Sampailah penantian itu di penghujung. Bukan karena batas sabar, tapi sebagai penghargaan pada diri sendiri. Bukan karena ego, tapi karena pilihan yang harus sampai pada kepastian. Bentuk ketegasan untuk menghargai diri sendiri.
Sudah cukup rasanya menunggunya datang. Tak pernah ada kejelasan. Bahkan,
untuk menghubungi dua buah hatinya pun tak pernah dilakukannya. Beberapa kali
menghubunginya, tak ada jawaban yang
didapat. Anak-anak menanggung kecewa tak ada balasan dari ujung telefon yang
mereka nantikan.
Inilah saatnya untuk mengambil langkah di jalan yang lain. Tak lagi ada harapan untuk menunggunya. Empat tahun tanpa kejelasan sudah cukup menjadi alasan untuk bisa membuat keputusan yang tentu tidak mudah.
Ayah meninggal merupakan awal kesulitaan finansialnya. Semua terjadi begitu saja. Proyek yang dijalaninya pun
beberapa kali mengalami kerugian karena salah perhitungan. Hubungan dengan
rekan kerjanya tak berjalan baik. Mereka akhirnya memutuskan untuk tak lagi
bekerjasama. Semua terjadi
bertubi-tubi.
Ia goyah, benteng pertahanannya runtuh. Terbawa pergaulan yang tak seharusnya. Minuman keras menjadi kebiasaan melepas kekhawatiran dan kecemasan. Berusaha mengalihkan sejenak beban pikiran yang berat dan penat, tapi banyak hal teralihkan termasuk keluarganya. Ia tak sadar semakin tak ingin keluarganya terimbas, nyatanya semakin jauh ia meninggalkan mereka.
Dibalik semua itu, ternyata banyak yang tak diceritakannya pada istrinya. Hanya sempat bercerita kalau keadaan kantor dan proyek sedang tidak baik, ada kesulitan ekonomi yang cukup fatal. Namun, setiap kali istrinya akan membantu, ia menolak. Berdalih bisa menyelesaikannya sendiri, tapi butuh waktu. Hal itulah yang menjadi alasannya sering pulang malam, berangsur menjadi jarang pulang katanya menginap di kantor, berujung tak memberi kabar sampai berhari-hari bahkan sulit dihubungi.
Namanya Yuniar, wanita asal Riau yang dinikahinya sebelas tahun yang lalu.
Menunggu bersama kedua anaknya di rumah. Memberikan kesempatan untuknya
menyelesaikan kesulitan dan setia menunggu tanpa banyak mengeluh. Sosok cerdas
lulusan S2 Arsitektur itu rela melepas impiannya untuk bisa bersama keluarga
kecilnya hidup tenang. Sesekali mengambil pekerjaan freelance kalau ada yang memang bisa
dilakukan dari rumah. Pernah sampai harus presentasi ke Jakarta dengan
menitipkan kedua buah hatinya ke mertua. Itupun didampingi suami. Ia tahu persis dimana ia harus menempatkan diri
sebagai istri yang mengutamakan ridho suami.
Sejak mertuanya meninggal, keadaan banyak berubah. Suaminya semakin sibuk, kurang perhatian pada keluarga karena ia harus lebih mandiri sepeninggal ayahnya. Tak ada lagi yang bisa diandalkan ketika proyek sedang mengalami kesulitan ekonomi.
Sejak itu, ia menjadi lebih sibuk dan sulit mempunyai waktu luang. Kehangatannya pun memudar. Yuniar masih mencoba memaklumi, meski ini tentu tidak mudah. Apalagi anak-anak sering menanyakan Mamiq. Kadang, mereka meminta menelfon, tapi tidak diangkat.
"Mungkin Mamiq sedang rapat. Nanti pasti ditelfon balik. Nanti Mama kasih tau, ya."
Ada hati yang teriris, tapi tak ingin memperlihatkan di depan anak-anak. Mereka tak boleh kehilangan sosok ayah, tapi sudah berapa lama tidak pulang. Tetangga beberapa kali menanyakan keberadaannya. Namun, hanya bisa dijawab "Masih ada kerjaan di Lombok Utara."
Lombok merupakan pulau kecil, tak ada alasan untuk tidak bisa pulang. Kalaupun tidak setiap hari, paling tidak seminggu sekali pun masih bisa. perjalanan paling jauh pun hanya 3jam perjalanan.
