Skip to main content

Posts

Still survive

Menjadi seorang ibu yang paling harus disiapkan adalan mental. Banyak wanita bisa mengandung dan melahirkan, tapi tidak semua bisa menjadi seorang ibu. Ibu bukan hanya sekedar seseorang yang memiliki seorang anak. Ibu adalah pelindung, pendidik, pendamping, penyeimbang, pembimbing, dan pemberi contoh. Ibu lebih dari sekedar yang merawat dan membesarkan seorang bayi, tapi ibu adalah pembentuk karakter dan masa depan si buah hati. Tanggumg jawab sebagai ibu bukan hanya pada si buah hati. Namun juga pada Yang Maha Pencipta yang menitipkan makhlukNya sebagai amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di akhirat. Maka memiliki buah hati bukan sekedar menjadi teman hidup tapi juga sebagai sebuah titipan yang harus dipertanggungjawabkan kelak. Meski menjadi ibu yang baik itu relatif,setidaknya kita bisa berusaha untuk selalu belajar menjadi yang lebih baik. Saat si kecil sakit, ibu seperti merasakan sakit yang sama. Bahkan lebih sedih darinya. Ibu akan melakukan segala cara untuk menyembuhkan...

This is Me

Keadaan sudah banyak berubah. Tak lagi seperti dulu yang bisa menargetkan semuanya tanpa banyak pertimbangan. Kini, apapun yang akan kulakukan harus dengan lebih banyak pertimbangan karena ada yang bergantung padaku sebagai kewajiban sebagai umatNya yang hidup berpasang-pasangan dalam sebuah keluarga. Yah, sebagai istri dan ibu, aku sudah tak bisa lagi egois memikirkan diriku sendiri dalam menggapai cita. Aku harus memikirkan masa depan putri kecilku dan keluarga kecilku bersama suami. Meski pesimis untuk bisa melanjutkan pasca sarjana, tapi aku masih sangat ingin mewujudkannya. Bagi sebagian orang, melanjutkan pasca sarjana adalah hal yang mudah, tapi bagiku ini tak mudah. Aku harus mempertimbangkan masalah biaya dan memikirkan adik bungsuku yang masih sekolah ketika itu. Ingin membantu membiayai sekolahnya dan meringankan beban kedua orang tuaku karena sebuah peristiwa yang membuat kami tak lagi tinggal di Ambarawa. Aku nggak bisa egois. Setelah dua tahun, cita itu kembali muncul d...

Sebuah Bahagia

Menjadi seorang ibu dari seorang bayi perempuan mungil adalah aku sekarang. Istri dan ibu, bukanlah sosok yang bisa disepelekan. Baru satu anak saja sudah seperti ini repotnya, apalagi memiliki banyak anak. Namun, inilah hidup. Kita harus selalu belajar untuk menjadi lebih baik dan menjadi lebih dalam banyak hal. Tak bisa berhenti di satu titik saja dan menjadi seperti itu terus menerus. Kehadiran si kecil membuat keluarga kami menjadi terasa lebih lengkap meski banyak yang harus kupelajari Banyak yang aku masih belum mengerti tentang mengurus bayi, tapi aku terus berusaha belajar untuk bisa menjadi ibu yang baik. Kami, keluarga kecil kami sedang berusaha untuk menjadi yang terbaik baginya. Membangun sebuah keluarga kecil yang diridhoiNya. Selamat menjadi bagian dari hidup kami, sayang. Semoga Ayah dan Bunda bisa menjadi yang terbaik untukmu, menuntunmu ke jalan yang benar dan selalu berada di jalan ridhoNya. Berharap kau bisa tumbuh menjadi seorang gadis sholehah yang cerdas, ...

