Skip to main content

Posts

3 hati

Bertemu dengan seorang yang terlihat sombong dan angkuh pada kesan pertama. Kami bertemu secara tidak sengaja di Udayana. Aku yang waktu itu bertemu dengan teman yang pernah akan mencarikan kos untukku dan si Mas ini berada di sana juga. Kami hanya kenal sekilas dan tak pernah lagi bertemu setelah itu. Tanpa diduga, kami dipertemukan kembali di Kantor Cabang Selong ketika aku ada pertemuan. Melihat wajahnya, ada bayangan yang bekelebat tentangnya. ‘kayak pernah lihat, dimana ya?’ Ingatanku kembali pada malam itu, malam ketika kami dikenalkan oleh Anggi. Kuhampiri cowok dengan hem kuning dan celana kain yang sedang duduk sambil merokok di depan pintu depan kantor. “Temennya anggi ya?” tanyaku to the point. “Iya, temennya anggi yang ketemu malem-malem itu ya?” ternyata dia masih inget. Aku mengangguk. “Ngapain disini?” tanyaku. “Nggak ada, maen aja. Jadi sopir nih” atasannya yang berada di sampingnya Cuma senyum-senyum. Masih kucoba mengingat siapa namanya tapi tak be...

Hanya aku

Masih belum ada yang berubah sampai hari ini. dinginnya masih belum cair. Kebekuan hatinya masih belum bisa kuketahui. Terjebak dalam sebuah perasaan yang tak pasti, mungkinkah ini hanya sebuah harapan semu yang bahkan tak bisa untuk terwujud. Menunggu sesuatu yang tak pasti dan merefleksikan dalam sebuah rasa yang tak menentu. Bahkan sampai hari ini,detik ini masih saja ada keraguan. Ragu untuk melangkah maju atau mundur dan tak berani menanyakan tentang rasa yang ada dalam dirinya. Rasa yang mungkin aku takut untuk mengetahuinya, aku bahkan belum siap untuk kemungkinan terburuknya. Kemungkinan yang tak pernah kuharapkan dan belum siap untuk kuterima. Mengapa aku selalu sulit untuk mengungkapkan apa yang ada di hatiku? Mengapa terlalu sulit?terlalu sulit untuk diungkapkan karena tak ada signal yang cukup kuat darinya. Kedewasaan dan tanggung jawabnya membuatku tak kuasa untuk menahan rasa yang mungkin seharusnya tak kumiliki. Merasa bodoh atas rasa ini, merasa kerdil dengan ke...

Mimpi Tak Seharusnya Menguap

Ku masih terdiam, menghayal. Memberi warna di kehidupanku dengan mimpi dan cita. Tanpa masa depan, takkan pernah ada keinginan dan takkan pernah ada usaha. Menyesali apa yang sudah terjadi itu tak berarti, tapi bermimpi tanpa berusaha itu juga sama tak berartinya. Membuka laptop, menghidupkannya. Memandangi layar untuk beberapa saat. Masih menerawang mimpi dan asa yang bergelayut di benakku. Banyak bayangan berkelebatan yang muncul satu persatu memenuhi otakku, berdesakan mendapatkan ruang terbanyak. Semakin lama, semakin ada yang tersisih dan kumulai menemukan apa yang sebenarnya kuharapkan untukku dan orang-orang yang kusayangi. Mulai kutulis satu persatu apa yang ingin kucapai. Mimpi menjadi penulis, impianku sejak duduk di bangku sekolah. Semua orang bisa menulis, semua orang bisa membuat sebuah rangkaian kata, tetapi tidak semua bisa jadi penulis. Penulis bukanlah bakat, tapi keinginan untuk berbagi.Berbagi cerita, pengalaman hidup dan belajar dari apa yang dialami orang lai...

