Skip to main content

Sampai

 



26 November 2025.

Sampai juga kami di titik ini. Menemani Bapak menghadapi penyakitnya sampai usia 73 tahun mengakhiri perjuangannya melawan sakit.

Awal Sakit

2021 menjadi awal ketika Bapak terkena serangan stroke ringan selesai pernikahan keponakannya adalah titik awal beliau mulai tidak banyak jalan. Fungi organ dan alat gerak perlahan menurun. Pemeriksaan rutin di syaraf selama hampir 3 tahun berlanjut ke spesialis penyakit dalam di 1,5 tahun terakhir belakangan.

Diabetes menggerogoti seluruh fungsi organ yang sudah melemah menjadi semakin lemah. Makin tak berdaya. Perlahan, penyakit yang lain mengikuti. Hipertensi, stroke dan berlanjut ke ginjal yang semakin melemah. Awalnya dokter Sujaya memberikan  saran untuk diet protein hewani ketika terliht fungsi ginjal Bapak sudah jauh menurun. Diet ketat ditambah vitamin untuk memperbaiki fungsi ginja karena beliau pernah menangani pasien yang berhasil dengan cara ini. Namun, ternyata fungsi ginjalnya tak kunjung membaik. Hasil lab menunjukkan penurunan fungsi yang terus menerus. 

Hemoglobinnya terus menurun sehingga harus transfusi. Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh sampai disarankn dokter  untuk Hemodialisa. .


Mulai Hemodialisa Mei 2025

Ketika Ibu diberi kesempatan Haji ke Mekkah, Bapak memulai hemodialisa dengan perjuangan yang tidak mudah. Bolak balik RS untuk transfusi darah, ganti alat CDL, pasang aphisan, dan perawatan sesak napas. Rumah Sakit menjadi tempat kami terbiasa menemani Bapak. Kami sudah ikhlas menjalani seluruh rangkaian pengobatan Bapak, meski tentu rasanya tidak mudah.

Semakin hari, tubuhnya semakin lemah. Tak kuasa mengankat badan, tak bisa memiringkan badan, kulit dekat tulang ekor mengelupas sampai otot mengecil. Saat diangkat ke mobil pun Bapak sudah tak lagi mengeluh . Meski sempat mengatakan tidak mau HD, tapi kami terus membujuknya agar bisa bertahn. Harapan sembuh sangat besar diharapkan Ibu. Ia ikhlas menemani suaminya melawan sakitnya. Ia masih berharap keadaan akan lebih baik, meski hati kecilnya menyadari kalau semua terjadi sebaliknya. Kondisi bapak semakin hari semakin lemah. 

Tak berdaya, tak kuasa. Menjalani apa yang seharusnya dijalani. Kami sudah menyadari kalau ini tidak akan bertahan lama melihat kondisi Bapak. Namun, espekstasi Ibu terus menghara kesembuhan dan pulih kembali membuat kami was-was. 

26 November 2025 tutup Usia

Kami berusaha semaksimal yang kami bisa untuk bisa membuat beliau kuat sampai Allah SWT menetapkan tadirNya menyelesaikan tugas di dunia.

Sedih, pasti. Ada rasa kehilangan yang tak bisa terkatakan. Ada rasa tak bisa terungkap. Sesak di dalam dada, tak bisa terungkap. Sesekali menyeruak ketika ada kenangan yang terbersit. Sekian lama menemani beliau menghadapi sakitnya, saya yang paling sering menemani dan mengeahui penyakit bapak.

Melihatnya meninggal dengan tenang, rasanya hati ini ikhlas. Sakit yang cukup lama tentu tidak mudah bukan hanya bagi beliau, tapi bagi kami juga. Tetiba ada ruang hampa karena biasa sibuk bolak-balik Rumah Sakit menemani beliau. Namun, raut wajah bersih di akhir usia membuat kami lebih tenang. Sampai juga perjuangan beliau di penghujung.

Pengurusan jenazah sampai pemakaman dan dzikir selama 9 hari tanpa putus. Menjadi penghibur bagi ibu karena rumah selalu ramai orang dan saudara. Meski sesekali beliau teringat suaminya, ada sesal, ada kecewa, ada sedih karena ditinggalkan sosok yang selama ini bersama. 

"Aku masih mau mengurusnya"

"Mungkin aku salah selama merawatnya"

"Kalau tahu akan meninggal secepat ini, aku akan berikan yang dia mau"

Pikirannya makin tak karuan, kadang diam merenung menerawang, di tengah keramaian di rumahnya.

