Skip to main content

Posts

Geliat Tour Travel yang Kembali Padam

Pandemi Covid 19 tidak dipungkiri sangat mempengaruhi pada perekonomian dan beberapa bisnis. Bagi Lombok sendiri, yang sangat terasa adalah mereka yang bergerak di bidang tour  travel. Setelah gempa yang bertubi-tubi di Lombok membuat banyak tempat wisata hancur, mereka yang memiliki jasa perjalanan harus sabar menantikan semua dibangun kembali, meyakinkan para pengunjung kalau Lombok sudah aman untuk dikunjungi. Butuh waktu yang cukup lama untuk memulihkan kembali kepercayaan mereka pada Lombok. Kini, saat banyak orang sudah mulai berdatangan untuk berjunjung, pariwisata kembali menggeliat, justru sebuah peristiwa Internasional kembali mengguncang sektor ini. Pandemi Covid 19 membuat beberapa negara melakukan lock down, tanah air pun melakukan lock down di beberapa daerah, tak terkecual di Lombok. Ada beberapa orang yang termasuk dalam pemantauan, masih belum keluar hasilnya. Namun, kami tetap waspada. Allah bisa saja memberikan penyakit tanpa harus melalui perantara sekalipun. ...

Wabah dan Hikmah

Sebuah wabah yang awalnya hanay ada di satu kota di sebuah negara, Wuhan, Cina, kini sudah menyebar sangat cepat di banyak negara. Banyak kota di beberapa negara melakukan lock down untuk menghentikan penyebaran virus yang sudah menjadi pandemi di dunia. Banyak orang ketakutan, ada yang cemas berlebihan, tapi ada juga yang masih bisa berfikir tenang dengan doa sebagai senjata. Tentu saja dibarengi dengan usaha yang maksimal dengan menjaga kebersihan dan meningkatkan sistem imun tubuh. Covid 19 cukup membuat warga dunia heboh. Banyak petinggi negara yang terjangkit penyakit ini. Meskipun sampai saat ini, 17 Maret 2020 belum ada yang terjangkit di Pulau Lombok, tapi kami tetap waspada. Mengikuti himbauan untuk menghindari keramaian dan kerumunan. Berdiam diri di rumah dan menjaga kesehatan. Tidak ada yang tidak mungkin saat Allah sudah berkehendak. Dibalik seluruh pandemi ini, ada banyak hikmah yang dapat dipetik. Membuat kita lebih dekat dengan keluarga karena bahkan dianjurkan untu...

Libur bukan Liburan

Qodarullah, beberapa bulan terkahir ini dunia sedang diresahkan dengan virus Korona atau serangan virus Covid 19 yang berasal dari Cina. kota Wuhan Cina sudah di lock down  sejak dua bulan yang lalu. Kini, penyebaran virusnya sudah dinyatakan sebagai pandemi karena penyebarannya sangat luas. Beberapa negara sudah melakukan lock down untuk menghentikan penyebarannya. Meski di Nusa Tenggara Barat masih negatif, tapi seluruh sekoalh di Indonesia diliburkan empat belas hari ke depan. Mamak yang awalnya santai jadi ikut was-was dan nggak berani ke tempat keramaian. Mbak Nada bosen di rumah, sampai mau dipompain kolam renang buat berenang di rumah, tapi Emak masih males karena harus beberes sendiri. Mamak bukan males beberesnya, tapi si Mbak bisa berjam-jam berendam dan si adek bakalan ikutan. Kalau ada pasukan yang lain kan satu bisa menangani mereka, yang lain kempesin tuh kolam. Sekarang lebih baik. Sekarang emak harus cari alternatif menghabiskan banyak waktu bersama duo kesayan...

