Skip to main content

Bude Sinta dan Kenangan Baiknya





Setelah tiga puluh hari, beliau akhirnya mengkhiri takdirnya sebagai hambaNya. Bude Sinta meninggal di usia 52 tahun. Perjuangannya melawan diabetes sudah berakhir. Berawal dari luka yang ada di telapak kaki, ternyata itu adalah perjuangan terahirnya pada diabetes. Infeksi yang menyebar setelah dibersihkan lukanya membuat jempol kaki dan betisnya harus diamputasi.

"Saya semangat, Mbak. Saya bilang dokter, kalaupun jempol saya harus diamputasi, saya tidak apa-apa. Katanya dokter tidak perlu , dibersihkan saja daging yang infeksi di bawahnya," kalimat terakhir yang bisa dikeluarkannya sebelum merasa kesakitan terus menerus hingga kata "capek" terlontar sebeum tidak sadarkan diri.

Memendam rasa sakit hati menemani harinya di tengah perjuangannya melawan diabetes bertahun-tahun. Ia tak mau menyerah, tapi tubuhnya tak sanggup menahannya. 

Kehilangan orang  terdekat  sama seperti kehilangan keluarga. Seorang yang cukup dekat dengan anak-anak, sosok baik hati itu akhirnya menyelesaikan tugas di dunia. Kebaikannya selalu terekam di memori anak-anak. 

Sedih, haru bercampur menjadi rasa yang tak bisa digambarkan dan dikatakan. Beliau adalah sosok yang hangat dan dekat dengan anak-anak. Sejak berumah tangga, ia menjadi salah satu orang yang banyak tahu tentangku. Orang terdekat yang bisa mejadi teman, kakak dan ibu bagiku yang ketika itu tak ada teman bercerita.

Bude Sinta, begitu anak-anak memanggilnya. Tinggal di depan rumah mertua, tempat bercerita, berkeluh kesah dan banyak bercerita. Menjadi tetangga rasa saudara, rasa itu begitu lekat. Bahkan ketika sudah pindah ke rumah kami sendiri yang letaknya tidak jauh dari sana, beliau beberapa kali menyambangi kami sekedar memberikan bumbu kacang buatannya atau kangen dengan anak-anak. 

Ia sudah seperti saudara sendiri, saya pun cukup tahu perjuangan beliau kembali memeluk Islam setelah 20 tahun lebih mengikuti kepercayaan suaminya setelah menikah. Ada rasa yang tak bisa dikatakan, ada hasrat yang mendorongnya untuk kembali menunaikan sholat. Mukena masih disimpan rapi di lemari, sesekali dikeluarkannya ketika ia rindu sholat dan beberapa kali ditentang suaminya hingga berujung perselisihan.

Sempat belajar menjadi pemeluk yang taat pada kepercayaan yang diyakini keluarga suami, tapi hatinya tak bisa sepenuhnya meyakininya. Hingga akhirnya tahun 2023 ia memutuskan kembali ke Muslim, ajaran agama yang diyakininya sejak kecil dan membuatnya merasa lebih tenang dan nyaman. Hati tak bisa dihianati, ada yang membuatnya terlihat lebih tenang, penuh senyum dan syukur atas apa yang terjadi padanya.

Sejak awal mengenal beliau dan sejak kembali muslim, ia terlihat begitu berbeda. Auranya berubah menjadi sangat meneduhkan. Ia terus mencari tenang, mencari damai di setiap peristiwa yang terjadi dalam hidupnya dan menghadapi penyakitnya yang membutuhkan kesabaran dan keikhlasan menjalaninya.

Beberapa kali melihatnya menangis ketika menceritakan ibadahnya yang kembali ia rasakan nyaman, ia merasa tenang ketika masalahnya diadukannya dalam sujud dan memohon ampunan atas khilafnya selama ini. Ia tau umurnya tidak lama karena penyakitnya rasanya membuat badannya mudah lelah, ia ingin memanfaatkan setiap waktu dalam hidupnya untuk kebaikan dan ibadah.

