Skip to main content

Dear Mbahnya Anak-Anak

Setiap oran tua memiliki caranya sendiri untuk mendidik anaknya. Mendidik dan mengarahkan anak sebagai pertanggungjawaban atas amanahNya. Membersamai mereka untuk menemukan apa yang mereka sukai dan mendukung setiap kemampuan positif mereka.

Saya adalah tipe ibu yang suka banyak hal baru, saya akan memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mencoba hal baru selama itu psoitif dan tidak terlalu berbahaya. Misalnya menggunakan pisau dan gunting pertama kali sekitar umur 2 tahun. Awalnya, saya kenalkan dulu dengan memperlihatkan padanya cara menggunakannya dengan benar. Setelah itu, memberikan kesempatan kepada mereka untuk mencobanya. Dengan catatan, mereka sudah mulai bisa fokus meski sebentar dan bisa memegang dengan baik.

Semua pekerjaan rumah tangga dan perlengkapan rumah tangga satu per satu saya perkenalkan pada mereka sambil mengerjakannya. Karena dua putri perempuan yang kelak mereka memang harus tahu pekerjaan rumah tangga. Bagi mereka melakukan pekerjaan rumah tangga adalah pengalaman baru. Saya pun tidak serta merta mempercayakan sepenuhnya, hanya sebatas kemampuan dan seberapa yang memang perlu diketahui anak seusianya.

Berada di rumah membuat saya banyak belajar tentang tumbuh kembang anak. Mencontoh yang baik dari pola asuh orang tua terdahulu dan menggantinya apabila sekiranya kurang baik. Seperti kebiasaan memukul kodok pada lantai saat anak jatuh yang ternyata membuat anak cenderung menyalahkan orang lain saat melakukan kesalahan. Hal itu sepele, tapi sudah menjadi kebiasaan sejak kecil. Saya berusaha untuk mengubahnya meski terkadang sulit.

Saat berada di rumah sendiri, memang lebih mudah untuk memberikan pengarahan dan menanamkan aturan disiplin. Namun, saat berada di luar rumah terutama bersama nenek atau kakeknya yang merasa pola didiknya yang terbaik, semua akan berubah. Mereka tidak memberikan kesempatan anak untuk salah sehingga takut anak melakukan hal yang salah yang membuat segala yang dilakukan anak harus yang aman saja. Memegang gunting dan pisau itu tidak diperbolehkan karena berbahaya. Apalagi ikut menggoreng. Katanya takut terciprat minyak, padahal saya sedang mengajarkan padanya cara berhati-hati. Saya pun tidak meninggalkan mereka, saya berada di sampingnya dan terus mengingatkan untuk berhati-hati.

Sebuah transfer kalimat negatif akan membuat saya yang sebenarnya tenang menjadi goyah. Saya yang tadinya percaya menjadi gamang. Selalu saja seperti itu. Membuat pikiran positif berubah menjadi was was. Meski bisa dimengerti karena mereka sayang dan tak ingin terjadi cedera, tapi Nenek juga harus mengetahui tidak ada orang tua yang ingin anaknya celaka. Kami pun sebgai orang tua ingin anak-anak kami menjadi baik.

Khawatir dan berhati-hati berbeda dengan parno. Semua hal yang berlebihan memang tidak baik, termasuk terlalu khawatir sehingga mematikan kreatifitas dan imajinasi anak. Memberikan mereka kepercayaan dengan terlebih dahulu memberikan pengarahan dan mendampingi menjadi pilihan yang tepat untuk mengajarkan anak tentang hal-hal yang sulit dilakukan anak-anak. Mereka pun nanti akan tahu caranya, tapi mengasah kemampuannya sejak dini juga merupakan bagian dari pembelajaran. Melatih fokus, ketelitian, kemampuan menganalisa dan berhati-hati.

Namun, kadang orang tua seperti Kakek atau Nenek tidak mau tahu tentang itu. Mereka memilih untuk tidak memperbolehkannya dengan memberinya gadget yang justru lebih menjerumuskan di masa datang. Pengaruh gadget yang tidak disadari saat ini memang sepertinya memudahkan, bahkan anak-anak dianggap bisa belajar dari gadget dengan berbagai aplikasi untuk belajar. Namun, coba deh perhatiin. Kalau tanpa pendampingan orang tua, pasti tidak akan disentuh semua aplikasi untuk belajar. Mereka lebih suka nonton dan bermain game.

Jadi, cara asuh dan mendidik setiap orang tua berbeda. Meski terlihat membahayakan, yakin deh kalau tidak ada orang tua yang ingin anaknya celaka kecuali dia mempunyai kelainan jiwa atau gangguan psikologi. Bagi saya, anak adalah amanah, jadi saya harus mengajarkan padanya banyak hal dan pengalaman. Bukan hanya mementingkan kenyamanan dan kesenangan, tapi dia harus belajar untuk memahami dan mengenali lingkungannya. Memiliki kemampuan untuk mengetahui keadaan lingkungannya dengan baik merupakan life skill. Jadi, dia memang harus tahu dan mengerti bagaimana berhati-hati dalam menghadapinya. Tantangan membuat anak menjadi lebih semangat untuk menakhlukannya dan memang itulah yang ada pada dirinya.