Berani Hidup maka Hiduplah dengan Berani

Perjalanan menuju gili lampu yang cukup panjang tak membuat jenuh karena pemandangannya yang tak pernah  menjemukan. Hamparan sawah di kaki gunung yang menampakkan keangkuhannya. Sepanjang perjalanan, decak kagum dan syukur yang terucap dari mulut kami. Namun, perhatian kami tiba-tiba tertuju pada sebuah pemandangan yang tak biasa di depan kami. aku yang menjadi penunjuk jalan yang pertama kali memperhatikan sebuah pemandangan aneh di depanku. Dua orang anak muda mengendarai sambil membawa dua karung rumput. Entah mereka bersaudara atau tidak, dua anak laki-laki itu menyita perhatianku yang sedang menikamti pemandangan. Pandanganku tertuju pada mereka. Seorang pemuda yang lenih dewasa darinya mengendarai motor dengan membawa dua kerung rumput. Satu karung rumput ditaruh di depan sedangkan satu karung lagi ditaruh di belakang. Seorang anak kecil sekitar delapan atau sembilan tahunan memeganginya, duduk paling belakang. Laki-laki kecil itu duduk di ujung belakang jok motor, b...

Beliau Saja Masih Bisa Tersenyum

Ada pancaran ketabahan dan ketegaran di garis wajahnya. Candaan yang selalu keluar dari mulutnya membuat semua orang yang ada di sekitarnya merasa bahagia. Tak akan terasa menyenangkan tanpanya, keberadaannya sangat dirindukan. Lagu dangdut masih mengalun dari handphonenya. Sebagai penghibur hati menepis lelah sambil merawat deretan pohon apel bersama pekerja-pekerja yang lain. Mbok Nnem, Mbok Jah dan Pak Dobleh, teman seperjuangannya. Pekerja kebun apel milik Kusuma Agrowisata itu masih terlihat bersemangat meski terik menyengat tubuh mereka. Berbekal topi dan caping mereka melengkungkan cabang-cabang pohon apel sambil bersenda gurau dan bersenandung. Setelah panen raya, pohon-pohon apel yangbiasa berbuah setahun dua kali dipangkas pucuk-pucuknya untuk dihilangkan tunas air dan ranting-ranting yang tak produktif. Ranting-rantingnya dilengkungkan agar tumbuhnya rimbun tak terlalu tinggi karena merupakan lokasi wisata petik. Julmah rantingnya pun dibatasi agar pertumbuhan buahnya m...

Pacaran itu apa sih?

Masih tentang cinta, pacaran adalah kata tabu buatku. Entah karena efek udah lama nggak opacaran atau perbedaan persepsi pacaran. Bukan tidak pernah pacaran, aku pun pernah merasakan yang namanya pacaran. SMA, tempat pertamaku mengenal kata itu, kata yang sangat familiar di telinga, otak dan benak anak-anak muda (walaupun kenyataannya bukan Cuma anak muda aja yang merasakannya). Awalnya aku belum mengerti maksud dan tujuan pacaran sebenarnya. Dalam opiniku, masih tertanam kalau pacaran itu sama aja sama temenan, sahabatan dan sejenisnya. Kenapa harus disebut pacaran kalau sama dengan berteman atau bersahabat. Pertanyaan itulah yang terkadang diinpretasikan salah oleh mereka yang menyebabkan banyaknya kecelakaan tak diinginkan dalam kecelakaan. Pacaran itu kan belum memiliki, pacaran itu kan saling mengenal, kenapa harus memaksakan membedakan status itu dengan cara yang merugikan diri sendiri dan banyak orang. Mungkin aku disebut kolot, atau picik atau mungkin malah jadul, tenta...

Jodoh itu datang dengan cara yang unik

Orangtuaku, misalnya. Tak pernah ada hubungan apa-apa sebelumnya, ibu pun tak pernah tahu perasaan bapak padanya. Ketika bapak sering datang ke rumah untuk sekedar ngobrol, seseorang yang sedang mendekati ibu mulai mengancam akan mencelakai bapak. Ketika keadaan mulai genting karena banyak ancaman dan tekanan, sebuah pertanyaan yang tak pernah terbersit oleh ibu muncul dari mulut eyang kakung pada bapak, “Mau nikah sama anak saya?”. Pertanyaan yang sama sekali tak pernah diduga karena tak ada yang tahu kalau bapak menyimpan perasaan pada ibu. Si dingin yang tak pernah bisa mengungkapkan perasaannya itu menjawab “iya’. Ibu yang ketika itu sedikit kaget dengan jawaban bapak pun menerima pinangan itu. Mereka belajar mencintai, belajar menghargai dan mengerti satu sama lain dalam ikatan suci yang membuat cinta mereka benar-benar tulus. Cinta tumbuh semakin besar seiring bertambahnya umur pernikahan mereka dan keberadaan kami, anak-anak mereka. Cinta mereka benar-benar indah. Sangat t...