Yuniar bahkan sudah lama tidak ngobrol santai dengan suaminya. Ada rasa sepi dan rindu keadaan seperti dulu. Ia masih berharap semua akan kembali seperti semula setelah badai ini berlalu. Ia berusaha berpikir baik, suaminya sedang berjuang menyelesaikan masalahnya. Ia akan kembali seperti dulu setelah semua ini selesai.
"Apa yang bisa kubantu?"
"Ini berat. Kamu urus anak-anak aja udah capek. Udah, biar aku hadapi. Doakan aku ya."
"Pasti," Jawab Yuniar di kamar berukuran 3 x 4 malam itu.
Rasanya itu malam terakhir mereka ngobrol santai. Sejak hari itu, ia jarang pulang. Kalaupun pulang, ia memilih membawa anak-anak keluar sejenak tanpa Yuniar.
'Ini bukan dia.'
Sempat terbersit pikiran itu, tapi ditepis oleh Yuniar agar tetap bisa berfikir baik atas suaminya. Hingga keadaan berubah menjadi semakin tak menentu. Semakin jarang pulang, semakin tak bisa ditemui dan issue yang berhembus kencang, ia selingkuh.
Hatinya bergetar, tega sekali. Hancur luruh semua bangunan kepercayaan yang sudah dibangun. Beberapa bukti menunjukkan kalau itu nyata, meski Yuniar masih berusaha tak percaya. Ditahannya amarah yang mulai menyeruak mendesak ingin membuncah. Istighfar dan Al Qura'an menjadi pelarian setiap kali rasa itu ingin mendesak meledak. Anak-anak selalu bisa menjadi penyejuk. Hati sudah remuk, tapi sisi lain tetap bertahan utuh dengan adanya amanah dariNya sebagai pelipur lara.
Menemani hafalannya, menemani tumbuh kembangnya, menemani menjawab banyak pertanyaan-pertanyaannya. Hari demi hari dijalani untuk tak selalu merasa terpuruk atas perlakuan suaminya. Meski rasa itu kadang menyeruak mendesak berusaha meruntuhkan benteng pertahananan terkuat yang sudah dibangun tapi hati harus tetap teguh.
Air mata menetes tak terbendung dalam sujud dan doa. Berbulan-bulan lamanya. Menjadi semakin jarang karena terbiasa, tapi harap ia kembali itu selalu tersemat dalam doa. Bahkan, mertuanya tak mampu membawa anaknya pulang ke keluarganya.
Menyembunyikan ini semua dari keluarganya di sebrang pulau tentu tidak mudah. Berusaha bersikap biasa dan bahagia agar orang tuanya tak mengkhawatirkan. Masih ada harapan untuk bisa berubah meski keadaan semakin tidak jelas.
Saat mendengar anak-anak main ke rumahnya, beberapa menanyakan pada si Bungsu
"Bapakmu mana?"
"Kerja jauh."
"Sama kayak Ayahku. Ayahku juga lama pulang."
"Mamiq ku nggak pulang-pulang."
Deg. Seperti ada yang menindih di dadanya. Sesak. Air mata berusaha menyeruak. Segera Yuniar masuk kamar, menumpahkan sedikit sesak agar kembali ada ruang untuk bernafas.
Masih didengarnya pembicaraan dua anak tanpa dosa itu. Amanah dariNya yang selalu bisa jadi penguat untuk terus menjalani hidup.
"Aku kemarin video call ayahku, besok kalau pulang mau dibawain mainan."
"Aku telfon mamiqku nggak diangkat-angkat."
Air mata itu tak bisa dibendung lagi. Sakitnya menyayat. Allah sudah berkehendak, pasti ada hikmahnya. Namun, rasa ini sungguh menyayat. Melihat anak sekecil itu yang belum bisa mencerna keadaan, mendapati orang tua yang tak sempurna sedang berproses bersama.
(*&^%$#
Ada seorang sahabat memberitahu keberadaan suaminya. Sulit dihubungi dan tak pernah ingat menghubungi anak-anak selama dua tahun terakhir ini. Pernah dua kali pulang, ia hanya pergi mengajak anak-anak membeli makanan ringan, main di taman lalu pulang. Tak lama di rumah, bahkan tak ada ungkapan rindu untuk Yuniar. Hanya senyuman yang diberikannya.
"Doakan aku ya, semoga segera selesai masalah ini."
