Menjadi dewasa merupakan proses yang harus dijani dan tidak mudah.untuk dilalui. Menikmati masa anak-anak beranjak dewasa ternyata lelah bukan hanya fisik, tapi juga emosi. Meemaninya makin kritis, sensitif dan banyak keinginan nyatanya tidak mudah.
Salah satu hal yang membua kami sering berselsih paham adaah caran mengutarakan pendapat. Ia memiliki keinginan yang kuat atas sesuatu, ia punya pemikiran, tapi ia menguatarakan dengan nada ketus dan terkadang terkesan membuat orang lain yang paling bersalah dari kasus ini. Mencoba menutupi kesalahan diri dengan mencari kesalahan orang lain dan membuat orang lain lebih bersalah dari diri.
Berkali-kali kami berbeda cara berkomunikasi, berkali pula kami berdebat. Ia ingin segera menyelesaikan masalah meski harus berdebt adu mulut, sedangkan saya harus ambil jeda ketika sedang emosi.
Banyak hal yang akhirnya kami bahas berdua agar kami memiliki saling memahami alasan dari sikap yang kami ambil setiap kali menghadapi sebuah peristiwa. Latar belakang dan contoh yang kami miliki berbeda sehingga kami memiliki cara menyikapi masalah yang berbeda.
Beberapa kali Nada mempermasalahkan caraku menyikapi emosi. Ia lebih ekspresif dan ingin segera divalidasi dan diselesaikan permasalahan seketika. Namun, aku butuh waktu untuk tenang agar bisa menyampaikan maksud dengan baik dan tersampaikan. Emosi akan membuatku tak bisa menyampaikan maksud dengan baik. Perbedaan menyikapi emosi membuat kami sering salah paham. Nada menganggap saya tidak mau bahkan jijik sampai tidak mau mendekat, tapi saya sebenarnya sedang butuh ruang menenangkan diri, validasi emosi diri dan menunggu siap untuk berkomunikasi lagi.
Nada si sanguin yang ekstrovert dan ekspresif. ketidaksukaan dengan hal yang monoton dan teratur membuatnya banyak bergesekan dengan kami. Beberapa kali kami tinggalkan karena belum juga siap ketika kami sudah siap. Ia yang paling tidak suka dengan ketaraturan membuat kami sering bergeseka berujung berdebat.
Disiplin dan teratur memang tidak seharusnya membuat orang menjadi bergerak terbatas, tapi itu sebagai sarana mencintai dan menghargai diri sendiri. Ada beeberapa hal yang bagi saya tidak bisa diperdebatkan seperti sholat tepat waktu, kebersihan diri, menaruh barang kembali di tempatnya, melakukan segala sesuatu sampai tuntas dan tidak menunda prioritas juga tidak menyiakan waktu.
Banyak hal dari beberapa kali kejadian yang membuat kami sama-sama belajar untuk memahami sudut pandang. Sebagai Ibu, saya terkadang terlalu memaksakan apa yang saya yakini berdasar pengalaman saya, tapi saya lupa kalau dia punya alasan yang berbeda dengan saya sekarang. Menjadi ibu, kadang kita lupa bagaimana sudut pandang kita ketika di usia mereka yang sedang bersiap menghadapi pubertas.
Emosinya labil, keinginannya banyak, maunya bersenang-senang. Ia juga masih ada iri dengan adiknya yang merasa diperlakukan lebih speial. Rasa itu muncul ketika saya sedang berusah mendisiplinkaanya. Rasa itu ada ketika perhtian banyak tertuju pada adiknya. Ia merasa segala beban ada padanya, sedang adiknya hanya disayang.
Memberikannya pengertian kalau usia mempengaruhi kematangan dalam berpikir dan menerima informasi tentu tidak mudah. Memberi pemahaman kalau mandiri itu adalah hal yang perlu dimilikinya. Kekecewaan pada Ayah yang sering menyalahkannya dan memberikan beban padanya dengan dalih adiknya masih kecil membuatnya jengah, tapi tak bisa mengutarakan pada ayah. Kadang, saya menjadi sampah emosinya ketika ia tak bisa mengatakan pada ayahnya.
Situasi yang sulit memang untuk adil sebagai orang tua, tapi ia harus tahu kalau kasih sayang kami tak pernah berkurang meski mungkin intensitas pelukan itu berkurang. Ia sedang mencari kenyamanan di sekitarnya. Kami sering membiarkannya menerima konsekuensi dari apa yang menjadi pilihannya. Namun, mungkin kami terlewat mevalidasi perasaannya.
Perdebatan diantara kami ternyata ada manfaatnya. Kami menjadi lebih terbuka atas perasaan kami. Rasa penasarannya yang kadang terlalu besar harus belajar untuk diredam. Cara bicaranya yang cenderung ketus, mudah menyalahkan dan selalu mencari kesalahan orang lain tentu tak bisa berubah instant. Saya pun belajar untuk lebih sabar menemaninya berproses dengan karakternya yang berbeda dengan saya. Tidak buru-buru bereaksi, lebih sering memberi pelukan dan memberinya ruang menguarakan isi hati dan tentu saja juga berekspresi. Tentu cara pandang dan pemikirannya juga berbeda. Sudut pandangnya yang kadang berlebihan, berusaha saya tekan, tapi saya juga lupa kalau tak ada yang instant. Semua terbentuk oleh proses dan latihan.
Berproses bersama, menjadi lebih baik bersama. Luka masa lalu orang tua tak perlu diwariskan ke anak.
_Cerita Venti_


Comments
Post a Comment