Ada hal yang sangat menyakitkan terjadi dalam hidupnya. Suami yang ia sayangi sudah berkali-kali mematahkan hatinya. Entah sampai mana ia memiliki hubungan dengan wanita lain, sebatas sosial media atau pernah bertemu, sekarang ia tak ingin lagi mencari tahu. Sakitnya membuatnya tak bisa menjalankan perannya menjadi istri yang seutuhnya. Ia sadar kekurangannya, ia sadar suaminya masih butuh menyaluran nafsunya.

Ia pun tak ingin menyalahkan kondisi yang sedang dialaminya. Ia harus kuat melawan penyakit yang banyak mematikan anggota keluarganya ini. Ia mau berjuang untuk melihat kedua anaknya menikah dan berkeluarga. Ia berusaha menguatkan hatinya menghadapi suaminya yang mungkin butuh penyaluran kebutuhan biologis yang sudah tak bisa dilakukannya, meski sakit itu terus menghujam. 

Pilihan berpisah sempat terlontar dari putri bungsunya setelah megetahui ayahnya berkali-kali menghianati ibunya. Ia tak bisa semudah itu mengambil keputusan berpisah. Ia memikirkan anak-anak belum menikah dan ia pun masih butuh teman ngobrol dan berobat. Paling tidak, sosok suami bisa menjadi temannya saat ini meski sudah bukan lagi suami yang diharapkannya. Meski demikian, ada setitik harap kalau mereka bisa seiman di kemudian hari nanti. Dalam doa selalu ia meminta untuk bisa melembutkan hati suaminya. 

Air matanya mengalir ketika mengingat ibadahnya yang belum bisa maksimal, ia ingin terus belajar lagi agama dari awal. Sudah lupa bagaimana membaca Al Quran, bagaimana sholat dan ibadah-ibadah lain, tap ia terus belajar. Tangis yang ia tumpahkan, menjadi caranya mengeluarkan emosi negatif dalam dirinya. 

Kecewa dikhianati setelah lebih dari 20 tahun berumahtangga dan mengorbankan keyakinannya. Ia merasa bersalah pada dirinya sendiri karena memilih meninggalkan keyakinannya. Saat tak ada lagi tempat berpegang, ia sangat ingin kembali mengadukan pada Allah lewat sholat. Banyak yang mendukungnya untuk kembali ke muslim, tapi ia tahu ini tidak mudah.

Banyak hal harus dipertimbangkan. Harga diri suaminya, perasaan anak-anak, keluarga dan hukum adat dari keyakinan yang sekarang dipegangnya. Setelah cukup lama mempertimbangkan dan merenung, ia memantabakn hati kembali menjadi muslim. 

Dibantu beberapa teman lama dan saudara, seorang Ustadz membimbingnya di rumah orang tuanya disaksikan semua keluarganya. Suaminya tak bisa melarang, ia tetap akan menjadi muslim meski ia murka sekalipun. Tak apa kaau memang ia minta berpisah pun takkan membuatnya berubah pikiran. Ada selusup tenang, ada tempa berpegang dalam doa.

Suaminya menerima keputusannya, tapi memintanya untuk tidak dulu memperlihatkan pada orang-orang sekitar mereka. Ia akan mencari cara untuk memberitahu orang lain termasuk kedua anaknya karena ini akan berhubungan dengan upacara pelepasannya dari keyakinan sebelumnya. 

Semakin hari semakin tenang menjalani ibadah sebagai muslim dan terus belajar menyempurnakannya dengan ibadah sunnah baik sholat dan pausa. Ayat-ayat A Quran dipelajari dari internet. Hari-harinya dipenuhi dengan terus belaar menjadi muslim yang baik.

