Skip to main content

Menerima Tawaran Sharing Teman Baik untuk Meramu Sudut Padang di Ipedia




 Menerima tawaran mencoba sesutu yang baru. Kali ini menerima tawaran Mbak Winny, seorang teman di komunitas yang memiliki banyak kegiatan sosial dan media sosial. Sebagai Generasi Milenial akhir dan bergaul dengan Gen Z, ia banyak membawa warna di pertemanan kami.

Mbak Winny mengajakku menceritakan sudut pandangku tentang mimpiku. Ia mengatakan kalau ceritaku membuatnya memiliki sudut pandang yang baru tentang penerimaan dan merubah arah mimpi sebelum dan setelah menikah. Mimpi seorang istri dan Ibu tak bisa selamanya sama dengan mimpi ketika kita masih lajang.

Ada banyak yang Allah takdirkan untuk mewujudkan mimpi setelah menikah dengan ridho suami. Namun, ada juga yang harus mengubah arah mimpinya karena banyak faktor. Aku yang sempat ingin melanutkan sekolah lagi harus terbentur dengan izin suami. 

Ego atau Ridho Suami, Seharusnya Bukan Pilihan

"Kalau kamu keluar, saya sama siapa?" 

Kalimat itu sempat membuat saya merasa sangat kesal karena saya harus merelakan apa yang saya impikan sejak dulu. Ia tak pernah melarang, tapi ia meminta saya untuk bisa bersama-sama. Pekerjaannya membuatnya harus sering dinas luar kota dan tak menutup kemungkinan akan ada mutasi ke luar pulau. Ia berharap anak istrinya bisa menemani.

Seketika, saat usia masih 20an, ego dan ambisi masih menguasai. Menerima itu tentu tidak mudah. Aku masih saja mencari celah untuk bisa kerja lagi atau mencari beasiswa. Ia menganggap sia-sia keinginanku untuk melanjutkn kuliah. Aku pun tak diberikan banyak akses untuk laptop dengan alasan tidak ada manfaatnya dari segi materi. Ia memintaku untuk fokus dengan kehidupan rumah tangga kami, bukan dengan hal-hal di luar rumah tangga

Kami bertemu dan langsung menikah, kami tidak banyak ngobrol tentang mimpi kami. Saya bahkan tidak pernah menceritakan apa mimpiku, apa keinginanku, kukira menikah hanya perubahan status, mimpi akan tetap bisa diraih dengan melihat situasi dan kondisi. 

Aku lupa untuk menanyaan pandangan pasanganku tentang mimpiku. Mimpi yang kuinginkan tentu akan berengaruh pada kehidupan rumah tangga kami. Mimpiku sudah harus memikirkan orang-orang di sekelilingku. Ridho Allah ada pada suami, bahkan surgaku lebih besar ketika ia ridho padaku. Bukan untuk menjadi dominan, tapi haus ilmu baru, pengalaman baru dan bisa bermanfaat dengan mengajar, melakukan pengabdian dan riset yang merupakan trilogi tugas dosen.

Namun, aku sadar tak ingin mengesampinggkan mereka yang membutuhkanku. Menemani anak-anak bertumbuh dan mendampingi menjadi partner suami pernah menjadi cita-citaku, tapi aku pun tetap ingin bisa mengaktualisasikan diri sebagai diriku sendiri. Aku masih ingin belajr lebih banyak, bertemu orang dan sharing lebih banyak, sharing ilmu lebih banyak dan tentu berpetualang menemukan pengalaman baru. 

Usia 20an menjadi usia yang masih sangat ambisius, ego tak ingin turun bahkan untuk menyadari kodrat sebagai isri dan ibu. Banyak yang masih bisa mengejar cita dan didukung suami, aku pun saat itu masih berharap mendapat celah untuk bisa menggapai cita.