With My Nada

Aku sudah menjadi ibu, yah seorang ibu. Waktu berjalan begitu cepat. Rasanya  baru kemarin aku masih kuliah dan menghabiskan banyak waktu untuk bermain dan bekerja. Sekarang sudah bertambah lagi tanggung jawab tepat di sembilan bulan usia pernikahanku. Belajar menjadi istri sekaligus ibu di waktu singkat. Tak mudah, tapi aku pasti bisa.  Belajar menjadi ibu tak semudah yang dibayangkan. Banyak yang masih harus kupelajari. Memiliki seorang bayi membuat banyak pekerjaan tak tersentuh dan akhirnya harus meminta bantuan pada orang lain. Untungnya masih ada ibu dan mertua yang membantu meringakan karena si kecil masih belum bisa disambi mengerjakan pekerjaan lain. Tadinya aku selalu bisa membuat sarapan pagi buat suami, sekarang harus kelabakan kadang tak menyentuh sama sekali. Tadinya aku bisa menyetrika semua baju dalam waktu singkat sekarang sama sekali tak bisa menyetrika baju. Ibu mertua mengambil alih hampir semua pekerjaan rumah karena aku tak bisa mengerjakannya lagi. N...

My Baby's Born

Sembilan bulan menunggu kelahiran buah hati pertama kami, akhirnya tanggal 2 November aku pun merasakan kontraksi di kandunganku. Pukul 02.30 pagi, aku merasakan ada kontraksi dibarengi keluar sedikit cairan dari kemaluanku. Segera aku ke kamar mandi untuk mengecek, ternyata ada darah yang keluar. Dokter pernah berpesan padaku kalau ada keluar darah atau cairan yang cukup banyak dari kemaluan segera periksa mungkin saja itu tanda melahirkan. Segera kubangunkan suami untuk memberitahunya kalau sudah ada tanda aku akan melahirkan meski kontraksinya masih lama jaraknya. Meski sudah mendengar beberapa cerita tentang melahirkan, tapi kami masih bingung dengan keadaan ini. Aku pun menelfon ibuku yang ada di Lombok Timur untuk menanyakan apa yang harus kulakukan. Beliau menyarankanku untuk banyak jalan saja, menunggu pagi untuk ke Rumah Sakit karena jarak kontraksinya masih cukup lama. Beliau menyarankan kalau bisa tidur lebih baik aku tidur dulu dan makan yang bisa kumakan untuk tenaga saa...

Mimpi Itu Masih Kuyakini

Bahkan sampai sekarang aku masih berharap bisa kembali melanjutkan pasca sarjana seperti yang kucita-citakan selama ini. Bukan ego, tapi sebuah cita-cita untuk bisa menuntut ilmu setinggi yang kumampu, tapi keadaan yang membuatku masih belum bisa mewujudkan cita-citaku sendiri. Mungkin sebagian orang melanjutkan sekolah itu mudah karena mereka memiliki cukup uang untuk membayar atau banyak yang beruntung mendapatkan beasiswa dengan perjuangannya. Mungkin, kalau tak pernah ada masalah yang terjadi di keluarga kami, aku sudah sejak lulus S1 sudah berburu beasiswa untuk melanjutkan sekolah lagi. Namun, aku tak mau egois. Keluargaku membutuhkanku untuk membantu menguatkan mereka dari sebuah musibah yang menimpa keluarga kami.. Kami bahkan tak pernah tahu kejadian itu sebuah musibah, peringatan atau adzab atas kelalaian kami, tapi yang pasti kami harus berusaha untuk bangkit. Aku pun memutuskan untuk bekerja sementara bisa memulihkan sedikit kondisi keluargaku di pulau eksotis ini sambil...

Tinggal Sebulan

Prediksi dokter, tinggal kira-kira awa November atau kurang lebih sebulan lagi bayi yang ada di rahimku akan lahir. Kami sudah disibukkan dengan persiapan perlengkapan bayi dan menata ulang kamar kami agar nanti nyaman untuknya saat menjadi bagian dari penghuni kamar ini. Segala persiapan dibantu mertua dan orang-orang terdekat kami dengan memberikan masukan sedang dalam proses. Selain persiapan, banyak cerita tentang pengalaman melahirkan yang kudapatkan dari mereka yang pernah merasakannya bermacam-macam. Bukan membuatku menjadi takut, tapi paling tidak aku sudah punya banyak referensi tentang pengalaman melahirkan. Dari cerita melahirkan normal yang mudah sampai cerita melahirkan yang harus melalui induksi dan proses vakum agar bayi cepat keluar. Mulai dari ibuku sendiri yang menceritakan pengalaman melahirkanku yang paling mudah kemudian melahirkan adik keduaku yang harus didorong oleh bidannya karena kehabisan tenaga mengurusku yang baru berumur setahun hingga susahnya melahir...