Dilema ketika harus menemani suaminya menghadiri upacara keagamaan, atau saat ada berkumpul dengan keluarganya berbarengan dengan waktu sholat. Bertanya ke banyak orang yang lebih mengerti, mencoba untuk tetap istiqomah dengan tetap menjaga wibawa suaminya.

Perjuangan dan pengorbanannya akhirnya berakhir tiga tahun setelah memutuskan menjadi muslim. Berawa dari sakit yang di bagian bawah jempol kakinya yang harus dibersihkan dagingnya karena infeksi, rasa sakit itu tak pernah berhenti hingga operasi selanjutnya yang membuat jempo kakinya dan betisnya harus diamputasi sebelum beliau meninggal. Perjuangannya melawan sakit yang membuat beliau kelelahan dalam kesakitan. 

Raut wajahnya yang lelah menahan sakit terlihat jelas. Tak bisa digambarkan betapa sakit yang ia rasakan sampai membuatnya tak sadarkan diri. Berada di ruang ICU selama 2 minggu dengan banyak doa mengiringi keikhlasannya melawan sakit. Memendam segala rasa yang menekan hatinya, ia berusaha terlihat baik-baik saja, tapi ternyata tubuhnya tak mampu menopangnya. Sekuat apapun ia menahan rasa sakit fisik maupun sakit hati yang berkepanjangan, akhirnya semua itu harus berakhir.

Sampailah perjuangannya di penghujung takdirnya menjadi hamba. Banyak cerita baik yang telah diukirnya, banyak kenangan indah di akhir hidup beliau. Meski sempat terjadi perdebatan tentang pemkaman, akhirnya sauaminya menyerahkan kepada keluarga karena amanah alarhum dan beliau tahu betul kalau istrinya memang sudah berpindah keyakinan. Mungkin ini cara Pakdhe untuk meminta maaf terakhir kalinya.

Pakdhe tak bisa memperlakukan jenazah istrinya seperti yang diyakininya karena ia sadar kesalahan yang dibuatnya. Tak bia bersabar atas kondisi istrinya yang sakit sudah cukup lama hingga mencari pelampiasan kebutuhan biologisnya. Sesal tak bisa merubah apapun. Penghormatan terakhir tak bisa dilakukannya di penghujng usia istrinya, tapi setidaknya masih bisa bersama dan menemaninya.

Sesal tak bisa merubah apapun, Pakdhe sadar kalau dia tidak bisa egois. Ia sudah menyakiti istrinya begitu dalam hingga memendam luka sampai akhir hayat. Meski tidak mudah karena kerabat dan tetangga belum tahu keputusan istrinya berpindah keyakinan dan akan diurus jenazahnya dengan cara muslim, tapi ia ingin menghormati amanah yang telah disampaikan kepada saudaranya. Sekecewa itu hingga amana pun tak disampaikan pada suaminya.

Hari itu terasa begitu berat dan rasanya bercampur semua. Sedih, kehilangan, malu, marah dan merasa bersalah bergumul menjadi satu. Ia dan putra sulungnya kebingungan sampai tidak mengikuti prosesi memandikan jenazah bahkan sampai melewatkan pemakaman istrinya. Putri bungsu yang menemani jenazah ibunya sampai dimakamkan secara muslim.

Beliau mengakhiri hari sebagai muslim dengan lebih tenang. Perubahan keyakinan banyak membawa perubahan, beliau menjadi jauh lebih tenang dan terlihat lebih teduh. Auranya berubah menjadi sangat menenangkan. Allah memberinya hidayah di akhir sisa umurnya untuk memberikan lebih banyak kenangan baik. Luka yang dipendam dibawanya sampai akhir hayat.

Terimakasih atas kebaikan, pelajaran hidup dan cerita indah selama bersama kami, Bude Sinta. Banyak pelajaran hidup yang kami dapatkan selama bersama. 