Berubah jadi lebih baik

Ternyata aku belum pernah cerita tentang pengalaman jadi ibu dua anak ya. Alhamdulillah Allah sudah memberi kami amanah dua putri yang insyaAllah akan berusaha kami arahkan menuju jalan ridhoNya. Menuju tahun ke-6 pernikahan kami, banyak hal yang sudah terjadi yang membuat kami terus belajar. Belajar menjadi orang tua, belajar menjadi suami dan istri, menyikapi dan mengkomunikasikan masalah. Awalnya, kami adalah tipe orang yang sama-sama tidak suka berkonflik. Sesekali kami menyampaikan ketidaksukaan kami saat sedang duduk berdua dan dalam keadaan yang sangat nyaman. Mencoba menyampaikan yang ada di hati kami dengan bahasa yang santun agar tidak melukai pasangan. Mencoba merubah pasangan menjadi lebih baik. Memposisikan diri agar sama-sama lebih nyaman. Saling kritik untuk menjadi lebih baik. Tentu sebagai pasangan, kami memiliki masa yang sulit dan masa yang mudah. Sejak memutuskan untuk rumah sendiri, kami justru lebih jarang bertikai karena lebih leluasa mengungkapkan pendap...

Piknikus adalah Kami

Orang jawa mengatakan liburan itu piknik. Salah satu cara menghilangkan bosan dan mempererat bonding keluarga. Ada liburan tipis-tipis bulanan yang biasa kami lakukan dengan melakukan perjalanan tak jauh dari rumah. Beruntungnya kami tinggal di pulau kecil yang cukup cantik. Tak butuh waktu lama untuk bisa menikmati keindahan alam seperti Pantai dan air terjun. Apalagi sekarang banyak tempat makan yang menawarkan suasana pedesaan dan persawahan di pinggiran kota dengan udara yang bersih. Kali ini, kami merencanakan piknik bersama teman-teman. Bukan temanku, teman kantor suami yang cukup dekat. Tahun lalu, entah mendapat hidayah dari mana mereka memutuskan untuk piknik bersama empat keluarga. Membawa keluarga masing-masing, suami yang merencanakan dan mendanai. Istri dan anak menjadi peserta yang diistimewakan. Tahun lalu, dua kali kami piknik bersama di daerah Pantai Kuta Mandalika dan daerah Senggigi. Memilih memanjakan diri di hotel, bapak-bapak bisa tidur dengan nyenyak, an...

Mbak Nur, tetanggaku

Hidup di kompleks mengajarkanku banyak hal. Sebagai salah satu rumah tangga baru, salah satu warga muda dan baru pindah, saya memang memilih untuk hanya menjalin silaturahim seperlunya dengan tetangga. Saya yang pada dasarnya memang tidak suka mengurus hidup orang dan tidak suka diurus hidup saya lebih suka membersamai anak-anak dan belajar untuk bisa menjadi lebih baik. Saya merasa selama ini sudah stag. Tidak produktif. Pernah bekerja, pernah aktif menulis, pernah berarti, saya merasa sejak punya bayi dan berkutat dengan pekerjaan rumah tangga jadi tidak produktif. Padahal mungkin sebenarnya saya sedang berproses, mengembangkan anak-anak yang sedang dalam masa tumbuh kembang. Membersamai   mereka, belajar teknik parenting yang lebih baik dan terutama mengelola emosi. Emosi menjadi pelajaran yang sangat penting bagi saya karena ternyata memang musuh yang paling besar bagi ibu rumah tangga adalah jenuh. Jenuh dengan rutinitas, tapi bukan berarti tidak ikhlas. Dalam hal apap...

Drama Kompleks

Sudah tiga tahun saya dan suami memutuskan untuk pindah ke rumah yang kami beli di sebuah kompleks perumahan yang sudah lama ada, bukan kompleks perumahan baru. Kami membeli rumah yang sudah dipakai dan direnovasi oleh pemilik sebelumnya. Katanya beliau punya banyak rumah dan rumah ini jarang ditempati, lebih sering dikontrakkan. Menurut cerita, si empunya rumah sempat mencalonkan diri menjadi anggota dewan dan rumah ini sempat tidak bisa membayar cicilan. Sebelum disita oleh Bank, seorang teman melunasinya kemudian membantu menjualkan. Hampir tiga bulan kami mencari rumah yang sesuai dengan budget kami, tapi tak kunjung mendapatkan. Setiap weekend, si Ayah keliling mencari informasi ruamh dijual hingga bertemu dengan rumah ini. Benar kata orang, rumah itu jodoh. Pertama kali mengajakku melihat rumah ini, si Ayah bertanya, "Mau tinggal di sini?". Tanpa berfikir panjang, saya hanya mengiyakan. Saat itu, yang ada di fikiranku adalah bagaimana caranya kami bisa mandiri. Meski ...