Saya ibunya, saya tahu persis bagaimana dia karena dalam jiwanya ada jiwa saya. Saya pun tipe orang yang suka dengan tantangan, suka dengan hal baru dan suka belajar sesuatu yang saya anggap menarik. Saya ingin memberikan kesan menyenangkan yang tidak sia-sia untuk anak-anak. Mereka bisa mengekspresikan apa yang mereka rasakan, mengetahui apa yang mereka ingin ketahui dan memberikan ruang untuk mereka berimajinasi. Setiap ibu punya cara sendiri untuk memberikan yang terbaik untuk anaknya.

Jadi, Dear Mbahnya anak-anak, tolong beri kami ruang untuk bisa belajar bersama mereka. Jangan bubuhi kami dengan fikiran negatif kekhawatiran berlebihan yang membuat kami kehilangan kepercayaan diri untuk membersamai mereka. Orang tua butuh kepercayaan diri dan kepercayaan pada anak-anak. Kekhawatiran membuat kami memutus kepercayaan diri anak-anak juga kami sebagai orang tua. Selama tidak melanggar norma dan selama kami tidak memanfaatkan untuk hal yang tidak baik, tolong beri kami ruang dan kepercayaan.


Comments

Popular posts from this blog

Ujung Pertemuan Kita

Mbak Andin.... Jazakumullah Khoiron Katsiron Persahabatan kita membuat banyak kenangan indah. Persahabatan kita membawa banyak kebaikan. Persahabatan kita membuatku banyak belajar.  Aku tahu betapa kau adalah wanita yang luar biasa. Menghadapi banyak hal dengan selalu husznudzon pada Allah SWT, bertumbuh pantang menyerah untuk menjadi lebih baik. Kau yang mengajarkanku untuk menghadapi banyak hal dengan gagah berani. Sekarang ataupun nanti, semua pasti harus dihadapi.  Aku banyak belajar tentang kekuatan menghadapi darimu. Meski pahit, hadapi saja. Minta pertolongan dan kekuatan padaNya, pasti ini juga akan terlewati.  Terimakasih sudah terus saling menguatkan dan menjadi tempat yang nyaman untuk berkeluh kesah. Tak pernah menyalahkan, tapi memahami. Kau tahu, bersahabat denganmu adalah zona nyamanku. Namun, sekarang aku harus siap untuk keluar dari ini. Bukan berarti persahabatan kita akan berakhir, tapi jarak yang membuat kita tak bisa sering bertemu pasti akan membuka ...

Menikmati makan di Tengah Kebun Bambu, rasanya Seperti di Kampung

Siang itu, kami tidak punya tujuan makan siang. Salah seorang dari kami mengajak untuk ke Bonjeruk, begitu tempat makan ini terkenal di kalangan orang-orang. Belum ada diantara kami yang sudah pernah datang untuk makan di tempat yang katanya makanannya cukup khas. Kami mencoba menelusuri menggunakan Gmap dengan petunjuk arah Bonjeruk. Kami menemukan arah menuju Warung Bambu, Desa Wisata Bonjeruk Lombok Tengah.  Perjalanan menuju ke lokasi tidak lebih dari 30 menit perjalanan dengan kecepatan sedang. Bagi kami yang sudah tinggal di Lombok, lokasi ini tidak sulit ditemukan, Namun, bagi pendatang yang menjelajah Lombok sendiri mungkin butuh waktu lebih lama karena harus memperkirakan arah. Namun, google map cukup membantu dan akurat menunjukkan lokasi ini.  Ada 2 lokasi Warung Bambu ini. Kami singgah di lokasi cabang dari warung utamanya. Menurut penuturan karyawannya, di lokasi ini warung hanya buka sampai pukul 18.00 WITA, sedangkan di cabang utamanya buka hingga pukul 21.00 WI...

Menapaki Sembalun, dari Kondangan sampai Sajang Retreat

    Minggu pagi, selepas sholat Subuh, kami menyusuri jalanan Mataram menuju Lombok Timur untuk memenuhi undangan rekan kerja Ayah di Sembalun . Jalanan masih sangat lengang. Belum ada aktifitas yang ramai kecuali pasar. Pasar selalu menjadi tempat paling ramai di pagi hari.  Udar sejuk mengiringi perjaann menuju ke lembah Gunung Rinjani yang menjadi tujuan pendakin bukit maupun gunung. Bukit-bukit di sekitar Rinjani sudah menjadi destinasi wisata yang banyak dikunjungi bagi yang belajar mendaki. Sebelum mendaki Gunung Rinjani, ada bukit Anak Dara , Bukit Gedong , Bukit Pergasingan , Bukit Sempana , Bukit Kondo , Bukit Bao Daya yang bisa dicoba bagi pemula atau yang memang tidak suka bermalam, tapi ingin menikmati keindahan dari atas bukit.  Meninggalkan desa di lereng bukit menuju ke hutan alami dengan monyet di sepanjang jalan yang mencari makan. Kebiaasaan orang lewat memberi mereka makan membuat mereka sering merebut makanan. Hutan yang mereka tinggali tak l...