Melamar kerja dan melamar program ELTA. Melamar kerja beberapa kali terkendala saat sudah sampai tahap wawancara dan suami keberatan. Ia sampaikan kalau pekerjaan itu tidak cocok untukku. Ia berharap kalau aku bekerja, tidak lebih lama dari jam kerjanya. Tentu ini tidak mudah karena setiap tempat kerja memiliki kebijakan masing-masing. Saya menangkap kalau ia tidak rela saya memiliki banyak waktu diluar rumah. Ia berharap setiap ada ia dirumah, saya pun ada dirumah. 

Ia berharap saya bisa menemaninya dan lebih banyak waktu bersamanya dan anak-anak. Ia berharap akulah yang menemani dan membersamai anak-anak bertumbuh. Secara tidak sadar, saya ingat kalau saya pun sejak dulu selalu ingin menemani anak-anak. Tidak mendelegasikan kepada siapapun sebab kelak di yaumil akhir, saya lah yang akan bertanggungjawab atas amanah ini.

Legowo bukan Berarti Kalah, tapi Ego sebaiknya bisa Kompromi

Semua terlihat begitu terang dan nyaman ketika saya sadar kalau ternyata ini yang selama ini saya harapkan sebenarnya. Meski mimpi saya tidak lagi lanjut pasca sarjana, tapi melihat orang-orang di sekeliling bisa menjadi sumber ilmu dengan sumber daya yang saya punya, rasanya sudah cukup.

Berada di dekat anak-anak, membersamai tumbuh kembangnya, mendengar keluh kesahnya, memeluk mereka kapanpun merupakan hal yang membuatku nyaman. Ada disaat suami membutuhkan, memanfaatkan quality time untuk merekoneksi bersama mereka ternyata membuat lebih nyaman.

Allah Yang Maha Membolak balikkan hati. Menerima situasi dan kondisi ini menjadikanku lebih tenang. Kegemaran belajar hal baru bisa didapatkan dari banyak tempat dan orang-orang di sekitarku. Belajar bisa dari banyak platform digital bahkan beberapa komunitas yang kuikuti pun memberikan kesempatan untuk belajar online dan mengembangkan diri. 

Diberikan kesempatan untuk bisa mendapatkan pengalaman baru, ilmu baru dan bertemu orang baru bagiku sudah cukup. Semua bisa berjalan bersama tanpa harus merasa berkorban, tanpa harus merasa sedang mengalah seba sejatinya apapun yang sedang dilakukan adalah cara kita melakukan amal terbaik di dunia sebagai cara kita mempertanggungjawabkan hidup sebagai hamba.

Tidak semua harus diukur dengan prestasi yang terlihat, sebab sukses adalah cara kita memaknai hidup. Merasa cukup adalah cara untuk membatasi diri, bersyukur adalah cara untuk menyadari kalau diri ini hanya seorang hamba. 

Pengelola Rumah Peradaban, Kurir Wakaf dan Menebarkan Virus Membaca Nyaring, inilah passionku sekarang

Bisa menjadi bagian dari beberpa komunitas dan menadi kurir kebaikan merupakan cara untuk tetap bisa bermanfaat untuk sesama meski dari rumah. Menjadi bagian dari komunitas Spirit Nabawiyah Community, saya bisa belajar siroh dan mengelola buku wakaf dengan menjadi pengelola Rumah Peradaban SNC Juga menjadi kurir wakaf buku dan Al Quran. 

Banyak yang menghubungi saya untuk bisa menerima wakaf buku dan Al Quran. Meski bukan saya yang galang wakaf, tapi menjadi bagian dari jembatan informasi rasanya sudah membuat merasa bahagia. Selain itu, menjadi bagian dari Lombo Read Aloud, berbagi cerita baik tentang Read Aloud pun membuatku merasa bermanfaat.

Aku bisa bermanfaat tidak hanya di dalam keluargaku sendiri, tapi juga punya dampak di lingkungan. Menebar banyak buku ke seluruh Lombok dan membuat ruang bertumbuh di rumah adalah cita-cita yang masih ingin kuwujudkan.

Menjalani amanah sebagai orang tua, memastikan anak-anak baik dan suami bisa meraih apa yang di cita-citakannya merupakan kepuasan tersediri. Doa untuk kebaikan mereka adalah kebahagiaanku juga. 

