk menahan rasa yang mungkin seharusnya tak kumiliki. Merasa bodoh atas rasa ini, merasa kerdil dengan ke...