Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2012

Memoarnya Sidney Sheldon

Buku terbitan Gagas Media ini menarik perhatianku setahun yang lalu waktu main ke Gramedia Surabaya. Namun, karena udah banyak buku yang kugenggam dan budget nggak cukup kalau harus tambah buku lagi jadi buku itu masuk dalam daftar tunggu buku yang akan kubeli besok. Dan ternyata waktu engok Toko Buku Erlangga di Mataram, buku daftar tunggu paling atas itu ada di depan mata. I've got it. Yeay. Membaca buku terjemahan itu memang sensasinya beda, memoar seorang penulis cerita fiksi pembunuhan. Saya suka gaya bahasa Shidney dalam memaparkan detail kejadiannya. Sejak sering membaca cerita ceritanya yang kutahu dari Mbak Marta, tetanggaku, aku mulai menyukai gaya bahasanya. Shidney memiliki gaya khas dalam pemaparannya, ia memberikan sentuhan mencekam yang kontinyu pada cerita-ceritanya. Tak banyak kisah asmara yang ditampilkan dalam ceritanya. Namun, tak menjadikan karyanya menjadi membosankan. Ia selalu mengunakan setting yang banyak. Seperti karyanya yang misterius menegangkan,...

Sahabatku, Dewo nih

Masih seperti dulu, dia masih seceria dulu. Entah sudah berapa lama tak mendengar suaranya, tak mendengar gelak tawa yang khas dan candaannya yang membuatku lupa akan permasalahan yang sedang kualami. Dulu kami sering komunikasi lewat telfon, sekarang sudah sangat jarang. Tak seperti dulu yang paling nggak dua bulan sekali kami pasti telfon-telfonan sekedar menceritakan apa yang kami alami di tempat kami saat itu. Persahabatan kami terjalin sejak kami duduk di bangku SD. Damar Sadewo Adi namanya, tapi aku memanggilnya Dewo. Ada juga yang manggilnya Ambon karena mirip orang Ambon yang imut (item mutlak). Dewo sebulan lebih tua dariku dan kami tinggal di satu desa. Waktu Taman Kanak-Kanak, kami berada di sekolah yang sama, tapi dia setahun lebih dulu dariku. Waktu itu kami masih tak saling mengenal karena beda kelas. Lulus dari TK, Dewo yang terkenal nakaldi kampungku dimasukkan ke pondok pesantren oleh Bapaknya dengan harapan bisa lebih baik dan nggak nakal lagi. Kenakalan seorang...

Harmoni Alam Perawan Indah Pantae Surga

Minggu, 14 Juli 2012. Dua orang teman datang dari Mataram, mengajakku jalan-jalan melihat indahnya tempat-tempat di Lombok Timur.  "Mau kemana nanti?" pertanyaan yang selalu membuatku speechless. Aku bahkan tak tahu banyak tentang tempat-tempat bagus di Lombok Timur. Namun, ada satu pantai yang pernah kudengar dari obrolan teman-teman katanya bagus. "Pantai Surga katanya bagus, tapi aku nggak tahu jalan" jawabku lewat sms dengan sedikit malas.  "Oke, jam 10 kita dari Mataram. Nanti aku kabarin lagi kalau udah mau sampai rumahmu" "Whatttt???? Jadi? Beneran?" kulirik jam masih jam 8 pagi. Belum nyuci, belum bersih-bersih rumah, belum masak dan belum nepatin janji mau beliin buku buat adekku. *emak lagi ke Surabaya. Segesit mungkin menyelesaikan semua pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum jalan sama mereka. Sudah bisa dipastikan bakalan sampe sore jalan-jalannya. Jam 11 sampai di Lombok Timur, kami ketemu di kantor teman. Berhubu...

Kenangan SYa'banan dan Serabi Ngampin

Sya’ban, menggoreskan kisah tersendiri. Sekitar sepuluh tahun yang lalu, saat aku masih duduk di bangku SMP, kenangan tak terlupakan menjelang Ramadhan di desa kecil di Ambarawa. Tepi Kabupaten Semarang di Jawaa Tengah. Malam itu malam tanggak 15 bulan Sya’ban. Sebuah tradisi menyambut puasa biasanya jalanan rame malam pertengahan bulan Sya’ban itu. mereka menyebutnya Sabanan. kalo Sabanan begini banyak anak muda yang jalan ke kali pancur (seperti kolam terjun kecil di daerah namanya Jambu sekitar 15 km dari rumah). Orang dari berbagai penjuru berdatangan untuk mandi di kali itu. mitosnya mereka yang mandi di kali Pancur itu maka akan cepet dapet jodoh. Banyak orang ingin membuktikan mitos itu sehingga banyak orang berjalan kaki lewat jalan raya menuju kali pancur. Jalan gang masuk rumahku adalah jalan utama Semarang Jogja yang pasti dilewatin mereka yang mau ke kali pancur. Banyak muda-mudi berjalan rombongan. Ingin mmebuktikan bagaimana mitos itu. Kesempatan itu biasa diper...

Cukup Kadang-Kadang aja Gilanya :D

  Meski awalnya merasa kesepian karena nggak ada temen yang nyambung, tapi lama-lama nyambung juga. Satu persatu mulai nambah temen dari kenalan berantai. Salah satunya namanya Esti, kenal dari Anas. Si Anas ini temennya Kian. Kian temennya Ian. nah, si Ian ini sahabatku sejak SMA. Nah lo, bingung kan? Kalo bingung nih tak jelasin sekali lagi. Aku ->>>Ian->>>Kian->>>Anas->>>Esti. Cerita lengkapnya begini, aku sama Ian sahabatan waktu SMA trus kmai beda kampus waktu kuliah. Ian melanjutkan di AMG (Akademi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) di Jawa Barat sana. Nah dia punya sahabat namanya Kian (aku benci mau manggil mereka apa, dipanggil ‘yan’ semuanya nengok jadi kuputuskan untuk tidak memanggil sepenggal nama mereka. Untung kami nggak satu frame, jadi nggak banyak interaksi dengan sebutan sepenggal nama yang merepotkan).  Nah jaman kulaih dulu Ian yang sok idealis nggak mau bikin facebook akhirnya dia pinjem facebook si Kian ini b...

Resensi Buku (again)

Bukunya Valiant Budi langsung menarik perhatianku di Gramedia Surabaya. Tagline nya yang bertuliskan 'Kisah Nyata Seorang Penulis yang Menjadi TKI' membuatku penasaran akan isi buku ini. Buku terbitan Gagas Media sudah bisa ditebak gaya bahasanya. Lugas dan menyenangkan.  Tanpa banyak pertimbangan, aku langsung menyabet buku setebal 441 halaman itu. Gambar tempat kopi simple itu menggodaku terlalu akut hingga aku nggak sanggup meninggalkan buku terbitan Gagas Media di Toko Buku Gramedia ini. Baca lembar pertama.........’Nggak salah langsung jatuh hati’. Novel karya Valian Budi ini gaya bahasanya lugas dan kocak abis. Membacanya kayak kita bener-bener mengalaminya. Jalan ceritanya ringan dan mudah dicerna. Semuanya mengisahakn tentang kehidupannya kerja di kedai kopi di Arab. Bagaimana kisahnya ngelamar kerja jadi TKI sampai pengumuman diterima yang sangat mendadak. Vibi, panggilan tokoh dalam cerita itu, ditempatkan di Damman. Sebuah kota yang diketahuinya d...