Skip to main content

Menemukan cerita di Umarimba

Lombok tak pernah kehabisan cerita untuk memberi cerita Dan kesan yang tak lekang dimakan zaman. Membangun cerita Dan memori baik bersama anak-anak, berfokus pada kami saja dengan mengesampingkan sejenak kebisingan Dan kesibukan. 

Ujung selatan Pulau Lombok menjadi pilihan kami setelah mencari referensi di internet Dan mendengar cerita teman. Umarimba, deretan penginapan yang ada di ujung selatan Pulau Lombok, menjadi tujuan kami setelah melihat review di social media, beberapa orang yang sudah pernah berkunjung kesana.

Tak lupa kami menyiapkan perbekalan yang cukup. Alat Dan bahan untuk grill sudah siap termasuk nasi Dan sayur tambahan seperti selada Dan timun untuk pelengkap nanti. Kalaupun di tengah jalan kami berubah arah, kami sudah tenang karena ada makanan.

Setelah sholat Dzuhur Dan mempertimbangkan banyak hal juga sempat bertanya pada anak-anak karena kami juga mempertimbangkan untuk ke Gili, tapi waktu tak mencukupi kalau memaksakan menyeberang ke Gili di daerah Lombok Utara. Sekaligus mencoba yang belum pernah kami datangi setetelah 2 tahun lebih kami tidak staycation.

Staycaion menjadi salah satu cara kami menikmati kebersamaan dan menciptakan moment manis. Meski dirumah saja kami pun bisa berkumpul, tapi tak dipungkiri kalau banyak distraksi saat berada di rumah. Kami usahakan untuk menikmati moment di luar rumah agar lebih fokus satu sama lain tanpa banyak gangguan Dari urusan domestik maupun anak-anak yang lebih memilih main di luar bersama teman-teman daripada di rumah bersama kami.

Menyiasati bisa berkumpul bersama tanpa banyak gangguan biasanya kami Keluar sekedar makan atau duduk di pinggir pantai. Keluar dari rumah, bekerjsama menyelesaikan masalah, berkomunikasi, diskusi dan mencoba hal baru bersama-sama kemudian beradaptasi untuk bisa menikmati suasana yang sedang dihadapi. Tak selalu nyaman, tapi kita bisa mengusahakan untuk merasa nyaman Dan menyenangkan dengan cara kita.  

Mulai dari merencanakan perjalanan, kami biasakan mengajak anak-anak memberi pendapat lalu musyawarah mufakat dengan ayah menjadi penentu. Anak-anak biasanya banyak menurut asal ada kolam atau bisa main di pantai. 

Sebelum mereka kecewa, kami juga sempat diskusi kalau memang nanti tidak menemukan harga yang sesuai di kantong, mungkin hanya berenang saja karena ada kebutuhan lain yang lebih prioritas. Membiasakan mereka menerima hasil diskusi, mendengarkan pendapat orang lain juga mengutarakan pendapat menjadi bagian yang penting dan menyenangkan setiap kali kami merencakan liburan. Termasuk menyikapi rasa kecewa kalau saja Allah SWT tidak berkehendak dengan rencana yang sudah dibuat. 



Jalan Paving menuju penginapan yang ada di balik Bukit Tunak

Saya menghubungi admin Umarimba Dari social media Dan diberikan penjelasan kalau bisa mengambil paket half day (6 jam pemakaian) untuk kamar yang sedang free hari itu. Kamar yang free berupa bungallow.

Namun, saat cek aplikasi Agoda, hari itu sedang ada diskon untuk kamar dengan tipe Superior. Kami hanya membayar harga yang cukup terjangkau untuk menginap. Sambil menikmati perjalanan melewati bypass Mataram - Bandara International Lombok, aku pun memutuskan membayar saja pemesanan kamar di Agoda atas persetujuan suami.

Melewati Bandara Internasional Lombok kami menyusuri jalan menuju kawasan Pantai Bumbang. Melewati pantai yang cantik Dan bersih dengan pemanangan tambak-tambak. Jelas teriknya udara di luar sehingga pantai terlihat sangat cantik Dan cerah. Pantulan panas mentari menciptakan keindahan di mata siapapun yang melihatnya. Mengagumi ciptaan-Nya.

