![]() |
| Kami diperbolehkan berenang meski tidak menginap, tapi menikmati makanan di Resto. Tidak ada minimal order, loh |
![]() |
| Pemandangan pantai menjadid aya tari tersendiri. Menikmati tanpa keramaian. |
Cerita di setiap perjalanan merupakan rasa yang tak pernah hilang untuk bisa membuat memori baik bersama anak-anak. Kesibukan satu minggu terhapus dengan perjalanan jauh menikmati alam Lombok yang tak pernah gagal membuat energi kembali terisi.
Siang itu kami memutuskan untuk menyusuri Lombok ke arah selatan, melewati Pelabuhan Lembar dan Pelabuhan Gili Mas. Dua tempat yang tak kalah sibuk dengan Bandara Internasional Lombok. Tiket pesawat dengan harga yang tidak murah membuat banyak orang memutuskan untuk menggunakan kapal laut meski memang waktu yang dibutuhkan lebih lama.
Kami melihat antrian truk di tanah lapang di pinggir jalan. Pelabuhan Gili Mas terlihat jelas, tapi tidak seramai Pelabuhan Lembar. Namun, terlihat hidup dengan antrian kendaraan terutama truk logistik. Pelabuhan yang membawa penumpang ke beberapa pulau yang letaknya tidak dekat seperti Surabaya dan Makasar, terlihat tenang.
Sepanjang perjalanan pesisir pantai, kami menyaksikan deretan kapal yang sedang tida berlayar. Mengistirahatkan mesin, menunggu giliran untuk kembali berayar. Ada yang sedang turun mesin, masa maintenace dan beberapa alasan lain. Mengapung di perairan dengan alasannya masing-masing. Sama seperti manusia yang sedang ada di fase yang sama dengan alasannya masing-masing. Tak harus sama, tapi emphaty dengan apa yang dirasakan orang lain meski diri juga tentu tak luput dari masalah.
Berdiam bukan selamanya tidak produktif, tapi sedang mengambil jeda untuk mengambil langkah selanjutnya. Melihat kapal lain tetap berlayar menuju tujuannya, bukan untuk iri, tapi mengambil kebaikan dari perjalanan yang lain. Kebaikan dari proses yang ia jalani, hasil yang ia dapatkan bahkan mungkin kegagalannya juga bisa menjadi refleksi bagi diri. Bukan justru menjadi celah untuk mencaci.
Percakapan bersama anak-anak menjadi sangat seru ketika menceritakan mobilitas ketika belum ada teknologi secanggih saat ini. Butuh waktu yang lama untuk bisa sampai di suatu tempat, butuh banyak waktu, pertimbangan selama perjalanan dan menikmati setiap perjalanan dengan banyak cerita.
Menyurusi tepian pantai di daerah Selatan Lombok, setelah 45 menit kami sampai di deretan pantai yang cantik di daerah Sekotong, Lombok Barat. Deretan pantai ini juga menjadi destinasi wisata yang banyak dilirik karena ketenangannya. Tak banyak resto dan bar seperti di Senggigi dan Kuta Mandalika. Deretan pantai ini menyjikan pemanangan gili dan area snorkeling dengan terumbu karang yang cantik.
Ada beberapa Gili yang tidak terlalu luas disuguhkan di deretan pesisir Sekotong ini. Gili Nanggu menjadi tempat yang paling banyak dikunjungi, sedang ada Gili yang lain yang tak kalah cantik diantaranya Gili Kedis, Gili Sudak dan Gili Gede.
Pulaunya kecil, tidak ramai dan tidak padat. Suasana tenan menjadikan pantai area ini lebih terlihat bersih. Pemandangan khas pesisir yang terik dan gersang dengan tanaman tembakau dan jagung yang terlihat dominan menjadi pemandangan sepanjang perjalanan. Anak-anak menanyakan mengapa hanya tanaman itu saja yang banyak mereka lihat. Diskusi tentang ciri khas daerah pesisir dengan komoditi yang mayoritas tumbuh di sekitarnya itu karena kondisi tanah dan air yang mempengaruhi. Itulah yang menyebabkan makanan pokok di suatu darah berbeda dengan daerah lain karena mereka makan apa yang tumbuh di sekitar mereka.
Perjalanan dengan diskusi panjang berakhir di sebuah gerbang Hotel dan resto Cocotinos. Sebelumnya kami sempat melihat penginapan yang ada hotelnya untuk bisa makan sambil anak-anak berenang. Kami diperbolehkan menikmati makanan di resto sambil anak-anak berenang. Kolam pinggir pantai selalu menjadi pemandangan yang tak bisa pernah gagal.
![]() |
| Parkiran yang luas dan bersih |
![]() |
| Pantai yang bersih, ada penyewaan boat untuk menyeberang ke Gili Nanggu atau Gili yang ada di sekitar sana sambi snorkeling |
Pantai bagian selatan Pulau Lombok yang tenang cocok untuk kami yang tak suka keramaian. Menikmati membaca ditemani hembusan angin pantai yang lembut menungg anak-anak yang berpindah dari kolam ke pantai untuk bermain air. Tak ada yang lebih menyenangkan dibanding melihat mereka bisa menikmati bermain dengan bebas karena keterbatasan ruang gerak merek karena kami tinggal di kota dan arus teknologi yang membuat mereka lebih dekat dengan gadget daripada aktivitas fisik.
Meski belum bisa membawa mereka ke tempat yang lebih jauh di bumi Allah yang sangat luas ini, tapi setiap perjalanan bisa menciptakan ruang belajar hal baru yang menyenangkan dalam rangka mengagumi KuasaNya juga menyelipkan syukur atas apa yang Allah sudah berikan kepada kami sampai hari ini. Menyadari kalau hamba itu kecil, menyadari kalau diri ini tidak ada apa-apanya, tapi tahu kalau kita adalah khalifah yang bertugas menjaga dan merawat ciptaanNya di dunia.
![]() |
| Perjalanan ini ujungnya akhirat, Ndhuk. Terus menjadi lebih baik yaa.... |
![]() |
| Pintu lobi yang bersebelahan dengn resto dan kolam. |
![]() |
| Lobi Cocotinos |
![]() |
| Jalan dari tempat parkir menuju Lobi tidak dekat, tapi menenangkan |










Comments
Post a Comment