Staycaion menjadi salah satu cara kami menikmati kebersamaan dan menciptakan moment manis. Meski dirumah saja kami pun bisa berkumpul, tapi tak dipungkiri kalau banyak distraksi saat berada di rumah. Kami usahakan untuk menikmati moment di luar rumah agar lebih fokus satu sama lain tanpa banyak gangguan Dari urusan domestik maupun anak-anak yang lebih memilih main di luar bersama teman-teman daripada di rumah bersama kami.
Menyiasati bisa berkumpul bersama tanpa banyak gangguan biasanya kami Keluar sekedar makan atau duduk di pinggir pantai. Keluar dari rumah, bekerjsama menyelesaikan masalah, berkomunikasi, diskusi dan mencoba hal baru bersama-sama kemudian beradaptasi untuk bisa menikmati suasana yang sedang dihadapi. Tak selalu nyaman, tapi kita bisa mengusahakan untuk merasa nyaman Dan menyenangkan dengan cara kita.
Mulai dari merencanakan perjalanan, kami biasakan mengajak anak-anak memberi pendapat lalu musyawarah mufakat dengan ayah menjadi penentu. Anak-anak biasanya banyak menurut asal ada kolam atau bisa main di pantai.
Sebelum mereka kecewa, kami juga sempat diskusi kalau memang nanti tidak menemukan harga yang sesuai di kantong, mungkin hanya berenang saja karena ada kebutuhan lain yang lebih prioritas. Membiasakan mereka menerima hasil diskusi, mendengarkan pendapat orang lain juga mengutarakan pendapat menjadi bagian yang penting dan menyenangkan setiap kali kami merencakan liburan. Termasuk menyikapi rasa kecewa kalau saja Allah SWT tidak berkehendak dengan rencana yang sudah dibuat.
![]() |
| Suasana sore di Umarimba |
![]() |
| Semua kamar menghadapi ke pantai |
![]() |
| Duduk di depan kamar menikmati pemandangan pantai di pagi hari |
![]() |
| Pantai dengan pasir putih yang sebesar biji merica |
![]() |
| Deretan kamar berjajar dengan ocean view |
Baru pertama kali kami melakukan stay cation yang letak kamarnya persis di pinggir pantai. Suara deburan ombak membuat rasa yang berbeda, meski ada was was mendengar gemuruh ombak yang mirip suara gempa.
Sebelum berangkat saya sudah menyiapkan bekal yang cukup untuk kami bisa makan karena kami belum tau kemana tujuan kami. Berada di tempat yang jauh dari kermaian dan orang jualan, kami tetap bisa kenyang karena perbekalan yang cukup. Terbiasa pergi tanpa tujuan jelas, kami terbiasa siap mengadapi berbagai kemungkinan.
Sudah lama anak-anak tidak kami aak staycation arena kesibukan dan kebutuhan yang lebih prioritas. Berjalan ke pantai, sekedar berenang atau makan di tempat baru yang jauh dari rumah menjadi cara kami untuk membangun bonding denga anak-anak.
Menikmati pantai yang sepi, kami makan beka di pinggir pantai. Nada belajar fotografi, Melody asik main pasir berlarian sambil main air pantai yang mulai surut jauh dari bibir patai. Saya mempersiapkan grill untuk makan agar sebelum berenang nanti, perut mereka sudah terisi.
Selesai sholat maghrib, kami berenang di depan resto. Hanya ada 3 orang di resto, tempat ini sepertinya memang benar-benar untuk menikmati ketenangan. Yang berenang hanya saya dan anak-anak. Kolam hanya ada kami, sedang resto hanya ada 3 orang sedang menikmati kopi.
Ayahnya anak-anak memilih duduk di teras menikmati angin pantai yang makin malam terasa menyejukkan. Panas terik berubah menjadi sejuk dengan suara deburan ombak membentur pasir putih dengan butiran besar sebesar biji kemiri, khas pantai daerah selta Pulau Lombok.
Semakin larut, suasana menjadi semakin terasa sunyi. Kami berada di ujung selatan Pulau Lombok, jauh dari keramaian, bahkan toko terdekat hanya ada 20 menit perjalanan melewati hutan asli ke daerah Mandalika. Malam menjadi waktu yang sangat tenang untuk refleksi. Bukan untuk merasa sendiri, tapi untuk kembali mengenal diri dan mengingat tujuan yang mungkin sempat goyah karena keadaan lingkungan.
Malam terasa sangat tenang, menepis sejenak berisik di kepala. Kami duduk berdua di teras membicarakan banyak hal. Tentang kami, sebagai orang tua dan sebagai hambaNya yang memiliki peran di dunia. Kami juga sekali waktu menyempatkan untuk ngobrol berdua
Kesibukan yang menuntut kami untuk selalu bergerak cepat mengikuti zaman membuat kami menjadi cepat lelah. Tuntutan untuk bisa berjalan mengikuti tuntutan sekitar membuat kami mudah tersulut emosi. Rasa itu yang kini sedang kami rasakan, rasa itu yang kini kami tepiskan, mengesampingkan sejenak, kembali menemukan kami, kembali menemukan energi untuk menghadapinya lagi.
Esoknya, matahari menyingsing perlahan, membawa kembali hangat yang semakin meninggi suhunya. Kami sempat renang sebentar untuk bisa merelakskan badan setelah sarapan. Anak-anak menikmati bereang di udara pagi yang hangat. Alhmdulillah. Rasanya begitu menyearkan, siap kembali ke aktifitas dan kewajiban. Kembali mengumpulkan pahala untuk pertanggungjawaban.
Melewati hutan, menyibak kesunyian kembali ke hiruk pikuk Dan kesibukan perkotaan.
Kami belajar untuk mengambil jeda, tidak semua hal harus segera dilakukan. Megambil jeda itu perlu untuk kembali mendapatkan energi berjalan jauh.
Umarimba memberi kamienergi baru yang cukup dan memberi kesempatan kepada kami untuk refleksi. Mengenal kembali diri kami yang sempat gamang, merenung menemukan kembali tujuan. Mengajak anak-anak melihat sisi kehidupan yang terkadang harus jauh dari keramaian untuk bisa mendengar sisi terdalam dari dalam diri. Bukan untuk menghindar dari masalah, tapi untuk kembali menemukan diri yang lelah berjalan jauh.
Jalan yang kami lalui tak selalu mudah, tapi kami tau kalau kami akan mencapai tujuan.
Anak-anak yang tak mudah mengeluh kami bawa kemana saja. Mereka selalu menikmati setiap Kali mengajak mereka ke tempat baru. Menikmati kebersamaan,
_Cerita Venti_














Comments
Post a Comment