Saya mendapatkan harga Rp 637.000,- untuk jenis kamar Coastal Coast di Agoda mendekati last minute check in. Sedang untuk harga half day jenis kamar Wild Coast sebesar Rp 600.000,-/ 6 jam. Mempertimbangkan perjalanan yang cukup jauh dari pusat Kuta Mandalika, keputusan kami sudah tepat untuk menginap.
 

Perjalanan menyusuri pinggir pantai sebelum memutar ke TWA Tunak 





Beberapa papan informasi tempat wisata dipasang di sepanjang jalan TWA Tunak menuju ke lokasi Penginapan dengan jalan paving yang rapi.
Jalan aspal yang Masih bagus dalam kawasan TWA Tunak



Pepohonan dibiarkan tumbuh rimbun, tapi kemarau panjan membuat rantingnya banyak berguguran. Pinggir jalan dipenuhi belukar. Berbeda Dari 4 tahun lalu kami datangi dengan kondisi yang lebih rapi Dan terawat.


Dari TWA Tunak menuju lokasi Penginapan didominasi jalan paving rapi dengan beberapa informasi alternatif tempat wisata lain di papan yang terpasang di tepi jalan

Setelah melewati pinggir pantai yang cantik, kami berbelok ke jalan paving menuju penginapan di balik bukit. Kami melewati jalan meligkar untuk sampai di balik bukit, memasuki TWA Tunak. Kawasan Taman Wisata Alam ini dibiarkan liar, tak terawat. Jalanan terlihat kotor dengan daun dan ranting yang berguguran . Gambaran alam yang dibiarkan alami, terlihat gersang, tapi tetap ada yang masih terus bertahan untuk menaungi. 

Ada penangkaran kupu-kupu yang jaringnya sudah bolong sana-sini, tentu sudah tidak ada kupu-kupu yang bisa dilihat beraneka ragam di dalamnya. Taman yang dibuat di sekitarnya pun penuh daun dan ranting jatuh dan benar-benar tidak terawat. Dibiarkan seperti apa adanya.

Kami pernah datan kesini beberapa tahun yang lalu saat sausananya masih lebih teraawat dan mencoba mencari jalan menuju ujung jalan yang ada, tapi berputar kembali karena jalanannya terlalu berbatu dan teral.

Ternyata jalanan itu yang sekarang kami lewati menuju peninapan yang sudah dibuat paving blok. Ada sebuah tempat parkir terbengkalai di sebelah kiri jalan, mungkin pantai terbuka itu dulu pernah ramai dikunjungi, tapi sekarang dibuat kawasan penginapan yang cantik.


Benar saja, jalan menuju lokasi penginapan tidak mudah dan jauh dari keramian seperti yang sudah diinformasikan oleh admin. Kami diberikan arahan menuju lokasi dengan memberi informasi kalau jalannya tidak mulus, semakin dekat lokasi penginapa jalannya didominasi jalan paving dan tanah, tapi mereka memastikan kalau jalan tersebut aman karena banyak pengunjung juga melewatinya.

Menapaki perjalanan yang tidak mudah, justru membuat kami merasakan pengalaman baru yang kami dapatkan. Kami lebih sering mencari penginapan yang ada di dekat tempat makan atau bisa mencari hiburan di malam hari seperti di Gili Trawangan Dan kawasan Kuta Mandalika. 


Penghujung perjalanan kami pun Masih sempat ragu meski sudah ada penunjuk arah menuju Umarimba belok ke kiri. Tidak seperti gerbang penginapan pada umumnya, tempat masuk menuju parkiran tidak ada tulisan ataupun papan penanda sampai di Umarimba. Ada pos satpam yang terbengkalai Dan kami memastikan pada seorang yang sedang ada disana. Jalannya pun tidak mulus, tapi kami melihat deretan kamar di sepanjang pantai. 






Suasana sore di Umarimba 

Semua kamar menghadapi ke pantai

Duduk di depan kamar menikmati pemandangan pantai di pagi hari

Pantai dengan pasir putih yang sebesar biji merica

Deretan kamar berjajar dengan ocean view





Baru pertama kali kami melakukan stay cation yang letak kamarnya persis di pinggir pantai. Suara deburan ombak membuat rasa yang berbeda, meski ada was was mendengar gemuruh ombak yang mirip suara gempa. 