Hanya itu yang dikatakan untuk istrinya. Tak ada pelukan, tak ada penjelasan. Yuniar duduk mematung, seperti tak kenal sosok yang baru saja ditemuinya. Ini bukan dia Jelas ini bukan dia. Dia selalu hangat, meski jauh dari kata romantis, tapi dia selalu bisa memberi pelukan hangat dan menjadi tempat berkeluh kesah.
Yuniar seperti tidak sadar melihat suaminya pergi dengan motor butut sedang motor baru ditinggalkan untuknya mengantar anak-anak sekolah.
Hampa. Tak ada yang terisi di hatinya setelah kepulangan sesaat itu. Obrolan mereka seperti bertemu teman biasa, bukan seperti suami dan istri. Ia banyak menghabiskan waktu bersama dua anak mereka.
Ia ada di kota yang sama, tapi sulit dihubungi dan sulit ditemui. Orang tuanya bercerita kalau beberapa kali datang hanya untuk meminta uang. Tak lama dan tak ada penjelasan.
Sampai Yuniar mendapatkan informasi kos perempuan yang bersama suaminya. Ia ingin tidak percaya dan membuktikan kalau itu tidak benar. Bahkan, ada yang bilang ia berpindah agama. Hancur hatinya, tapi ini bukan akhir. Ia harus tetap kuat untuk dirinya dan kedua buah hatinya.
Banyak orang mengira ia terlalu baik, terlalu memikirkan orang lain, padahal ia hanya mencoba menjalani ujian kehidupan dengan sebaik mungkin. Menjaga agar banyak hati di sekitarnya tetap bisa merasa bahagia dan tak merasakan kepedihan yang sedang dialaminya.
Ada amanah dua anak yang kelak ia pertanggungjawabkan. Ada mertua yang sayang padanya dan anak-anak hingga mengambil alih urusan nafkah. Ada orang tua dan keluarganya yang tetap harus tenang di pulau sebrang. Tak ingin mereka sedih dengan keadaannya saat ini meski sudah beberapa kali mereka bertanya dimana Mamiq nya anak-anak. Bahkan lebaran juga tak terlihat di layar video call.
Hampir tiga tahun air mata sudah tak lagi mudah keluar. Yang ada hanya doa yang tak pernah putus hingga telefon kakak membuat hari itu menjadi berbeda
"Kamu nggak usah nutupin lagi. Suamimu dimana?"
"Ada, Kak lagi proyek."
"Kenapa pas kita telfon, video call, pas aja nggak pernah ada dia. Dia nggak pernah ada di rumah, kan?Kakak lihat di sosial media, dia pake baju adat sedang melakukan ibadah agama lain. Kamu udah pisah?"
"Nggak, Kak."
"Nggak usah bohong. Udah lama kakak curiga, tapi kali ini Kakak paksa Yu buat jujur. Kamu harus ambil keputusan untuk masa depan kalian. Apa yang sebenarnya terjadi? Kalian nggak baik-baik saja, kan?"
Bibir tercekat. Sudah tak bisa lagi mengelak. Rasanya semua sudah benar-benera sampai di titik ini. Mungkin sekarang saatnya. Takkan bisa menutupinya terus menerus.
"Yu..." Yuniar terdiam sejenak. Suara di ujung telefon terdengar cemas.
"Iya, Kak."
"Bener ya?"
"Iya,Kak."
Air matanya mengalir deras tanpa bisa dibendung. Isaknya tercekat sangat dalam.
"Udah lama?"
"Iya, kak."
"Berapa lama?"
"Dua tahun lebih, Kak." Yuniar menceritakan secara singkat apa yang dialaminya dua tahun ini.
Suara di ujung telefon itu lebih banyak diam, tapi Yu tahu kalau ada air mata yang tumpah di sana. Yu tahu kakak yang terlihat sangat tegar itu pasti terluka mendengar ceritanya.
"Kak, kasihan mertuaku. Dia baik, dia nggak tahu apa-apa."
"Kamu itu juga harus memikirkan diri sendiri."
"Aku tahu. Tolong jangan cerita ke Mama Papa sekarang. Nanti setelah Lebaran saja, ya. Supaya anak-anak bisa lebaran sama Niniknya dulu. Setelah itu, aku siap pulang ke Dumai."
Kak Ringga terdiam sejenak. Semulia itu hati adik bungsunya. Masih sempat memikirkan orang lain di tengah hatinya yang remuk redam. