Skip to main content

Posts

Berubah jadi lebih baik

Ternyata aku belum pernah cerita tentang pengalaman jadi ibu dua anak ya. Alhamdulillah Allah sudah memberi kami amanah dua putri yang insyaAllah akan berusaha kami arahkan menuju jalan ridhoNya. Menuju tahun ke-6 pernikahan kami, banyak hal yang sudah terjadi yang membuat kami terus belajar. Belajar menjadi orang tua, belajar menjadi suami dan istri, menyikapi dan mengkomunikasikan masalah. Awalnya, kami adalah tipe orang yang sama-sama tidak suka berkonflik. Sesekali kami menyampaikan ketidaksukaan kami saat sedang duduk berdua dan dalam keadaan yang sangat nyaman. Mencoba menyampaikan yang ada di hati kami dengan bahasa yang santun agar tidak melukai pasangan. Mencoba merubah pasangan menjadi lebih baik. Memposisikan diri agar sama-sama lebih nyaman. Saling kritik untuk menjadi lebih baik. Tentu sebagai pasangan, kami memiliki masa yang sulit dan masa yang mudah. Sejak memutuskan untuk rumah sendiri, kami justru lebih jarang bertikai karena lebih leluasa mengungkapkan pendap...

Piknikus adalah Kami

Orang jawa mengatakan liburan itu piknik. Salah satu cara menghilangkan bosan dan mempererat bonding keluarga. Ada liburan tipis-tipis bulanan yang biasa kami lakukan dengan melakukan perjalanan tak jauh dari rumah. Beruntungnya kami tinggal di pulau kecil yang cukup cantik. Tak butuh waktu lama untuk bisa menikmati keindahan alam seperti Pantai dan air terjun. Apalagi sekarang banyak tempat makan yang menawarkan suasana pedesaan dan persawahan di pinggiran kota dengan udara yang bersih. Kali ini, kami merencanakan piknik bersama teman-teman. Bukan temanku, teman kantor suami yang cukup dekat. Tahun lalu, entah mendapat hidayah dari mana mereka memutuskan untuk piknik bersama empat keluarga. Membawa keluarga masing-masing, suami yang merencanakan dan mendanai. Istri dan anak menjadi peserta yang diistimewakan. Tahun lalu, dua kali kami piknik bersama di daerah Pantai Kuta Mandalika dan daerah Senggigi. Memilih memanjakan diri di hotel, bapak-bapak bisa tidur dengan nyenyak, an...

Mbak Nur, tetanggaku

Hidup di kompleks mengajarkanku banyak hal. Sebagai salah satu rumah tangga baru, salah satu warga muda dan baru pindah, saya memang memilih untuk hanya menjalin silaturahim seperlunya dengan tetangga. Saya yang pada dasarnya memang tidak suka mengurus hidup orang dan tidak suka diurus hidup saya lebih suka membersamai anak-anak dan belajar untuk bisa menjadi lebih baik. Saya merasa selama ini sudah stag. Tidak produktif. Pernah bekerja, pernah aktif menulis, pernah berarti, saya merasa sejak punya bayi dan berkutat dengan pekerjaan rumah tangga jadi tidak produktif. Padahal mungkin sebenarnya saya sedang berproses, mengembangkan anak-anak yang sedang dalam masa tumbuh kembang. Membersamai   mereka, belajar teknik parenting yang lebih baik dan terutama mengelola emosi. Emosi menjadi pelajaran yang sangat penting bagi saya karena ternyata memang musuh yang paling besar bagi ibu rumah tangga adalah jenuh. Jenuh dengan rutinitas, tapi bukan berarti tidak ikhlas. Dalam hal apap...

Drama Kompleks

Sudah tiga tahun saya dan suami memutuskan untuk pindah ke rumah yang kami beli di sebuah kompleks perumahan yang sudah lama ada, bukan kompleks perumahan baru. Kami membeli rumah yang sudah dipakai dan direnovasi oleh pemilik sebelumnya. Katanya beliau punya banyak rumah dan rumah ini jarang ditempati, lebih sering dikontrakkan. Menurut cerita, si empunya rumah sempat mencalonkan diri menjadi anggota dewan dan rumah ini sempat tidak bisa membayar cicilan. Sebelum disita oleh Bank, seorang teman melunasinya kemudian membantu menjualkan. Hampir tiga bulan kami mencari rumah yang sesuai dengan budget kami, tapi tak kunjung mendapatkan. Setiap weekend, si Ayah keliling mencari informasi ruamh dijual hingga bertemu dengan rumah ini. Benar kata orang, rumah itu jodoh. Pertama kali mengajakku melihat rumah ini, si Ayah bertanya, "Mau tinggal di sini?". Tanpa berfikir panjang, saya hanya mengiyakan. Saat itu, yang ada di fikiranku adalah bagaimana caranya kami bisa mandiri. Meski ...

Menyikapi dan Bersikap

Sejak masih single, saya adalah tipe orang yang tidak terlalu suka terlalu berkumpul dengan banyak orang. Berteman memang banyak, tapi yang cukup dekat hanya beberapa orang. Berteman pun saya tidak cukup dekat untuk menceritakan banyak hal. Hanya sekedarnya dan seperlunya. Bagi saya, terlalu banyak berkumpul untuk kegiatan yang tidak jelas akan membuang banyak waktu. Saya lebih suka berkumpul untuk membuat sebuah kegiatan yang bermanfaat atau berinovasi. Apalagi sekarang, setelah sudah memiliki dua buah hati ditambah mengurus kos-kosan membuatku tidak banyak waktu untuk sekedar ngerumpi atau berkumpul bersama teman. Mencoba banyak belajar tentang parenting islami, banyak membaca untuk menambah pengetahuan tentang mendidik anak, berkomunikasi dengan anak dan mengarahkan anak agar memiliki landasan yang kuat untuk mereka bawa kelak hingga ke masa depan. Membuat anak mengerti nilai dasar dan dapat membedakan yang baik dan yang tidak baik itu tidak mudah. Harus konsisten dan ekstra kes...

Mbah Put, Tak Ada Alasan Pulang Lagi

Rasanya baru kemarin rencana pulang ke Jawa menjenguk Mbah Put tercetus. Ada sedikit uang yang bisa kami tabung untuk bisa kami gunakan untuk menjenguk satu-satunya Simbah yang masih saya punya. Beliau sangat ingin melihat kedua anakku, kedua buyut yang belum pernah bertemu bahkan cucu menantunya pun belum pernah bertemu. Bukan karena tak berniat mempertemukan, tapi ada trauma yang masih belum bisa terhapus. Ada trauma yang ingin kubuang , tapi rasanya masih menggelayut. Aku bahkan tidak ingin berhubungan lagi dengan orang-orang di masa kecilku di sekitar tempat tinggalku dulu. Memang tidak semua memandang kami bersalah, tapi melihat mereka rasanya membuka luka yang sudah berusaha kututup sendiri. Melihat mereka seperti melihat kegelapan di masa lalu. Tak ingin kukenang lagi, aku hanya ingin hidup untuk hari ini dan masa depan, tak lagi menengok ke belakang. Cukup semua itu menjadi pelajaran hidup untuk bisa lebih bijaksana dalam mengelola titipanNya. Mamak beberapa kali ceri...

Curhatan Ibu Kos

Menjadi ibu kos memang bukan impian, tetapi sebuah kenyataan yang harus diterima saat menikah. Aku tidak pernah tahu kalau ternyata calon suamiku punya usaha kos-kosan enam kamar yang dibangun di sebuah lahan seluas 2 are. Setelah menikah, barulah kami mulai mengelola satu-satunya aset yang kami punya. Saya mulai belajar mengelola kos-kosan dan mengelola anak kos. Saya yang awalnya hanya sesekali bersih-bersih kos, lalu sesekali menerima anak kos, berlanjut ke menyeleksi anak kos, menerima keluhan dan memperbaiki fasilias kos yang akhirnya diserahkan sepenuhnya urusan kos ke saya. Nah, dari situlah saya mulai belajar tentang mengelola kos. Pernah menjadi anak kos, saya sedikit banyak mengerti kebutuhan kos. Air yang agak bau menjadi kendala terbesar bagi kos. Saya selalu memberi tahu siapa saja yang kos tentang air sumur bor yang agak bau, saya tidak mau mereka kecewa karena airnya yang tidak sesuai yang mereka mau. Sebisa mungkin saya memperlihatkan keadaan kos yang sesunggu...