Sebelum berangkat saya sudah menyiapkan bekal yang cukup untuk kami bisa makan karena kami belum tau kemana tujuan kami. Berada di tempat yang jauh dari kermaian dan orang jualan, kami tetap bisa kenyang karena perbekalan yang cukup. Terbiasa pergi tanpa tujuan jelas, kami terbiasa siap  mengadapi berbagai kemungkinan.

Sudah lama anak-anak tidak kami aak staycation arena kesibukan dan kebutuhan yang lebih prioritas. Berjalan ke pantai, sekedar berenang atau makan di tempat baru yang jauh dari rumah menjadi cara kami untuk membangun bonding denga anak-anak.

Menikmati pantai yang sepi, kami makan beka di pinggir pantai. Nada belajar fotografi, Melody asik main pasir berlarian sambil main air pantai yang mulai surut jauh dari bibir patai. Saya mempersiapkan grill untuk makan agar sebelum berenang nanti, perut mereka sudah terisi. 


Selesai sholat maghrib, kami berenang di depan resto. Hanya ada 3 orang di resto, tempat ini sepertinya memang benar-benar untuk menikmati ketenangan. Yang berenang hanya saya dan anak-anak. Kolam hanya ada kami, sedang resto hanya ada 3 orang sedang menikmati kopi.

 Ayahnya anak-anak memilih duduk di teras menikmati angin pantai yang makin malam terasa menyejukkan. Panas terik berubah menjadi sejuk dengan suara deburan ombak membentur pasir putih dengan butiran besar sebesar biji kemiri, khas pantai daerah selta Pulau Lombok.

Semakin larut, suasana menjadi semakin terasa sunyi. Kami berada di ujung selatan Pulau Lombok, jauh dari keramaian, bahkan toko terdekat hanya ada 20 menit perjalanan melewati hutan asli ke daerah Mandalika. Malam menjadi waktu yang sangat tenang untuk refleksi. Bukan untuk merasa sendiri, tapi untuk kembali mengenal diri dan mengingat tujuan yang mungkin sempat goyah karena keadaan lingkungan. 

Malam terasa sangat tenang, menepis sejenak berisik di kepala. Kami duduk berdua di teras membicarakan banyak hal. Tentang kami, sebagai orang tua dan sebagai hambaNya yang memiliki peran di dunia. Kami juga sekali waktu menyempatkan untuk ngobrol berdua

Kesibukan yang menuntut kami untuk selalu bergerak cepat mengikuti zaman membuat kami menjadi cepat lelah. Tuntutan untuk bisa berjalan mengikuti tuntutan sekitar membuat kami mudah tersulut emosi. Rasa itu yang kini sedang kami rasakan, rasa itu yang kini kami tepiskan, mengesampingkan sejenak, kembali menemukan kami, kembali menemukan energi untuk menghadapinya lagi.

Esoknya, matahari menyingsing perlahan, membawa kembali hangat yang semakin meninggi suhunya. Kami sempat renang sebentar untuk bisa merelakskan badan setelah sarapan. Anak-anak menikmati bereang di udara pagi yang hangat. Alhmdulillah. Rasanya begitu menyearkan, siap kembali ke aktifitas dan kewajiban. Kembali mengumpulkan pahala untuk pertanggungjawaban.




Melewati hutan, menyibak kesunyian kembali ke hiruk pikuk Dan kesibukan perkotaan.

Kami belajar untuk mengambil jeda, tidak semua hal harus segera dilakukan. Megambil jeda itu perlu untuk kembali mendapatkan energi berjalan jauh. 

Umarimba memberi kamienergi baru yang cukup dan memberi kesempatan kepada kami untuk refleksi. Mengenal kembali diri kami yang sempat gamang, merenung menemukan kembali tujuan. Mengajak anak-anak melihat sisi kehidupan yang terkadang harus jauh dari keramaian untuk bisa mendengar sisi terdalam dari dalam diri. Bukan untuk menghindar dari masalah, tapi untuk kembali menemukan diri yang lelah berjalan jauh.  

Jalan yang kami lalui tak selalu mudah, tapi kami tau kalau kami akan mencapai tujuan. 