Comments

Popular posts from this blog

Barima (Membaca Nyaring Bersama) Menjadi Ajang Silaturahmi Member Lora di Perpustakaan dan Taman Baca

  Barima bersama adik-adik SDI Bidayatul Hidayah di Perpustakaan Kota Mataram Barima di Perpustakaa Kota Mataram bersama Member Lombok Read Aloud Barima di Pusda Lombok Timur Read Aloud Lombok menjadi komunitas kedua yang membuatku kembali menemukan rumah. Mendapati teman-teman yang luar biasa di dunia nyata, mendapati teman-teman yang punya semangat bermanfaat yang tak kenal lelah membuat saya semakin semangat.  Barima, Membaca Nyaring Bersama menjadi ajang kumpul para member Lombok Read Aloud di Perpustakaan. Ada di Perpustakaan Daerah di Lombok Timur dan Perpustakaan Kota di Mataram. Setiap dua kali dalam satu bulan, kegiatan tersebut rutin dilakukan.  Tujuan kami adalah mengajak lebih banyak orang tua untuk membacakan buku pada anak-anaknya, merasakan manfaat membaca nyaring untuk peningkatan minat baca anak, literasi anak dan bonding dengan anak. Manfaat membaca nyaring bisa dirasakan lebih banyak orang, bisa menyebarkan kebaikan ke lebih banyak orang dan yang pentin...

Yant Sorghum, Pioneer Budidaya dan Olahan Sorgum di NTB

  Sorgum merupakan sebuah tanaman lahan kering yang kaya manfaat. Namun, tanaman ini kurang dibudidayakan karena dirasa kurang menjanjikan. Sorgum  ( Sorghum bicolor (L .) Moench ) termasuk famili Graminae (Poaceae )   ini sebenarnya sudah dikenal sejak zaman nenek moyang kita, tapi tidak banyak yang memanfaatkannya. Bahkan di Lombok pun hanya digunakan sebagai pakan ternak sehingga tidak banyak petani yang tertarik untuk membudidayakannya. Tanaman ini tidak sulit dibudidayakan sebab merupakan tanaman lahan kering yang cocok dengan lahan pertanian yang ada di beberapa daerah di Pulau Lombok. Namun, karena hanya biasa dimanfaatkan untuk pakan ternak, tidak banyak petani yang membudidayakannya.     Peluang ini dilihat oleh Ibu Nur Rahmi Yanti. Seorang penyuluh pertanian lulusan Universitas Mataram ini memulai pengembangan budidaya sorgum di Lombok. Melihat manfaat sorgum dan ingin mencari sesuatu yang baru untuk diproduksi, Ibu Yanti mencoba untuk mengembangka...

Resume Kajian Peran Orang Tua dalam Peguatan Pola Pengasuhan di Era Digital oleh Ustadz Lalu Yulhaidir

Hari Sabtu, 19 November 2022 Majelis Taklim Al Mahabbah di bawah Komite Sekolah SDIT Fauziah Yarsi Mataram menyelenggarakan Kajian dan Parenting untuk Wali Murid dan Pengajar di lingkungan sekolah Tema yang diusung adalah Peran Orang Tua dalam Penguatan Pola Asuh di Era Digital yang disampaikan oleh Ustadz Lalu Yulhaidir, M, Psi (Psikolog). Ilmu Psikologi itu penting dalam mendidik anak karena merupakan seni dasar dalam membersamai anak-anak. Saat memahami psikologi, akan lebih mudah melakukan pendekatan dan penanganan terhadap suatu permasalahan pada anak. bahkan dr. Adian Hasan pernah mengatakan kalau psikologi adalah keharusan.  Era Digital yang semakin menguasai dunia ini memang sudah menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Banyak hal positif dan bermanfaat yang tercipta, tapi banyak juga hal negatif dampak dari Digitalisasi ini. Tinggal bagaimana kita bijaksana dalam memilih langkah atas sebuah tantangan zaman.  Seperti kata Umar Bin Khattab   "Dunia ada di ...