Skip to main content

Menutup 2025 dengan memulai kegiatan Rumah Peradaban Pagutan (lagi)




Rumah Peradaban Pagutan sudah lama hibernasi. Sejak mertua sakit dan butuh banyak perhatian, saya jarang mengadakan kegiatan di Ruamah Peradaban. Bu RT mengajak kami untuk mengadakan kegiatan anak-anak seperti tahun lalu. Kami mengadakan kemah di akhir tahun sambil mengadakan kegiatan Rumah Peradaban.

Akhir tahun 2025 kami tutup dengan kenangan manis sambil menyambut peringatan hari Ibu. Tidak ada proyektor karena sedang dipinjam, jadi kami hanya membaca buku dan bookish play. Berkegiatan bersama Buku dengan alat bahan sederhana.

Sore setelah Ashar, saya dan anak-anak membersihkan ruangan di bawah Musholla lalu membuka dua karpet untuk alas duduk. Mengajak nak-anak duduk dengan menebar buku di atas karpet nyatanya tidak membuat mereka tertarik. Main masih menjadi kegiatan yang lebih menyenangkan.

Tentu kebutuhan gerak anak harus terpenuhi dan memang masanya mereka masih harus banyak bergerak. Saya suka melihat ana-anak main bergerak aktif dibanding hanya main gawai berdiam. Tentu kebiasaan ini tidak akan terjadi bila tidak didukung oleh lingkungan terdekat.

Pandemi mengubah banyak hal. Mengharuskan untuk dekat  dengan gawai, bersahabat dengan teknoogi dan semakin dekat sampai begitu dekat dan mempengaruhi banyak hal. Namun, tak semua orang tua sadar akan hal itu. Mereka menikmati anaknya tenang tanpa drama dengan memilii gadget.

Namun, bagi pegiat literasi seperti kami, ini hal yang menjadi perhatian kami, alasan untuk SNC membuat Rumah Peradaban di banyak titik di Indonesia, salah satunya yang sekarang saya kelola. Mendekatkan buku dengan lingkungan di sekitar. 

Rumah Peradaban ini sempat menjadi tempat yang dekat dan sekarang sedang berusaha membangun kembali keakraban itu. Mendirikan kembali puing-puing kedekataan dengan lingkungan. Sampai bingung memulai darimana. 

Padahal memulainya seperti yang dulu, mulai saja dari yang terdekat yang bisa dilakukan. 

Membaca Nyaring Bersama di Fasum


Awalnya Bu RT mengajak kemah lagi seperti tahun lalu, tapi tidak banyak tanggapan dari ibu-ibu lain. Saya pun mengusulkan untuk kegiatan santai saja. Yang penting kumpul. Mengajak anak-anak mendengarkan baca buku dengan banyak buku baru yang ada.

Kak Ilmi yang rumahnya tidak jauh dari RP, datang membawa buku dan menceritakannya pada anak-anak sebua buku yang sangat menarik yang bercerita tentang hewan laut yang sakit karena makan plastik. 

Setelah membaca buku, kami bookish play dengan wadah berisi air kemudian anak-anak mencari hewan yang disebutkan. Anak-anak ramai berebut mau mengambilnya. Anak-anak kembali main bola dan main sepeda sambil menunggu maghrib. Puding dari salah seorang tetangga dibagikan ke anak-anak menambah kebahagiaan anak-anak. 






Membaca Nyaring lalu Membuat Pohon Harapan


Selesai Sholat Maghrib, kami kembali berkumpul di Fasum untuk makan bersama. Ada nugget donasi dari seorang donatur melalui Bu RT. Selanjutnya, kami membaca buku yang masih berkaitan dengan issue yang sedang menjadi pemberitaan tentan banjir di Aceh dan Sumatera Barat dengan adanya banyak kayu gelondongan yang ikut serta terbawa air bah.

Buku Berjudul "Ini Pohon Kita" menjadi pembuka dialog bersama anak-anak yang ternyata banyak yang peduli dengan berita itu. Dialog tentang alih fungsi lahan menjadi seru, ternyata musibah yang menimpa itu membuat banyak orang belajar. 

Amak-anak bisa diajak diskusi belajar sebab akibat dari banyak hal yang menimpa hingga korban harus direlakan. Mereaka belajar berpikir kritis, tidak semua aturan itu dilakukan dengan serta merta. Harus dipertimbangkan, dipikirkan konsekuensi yang harus diambi dari sebuah keputusan.

Diskusi kami akhiri dengan mmbuat pohon harapan dengan menggunakan karton. Masing-masing anak menuliskan harapannya di sebuah kertas berbentuk daun lalu menempelkan di karton yang sudah diempel kertas marmer coklat berbentuk pohon.