Baca disini

Kalian bisa mendengarkan podcastnya disini yaa nonton disini






_Cerita Venti_


Comments

Popular posts from this blog

Ujung Pertemuan Kita

Mbak Andin.... Jazakumullah Khoiron Katsiron Persahabatan kita membuat banyak kenangan indah. Persahabatan kita membawa banyak kebaikan. Persahabatan kita membuatku banyak belajar.  Aku tahu betapa kau adalah wanita yang luar biasa. Menghadapi banyak hal dengan selalu husznudzon pada Allah SWT, bertumbuh pantang menyerah untuk menjadi lebih baik. Kau yang mengajarkanku untuk menghadapi banyak hal dengan gagah berani. Sekarang ataupun nanti, semua pasti harus dihadapi.  Aku banyak belajar tentang kekuatan menghadapi darimu. Meski pahit, hadapi saja. Minta pertolongan dan kekuatan padaNya, pasti ini juga akan terlewati.  Terimakasih sudah terus saling menguatkan dan menjadi tempat yang nyaman untuk berkeluh kesah. Tak pernah menyalahkan, tapi memahami. Kau tahu, bersahabat denganmu adalah zona nyamanku. Namun, sekarang aku harus siap untuk keluar dari ini. Bukan berarti persahabatan kita akan berakhir, tapi jarak yang membuat kita tak bisa sering bertemu pasti akan membuka ...

Menikmati makan di Tengah Kebun Bambu, rasanya Seperti di Kampung

Siang itu, kami tidak punya tujuan makan siang. Salah seorang dari kami mengajak untuk ke Bonjeruk, begitu tempat makan ini terkenal di kalangan orang-orang. Belum ada diantara kami yang sudah pernah datang untuk makan di tempat yang katanya makanannya cukup khas. Kami mencoba menelusuri menggunakan Gmap dengan petunjuk arah Bonjeruk. Kami menemukan arah menuju Warung Bambu, Desa Wisata Bonjeruk Lombok Tengah.  Perjalanan menuju ke lokasi tidak lebih dari 30 menit perjalanan dengan kecepatan sedang. Bagi kami yang sudah tinggal di Lombok, lokasi ini tidak sulit ditemukan, Namun, bagi pendatang yang menjelajah Lombok sendiri mungkin butuh waktu lebih lama karena harus memperkirakan arah. Namun, google map cukup membantu dan akurat menunjukkan lokasi ini.  Ada 2 lokasi Warung Bambu ini. Kami singgah di lokasi cabang dari warung utamanya. Menurut penuturan karyawannya, di lokasi ini warung hanya buka sampai pukul 18.00 WITA, sedangkan di cabang utamanya buka hingga pukul 21.00 WI...

Kegiatan Rumah Peradaban Pagutan Bersama Read Aloud

 Rumah Peradaban adalah sebuah wadah yang difasilitasi oleh Spirit Nabawiyah Community untuk lebih banyak orang mengenal siroh melalui buku. Melalui buku, anak-anak bisa belajar banyak hal. Selain memahami isi buku yang dibaca, membawa buku melatih kesabaran, melatih berfikir kritis, melatih menyimpulkan setelah membaca yang berarti bisa memasukkan unsur bijaksana, melihat banyak sudut pandang juga memiliki wawasan yang lebih luas.  Membaca kini sudah tersingkirkan sejak adanya gadget yang membuat anak-anak bisa mendapatkan informasi dengan mudah. Ditambah ketika pandemi, semua harus melalui daring bahkan anak-anak sampai diberikan hanphone sendiri sampai kadang terlewat untuk memantau mereka dan memberikan batasan. Akses gadget tanpa batas membuat anak-anak semakin pasif dalam berinteraksi dengan lingkungan.  Melihat fakta dunia anak sekarang miris sekali rasanaya melihat mereka berkegiatan tanpa ada manfaat dengan gadget. Mereka tenggelam dalam kesenangan tanpa ada gera...