Anak-anak yang tak mudah mengeluh kami bawa kemana saja. Mereka selalu menikmati setiap Kali mengajak mereka ke tempat baru. Menikmati kebersamaan, 


_Cerita Venti_


Comments

Popular posts from this blog

Barima (Membaca Nyaring Bersama) Menjadi Ajang Silaturahmi Member Lora di Perpustakaan dan Taman Baca

  Barima bersama adik-adik SDI Bidayatul Hidayah di Perpustakaan Kota Mataram Barima di Perpustakaa Kota Mataram bersama Member Lombok Read Aloud Barima di Pusda Lombok Timur Read Aloud Lombok menjadi komunitas kedua yang membuatku kembali menemukan rumah. Mendapati teman-teman yang luar biasa di dunia nyata, mendapati teman-teman yang punya semangat bermanfaat yang tak kenal lelah membuat saya semakin semangat.  Barima, Membaca Nyaring Bersama menjadi ajang kumpul para member Lombok Read Aloud di Perpustakaan. Ada di Perpustakaan Daerah di Lombok Timur dan Perpustakaan Kota di Mataram. Setiap dua kali dalam satu bulan, kegiatan tersebut rutin dilakukan.  Tujuan kami adalah mengajak lebih banyak orang tua untuk membacakan buku pada anak-anaknya, merasakan manfaat membaca nyaring untuk peningkatan minat baca anak, literasi anak dan bonding dengan anak. Manfaat membaca nyaring bisa dirasakan lebih banyak orang, bisa menyebarkan kebaikan ke lebih banyak orang dan yang pentin...

Yant Sorghum, Pioneer Budidaya dan Olahan Sorgum di NTB

  Sorgum merupakan sebuah tanaman lahan kering yang kaya manfaat. Namun, tanaman ini kurang dibudidayakan karena dirasa kurang menjanjikan. Sorgum  ( Sorghum bicolor (L .) Moench ) termasuk famili Graminae (Poaceae )   ini sebenarnya sudah dikenal sejak zaman nenek moyang kita, tapi tidak banyak yang memanfaatkannya. Bahkan di Lombok pun hanya digunakan sebagai pakan ternak sehingga tidak banyak petani yang tertarik untuk membudidayakannya. Tanaman ini tidak sulit dibudidayakan sebab merupakan tanaman lahan kering yang cocok dengan lahan pertanian yang ada di beberapa daerah di Pulau Lombok. Namun, karena hanya biasa dimanfaatkan untuk pakan ternak, tidak banyak petani yang membudidayakannya.     Peluang ini dilihat oleh Ibu Nur Rahmi Yanti. Seorang penyuluh pertanian lulusan Universitas Mataram ini memulai pengembangan budidaya sorgum di Lombok. Melihat manfaat sorgum dan ingin mencari sesuatu yang baru untuk diproduksi, Ibu Yanti mencoba untuk mengembangka...

Resume Kajian Peran Orang Tua dalam Peguatan Pola Pengasuhan di Era Digital oleh Ustadz Lalu Yulhaidir

Hari Sabtu, 19 November 2022 Majelis Taklim Al Mahabbah di bawah Komite Sekolah SDIT Fauziah Yarsi Mataram menyelenggarakan Kajian dan Parenting untuk Wali Murid dan Pengajar di lingkungan sekolah Tema yang diusung adalah Peran Orang Tua dalam Penguatan Pola Asuh di Era Digital yang disampaikan oleh Ustadz Lalu Yulhaidir, M, Psi (Psikolog). Ilmu Psikologi itu penting dalam mendidik anak karena merupakan seni dasar dalam membersamai anak-anak. Saat memahami psikologi, akan lebih mudah melakukan pendekatan dan penanganan terhadap suatu permasalahan pada anak. bahkan dr. Adian Hasan pernah mengatakan kalau psikologi adalah keharusan.  Era Digital yang semakin menguasai dunia ini memang sudah menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Banyak hal positif dan bermanfaat yang tercipta, tapi banyak juga hal negatif dampak dari Digitalisasi ini. Tinggal bagaimana kita bijaksana dalam memilih langkah atas sebuah tantangan zaman.  Seperti kata Umar Bin Khattab   "Dunia ada di ...