Skip to main content

Posts

Goes to Kuta Beach, Lombok

Lebaran ketiga, kami tak terlalu direpotkan dengan tradisi sungkeman yang memakan waktu berhari-hari di Pulau ini. Dua hari saja semua sudah selesai kami kunjungi. Saatnya liburan, jalan-jalan ke pantai. Seperti biasa, aku yang memilih lokasi. Yang lain siap ikut aja. Perjalanan dimulai jam 9 pagi dari rumah, kali ini kami nggak cuma berempat, ada empat personel tambahan dari keluarga Aikmel. Enam personel lain termasuk dua anak kecil adik sepupuku, aku dan Raras, adik bungsuku memilih menggunakan sepeda motor untuk bisa lebih puas melihat pemandangan. Kami pun lebih bebas untuk mampir beli jajan. Kami berangkat dari Lombok Timur, sedangkan Pantai Kuta Lombok ada di Lombok Tengah. Pantai yang bersih dan indah kata orang-orang, selama ini aku hanya lewat di pantai itu. Biasanya perjalanan kami lanjutkan ke Tanjung Aan yang berada di sebelah kiri Pantai Kuta, tapi kali ini aku ingin menikmati Kuta seutuhnya. Walaupun katanya ada juga pantai indah di sebelah kanan pantai ini, Selong ...

Rumputku sama Hijaunya dg Rumput Tetangga

Takkan pernah habis kalau kita terus melihat ke ladang dan rumput tetangga karena keinginan itu tak ada batasnya. Namun, kemampuan yang membatasi keinginan sehingga menjadi kebutuhan. Satu persatu mulai terselesaikan, tinggal menyelesaikan yang kecil-kecil di sekitar kita. Rezeki sudah diatur dengan indah olehNya, kenapa harus khawatir dan takut? Mungkin dari sinilah kita kembali menjadi fitri. Semua harta dan hati menjadi kembali fitri. InsyaAllah... Melihat rumput-rumput itu tumbuh dengan indah dan hijaunya menyejukkan mata, semua orang ingin memilikinya. Namun, mereka tak pernah tahu bagaimana tetangganya memeliharanya sampai tampak begitu indah. Mereka tak pernah tahu kalau tetangganya harus rajin menyiramnya dan memberinya nutrisi cair agar rumputnya tetap hijau dan cantik. Mereka tak pernah memperhatikan bagaimana tetangganya memotong daunnya secara berkala agar tak tumbuh semakin liar dan yang paling penting mereka tak pernah mau tahu bagaimana sulitnya merawat rumput-rumput i...

Tahun Ketiga

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahilhamd Alhamdulillah bisa ketemu Syawal lagi, Happy ied Mubarak everybody :) Semoga barokah Shaumnya. Amiin... Tahun ketiga lebaran di pulau eksotis ini, tahun ketiga pula nggak lebaran bareng dek Ardis. Satu-satunya personel yang paling susah buat ketemu karena kerjaan. Satu-satunya personel yang masih bertahan di Ambarawa nemenin Mbah dan kami sangat merindukannya. Merindukan kebersamaan saat lebaran, merindukan dia ada bersama kami saat bahagia seperti ini. Berkumpul dan tertawa bersama, tapi Allah mengatur semuanya dengan indah, ia ditugaskan menjaga dan menemani Mbah Putri di rumah. Yah, meski sedih karena lebaran ketiga tanpanya yang artinya tiga tahun aku sendiri yang nggak pernah ketemu sama dia. we miss u so much brotha. Seperti kejadian yang sudah-sudah pertanyaan menyebalkan setiap ketemu keluarga adalah soal menikah. Lagi-lagi harus nyengir dan pasang tampang stay cool. "Doanya aja pakdhe, budhe, paman, bibi, mbah...

Bahagia itu Sederhana

Lihat mereka, mereka bahagia dengan hidup mereka. Mereka bahagia dengan apa yang mereka miliki meski orang lain menganggap mereka serba kekurangan. Kekurangan bukan berarti   tak bisa bahagia karena bahagia itu sederhana. Bahagia itu bagaimana kita bersyukur pada apa yang kita miliki, bukan bagaimana memiliki segalanya. Sebuah rumah di pinggir pantai cemara ditinggali sebuah keluarga menjadi satu-satunya penghuni pesisir pantai itu. Sepasang petani rumput laut dengan empat anak mereka yang masih kecil-kecil. Mereka hidup bahagia meski jauh dari perkampungan dengan segala keterbatasan yang ada. Warung terdekat dari tempat itu sekitar 15km. Entah berapa hati sekali mereka pergi ke kota untuk membeli bahan makanan dan berapa banyak uang yang mereka bawa. Tak pernah terlintas di benak kita bagaimana sulitnya jauh dari tetangga, jauh dari tempat belanja dan jauh dari segala kenyamanan yang dibutuhkan setiap kehidupan. Namun, mereka masih bertahan sampai bertahun-tahun hidup dalam ke...

Bromo without Love

Finally, i’ve got holiday. Meskipun tak seperti yang direncanakan, tapi paling tidak aku bisa ketemu bapak nanti. Pengen banget nyekar di makan Mbah Kakung yang belum pernah kukunjungi, tapi sepertinya harus rela pupus karena aku masih belum sanggup melihat Ambarawa seutuhnya. Bukan hanya masalah uang, tapi sepertinya Ambarawa masih menjadi momok yang menyeramkan untukku. Kenangan pahit yang masih tersisa disana masih belum sanggup kurasakan kembali. Semuanya terasa masih begitu menyayat, belum kering luka karenanya. Perjalanan cuti berjalan lancar meski tak seperti rencana awal. Semua tak seperti keinginan untuk pulang dengan senyum dan kebahagiaan. Keberangkatan ke Bromo sengaja untuk mengaburkan rencana cuti pulang yang sebenarnya hanya ingin kumanfaatkan untuk sejenak menenangkan diri di Surabaya. Rencana mampir ke tempat beberapa teman pun sepertinya harus dibatalkan karena waktu yang tak cukup. Kami meluncur dari Lombok tanggal 6 Juni 2013 pagi. Aku, Tami dan Lia memutuska...