Skip to main content

Tugas Mading Nada and Friends

 




Menemani Sulung menjejaki setiap fase di tumbuh kemabngnya, rasanya diri ini makin harus lebih banyak belajar. Mendekati puber, ia menjadi lebih sensitif, kritis dan ingin tahu banyak. Mejadi orang tua tentu tak berheni belajar. Setiap mereka tumbuh, terjadi perubahan, disaat itulah kita belajar. 

Saya pernah ada di fase insecure karena si Sulung insecure dengan dirinya yang dirasa kurang dari sisi akademik. Saya tahu dia tidak suka belajar dengan cara diam dan duduk. Ia lebih suka belajar dengan mengamati dan melihat sendiri reaksi yang terjadi kemudian mendengarkan penjelasannya. Menghubungkan satu peristiwa dengan  peristiwa yang lain .

Selain itu, dia suka kegiatan berbabasis project seperti ini. Ia suka berimajiasi, ia suka membuat sesuatu yang lucu dan menarik. Ia punya scrapbook, ia suka memanfaatkan kardus dan kain tak terpakai menjadi sesuatu yang bisa digunakan kembali.

Sekarang, tugas Pancasila yang membuatnya ekcited. Project kreatif membuat presentasi tentang keberagama budaya di Indonesia. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, bebas siswa sendiri yang menentukan kelompoknya karena berkaitan dengan kemudahan akses komunikasi dan kerja kelompok. 

Nada sangat bersemangat. Ia yang mencari konsep mading yang akan mereka kerjakan. Melalui whatsap Group yang mereka miliki dan internet, mereka mecari ide konsep dan segala yang berhubungan dengan tugasnya selain juga berpegang pada buku pelajaran sesuai arahan Ustadzah. Tidak ada campur tangan dari kami sama sekali. Mereka diskusi dan membagi tugas sesuai kemampuan mereka. 

Ada seorang teman yang agak sulit dihubungi karena ibunya sibuk dan dia tidak memiliki nomor whatsapp. Ibunya juga susah kam hubungi sehingga hari pertama dia tidak bisa ikut kumpul. Namun, engan bantuan Ustadzah, hari kedua dia bisa ikut kumpul mengerjakan tugas.

Meski lebih banyak diselingi ngobrol dan main, tapi akhirnya tugas bisa selesai dikerjakan. Nadia, datang membawa hasil print materi atas inisiatifnya sendiri. Untuk menghargai, mereka tetap menempelkan, tapi di bawah seperti rumbai karena tidak sesuai dengan konsep awal mereka.

Selamat presentasi, Nak. Semoga hasilnya memuaskan :)

Di project ini dia membuktikan kalau dia punya banyak kelebihan yatu kreatif, punya jiwa kepemimpinan, menghargai teman, bisa mengkoordinasi teman dan punya rasa percaya diri yag lebih. Kalian luar biasa, Girls. 

Hasil akhir Tugas Mapel Pancasila

Sampai rumah, dia menceritakan pada saya kalau karya kelompok lain sangat sederhana, membuat mading pada umumnya dengan kertas manila yang ditempeli informasi. Kelompok 4 menjdi  yang  paling baik dari segi kreatifias dan konsep mading.  Ada beberapa teman yang memuji karya mereka tapi ada juga yang skeptis. 

Bahkan sempat ada yang melarang kelompok lain saing meniru, ternyata madingnya biasa saja. Anak-anak sedang belajar untuk mengembangkan kreatifita dan menghargai karya orang lain lebih objectif. Tentu tidak semua anak bisa mengakui keunggulan yang lain, apalagi ia merasa lebih. Inilah saatnya Nada menerima berbagai reaksi atas hasil karyanya. Ada yang menyukai, tapi ada juga yang mencibir karena iri dengan mencari celah untuk bisa menjatuhkan menta mereka dengan mengatakan 'lebay'.