Pohon harapan ditempel di dinding  Fasum ahar terlihat banyak orang dan menjadi pengingat.







Berpindah ke Ruang Terbuka Hijau di Petemon


Minggu pagi kami sepakat untuk bertemu di RTH. Tak hanya anak-anak, kami harap ibu-ibunya bisa ikut sambi olahraga, kami makan bersama dan bermain bebas saja. Kami sempat main Slodor dan lompat tali sebelum makan bersama dan berbagi kesan tentang Ibu menyambut Hari Ibu 22 Desember. 






 Cerita Venti

Comments

Popular posts from this blog

Barima (Membaca Nyaring Bersama) Menjadi Ajang Silaturahmi Member Lora di Perpustakaan dan Taman Baca

  Barima bersama adik-adik SDI Bidayatul Hidayah di Perpustakaan Kota Mataram Barima di Perpustakaa Kota Mataram bersama Member Lombok Read Aloud Barima di Pusda Lombok Timur Read Aloud Lombok menjadi komunitas kedua yang membuatku kembali menemukan rumah. Mendapati teman-teman yang luar biasa di dunia nyata, mendapati teman-teman yang punya semangat bermanfaat yang tak kenal lelah membuat saya semakin semangat.  Barima, Membaca Nyaring Bersama menjadi ajang kumpul para member Lombok Read Aloud di Perpustakaan. Ada di Perpustakaan Daerah di Lombok Timur dan Perpustakaan Kota di Mataram. Setiap dua kali dalam satu bulan, kegiatan tersebut rutin dilakukan.  Tujuan kami adalah mengajak lebih banyak orang tua untuk membacakan buku pada anak-anaknya, merasakan manfaat membaca nyaring untuk peningkatan minat baca anak, literasi anak dan bonding dengan anak. Manfaat membaca nyaring bisa dirasakan lebih banyak orang, bisa menyebarkan kebaikan ke lebih banyak orang dan yang pentin...

Kegiatan Rumah Peradaban Pagutan Bersama Read Aloud

 Rumah Peradaban adalah sebuah wadah yang difasilitasi oleh Spirit Nabawiyah Community untuk lebih banyak orang mengenal siroh melalui buku. Melalui buku, anak-anak bisa belajar banyak hal. Selain memahami isi buku yang dibaca, membawa buku melatih kesabaran, melatih berfikir kritis, melatih menyimpulkan setelah membaca yang berarti bisa memasukkan unsur bijaksana, melihat banyak sudut pandang juga memiliki wawasan yang lebih luas.  Membaca kini sudah tersingkirkan sejak adanya gadget yang membuat anak-anak bisa mendapatkan informasi dengan mudah. Ditambah ketika pandemi, semua harus melalui daring bahkan anak-anak sampai diberikan hanphone sendiri sampai kadang terlewat untuk memantau mereka dan memberikan batasan. Akses gadget tanpa batas membuat anak-anak semakin pasif dalam berinteraksi dengan lingkungan.  Melihat fakta dunia anak sekarang miris sekali rasanaya melihat mereka berkegiatan tanpa ada manfaat dengan gadget. Mereka tenggelam dalam kesenangan tanpa ada gera...

Yant Sorghum, Pioneer Budidaya dan Olahan Sorgum di NTB

  Sorgum merupakan sebuah tanaman lahan kering yang kaya manfaat. Namun, tanaman ini kurang dibudidayakan karena dirasa kurang menjanjikan. Sorgum  ( Sorghum bicolor (L .) Moench ) termasuk famili Graminae (Poaceae )   ini sebenarnya sudah dikenal sejak zaman nenek moyang kita, tapi tidak banyak yang memanfaatkannya. Bahkan di Lombok pun hanya digunakan sebagai pakan ternak sehingga tidak banyak petani yang tertarik untuk membudidayakannya. Tanaman ini tidak sulit dibudidayakan sebab merupakan tanaman lahan kering yang cocok dengan lahan pertanian yang ada di beberapa daerah di Pulau Lombok. Namun, karena hanya biasa dimanfaatkan untuk pakan ternak, tidak banyak petani yang membudidayakannya.     Peluang ini dilihat oleh Ibu Nur Rahmi Yanti. Seorang penyuluh pertanian lulusan Universitas Mataram ini memulai pengembangan budidaya sorgum di Lombok. Melihat manfaat sorgum dan ingin mencari sesuatu yang baru untuk diproduksi, Ibu Yanti mencoba untuk mengembangka...