Ada sesal karena sempat marah, merasa bersalah karena merasa banyak kesalahan yang dilakukan selama mengurus suaminya, dia akan sendiri sekarang. Satu-satunya teman hidup sudah meninggalkannya. Tak ada lagi yang membuatnya bersemangat. Tak ada lagi kesibukan seperti biasanya. Tak ada lagi yang memanggilnya setiap kali ia keluar kamar. Kamar itu sunyi. Tak lagi ada yang memanggilnya.

Ada yang hampa membuat emosinya bergejolak. Semua jadi sasaran kemarahan, rumah berantakan, hal-hal kecil yang tidak sesuai, semuanya menjadi alasan amarah. Semua yang ada di sekitarnya menjadi alasan untuk melmpiaskan emosinya. 

Pikirannya semakin tak menentu. Emosinya sulit terkontrol. Kami berusaha untuk tidak memperkeruh keadaan dengan diam agar tidak saling menyakiti. 

Comments

Popular posts from this blog

Menikmati makan di Tengah Kebun Bambu, rasanya Seperti di Kampung

Siang itu, kami tidak punya tujuan makan siang. Salah seorang dari kami mengajak untuk ke Bonjeruk, begitu tempat makan ini terkenal di kalangan orang-orang. Belum ada diantara kami yang sudah pernah datang untuk makan di tempat yang katanya makanannya cukup khas. Kami mencoba menelusuri menggunakan Gmap dengan petunjuk arah Bonjeruk. Kami menemukan arah menuju Warung Bambu, Desa Wisata Bonjeruk Lombok Tengah.  Perjalanan menuju ke lokasi tidak lebih dari 30 menit perjalanan dengan kecepatan sedang. Bagi kami yang sudah tinggal di Lombok, lokasi ini tidak sulit ditemukan, Namun, bagi pendatang yang menjelajah Lombok sendiri mungkin butuh waktu lebih lama karena harus memperkirakan arah. Namun, google map cukup membantu dan akurat menunjukkan lokasi ini.  Ada 2 lokasi Warung Bambu ini. Kami singgah di lokasi cabang dari warung utamanya. Menurut penuturan karyawannya, di lokasi ini warung hanya buka sampai pukul 18.00 WITA, sedangkan di cabang utamanya buka hingga pukul 21.00 WI...

Ujung Pertemuan Kita

Mbak Andin.... Jazakumullah Khoiron Katsiron Persahabatan kita membuat banyak kenangan indah. Persahabatan kita membawa banyak kebaikan. Persahabatan kita membuatku banyak belajar.  Aku tahu betapa kau adalah wanita yang luar biasa. Menghadapi banyak hal dengan selalu husznudzon pada Allah SWT, bertumbuh pantang menyerah untuk menjadi lebih baik. Kau yang mengajarkanku untuk menghadapi banyak hal dengan gagah berani. Sekarang ataupun nanti, semua pasti harus dihadapi.  Aku banyak belajar tentang kekuatan menghadapi darimu. Meski pahit, hadapi saja. Minta pertolongan dan kekuatan padaNya, pasti ini juga akan terlewati.  Terimakasih sudah terus saling menguatkan dan menjadi tempat yang nyaman untuk berkeluh kesah. Tak pernah menyalahkan, tapi memahami. Kau tahu, bersahabat denganmu adalah zona nyamanku. Namun, sekarang aku harus siap untuk keluar dari ini. Bukan berarti persahabatan kita akan berakhir, tapi jarak yang membuat kita tak bisa sering bertemu pasti akan membuka ...

Outbound Aqil Baligh

Usia si sulung sudah 10 tahun. Saatnya kami sebagai orang tua untuk mengenalkan tentang Aqil Baligh. Saat seperti ini, ternyata ada yang membuat sebuah kegiatan yang menyenangkan.  Outbound reflektif aqil baligh yang diselenggarakan oleh Cahaya Bangsa. Sebuah institusi pendidikan yang dididirikan oleh Ustadz Yulhaidir, psikolog anak yang ingin menghadirkan pengalaman menyenangkan pada anak, tapi tetap bermakna sehingga kesan yang tertanam akan terus terngiang lekat dengan makna yang terkandung di dalamnya.  Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 15 Februari 2025 di lingkungan sekolah Cahaya Bangsa yang ada di Lenek, Lombok Timur. Bukan pertama kali, kegiatan seperti ini sering diadakan oleh Cahaya Bangsa sebagai cara untuk menjembatani anak-anak kembali mengenal alam, kembali dekat dengan alam untuk mengembalikan kepekaan pada alam.  Saya dan anak-anak berangkat dengan menggunakan engkel, angkutan umum yang ada di Lombok dari Matara sampai ke Lombok Timur. Sebuah kendaraa...