Beragamnya reaksi yang timbul tentu menjadi bahan diskusi kami. Tidak perlu berkecil hati, tapi jangan pula sombong. Tanggapi seperlunya, singkirkan yang tidak perlu dan terima masukan yang membangun ddari Ustadzah yang mengatakan kalau Judul Mading nya sebaiknya dicantumkan.

_Cerita Venti_

_Tentang Nada_

Comments

Popular posts from this blog

Menikmati makan di Tengah Kebun Bambu, rasanya Seperti di Kampung

Siang itu, kami tidak punya tujuan makan siang. Salah seorang dari kami mengajak untuk ke Bonjeruk, begitu tempat makan ini terkenal di kalangan orang-orang. Belum ada diantara kami yang sudah pernah datang untuk makan di tempat yang katanya makanannya cukup khas. Kami mencoba menelusuri menggunakan Gmap dengan petunjuk arah Bonjeruk. Kami menemukan arah menuju Warung Bambu, Desa Wisata Bonjeruk Lombok Tengah.  Perjalanan menuju ke lokasi tidak lebih dari 30 menit perjalanan dengan kecepatan sedang. Bagi kami yang sudah tinggal di Lombok, lokasi ini tidak sulit ditemukan, Namun, bagi pendatang yang menjelajah Lombok sendiri mungkin butuh waktu lebih lama karena harus memperkirakan arah. Namun, google map cukup membantu dan akurat menunjukkan lokasi ini.  Ada 2 lokasi Warung Bambu ini. Kami singgah di lokasi cabang dari warung utamanya. Menurut penuturan karyawannya, di lokasi ini warung hanya buka sampai pukul 18.00 WITA, sedangkan di cabang utamanya buka hingga pukul 21.00 WI...

Ujung Pertemuan Kita

Mbak Andin.... Jazakumullah Khoiron Katsiron Persahabatan kita membuat banyak kenangan indah. Persahabatan kita membawa banyak kebaikan. Persahabatan kita membuatku banyak belajar.  Aku tahu betapa kau adalah wanita yang luar biasa. Menghadapi banyak hal dengan selalu husznudzon pada Allah SWT, bertumbuh pantang menyerah untuk menjadi lebih baik. Kau yang mengajarkanku untuk menghadapi banyak hal dengan gagah berani. Sekarang ataupun nanti, semua pasti harus dihadapi.  Aku banyak belajar tentang kekuatan menghadapi darimu. Meski pahit, hadapi saja. Minta pertolongan dan kekuatan padaNya, pasti ini juga akan terlewati.  Terimakasih sudah terus saling menguatkan dan menjadi tempat yang nyaman untuk berkeluh kesah. Tak pernah menyalahkan, tapi memahami. Kau tahu, bersahabat denganmu adalah zona nyamanku. Namun, sekarang aku harus siap untuk keluar dari ini. Bukan berarti persahabatan kita akan berakhir, tapi jarak yang membuat kita tak bisa sering bertemu pasti akan membuka ...

Outbound Aqil Baligh

Usia si sulung sudah 10 tahun. Saatnya kami sebagai orang tua untuk mengenalkan tentang Aqil Baligh. Saat seperti ini, ternyata ada yang membuat sebuah kegiatan yang menyenangkan.  Outbound reflektif aqil baligh yang diselenggarakan oleh Cahaya Bangsa. Sebuah institusi pendidikan yang dididirikan oleh Ustadz Yulhaidir, psikolog anak yang ingin menghadirkan pengalaman menyenangkan pada anak, tapi tetap bermakna sehingga kesan yang tertanam akan terus terngiang lekat dengan makna yang terkandung di dalamnya.  Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 15 Februari 2025 di lingkungan sekolah Cahaya Bangsa yang ada di Lenek, Lombok Timur. Bukan pertama kali, kegiatan seperti ini sering diadakan oleh Cahaya Bangsa sebagai cara untuk menjembatani anak-anak kembali mengenal alam, kembali dekat dengan alam untuk mengembalikan kepekaan pada alam.  Saya dan anak-anak berangkat dengan menggunakan engkel, angkutan umum yang ada di Lombok dari Matara sampai ke Lombok Timur. Sebuah kendaraa...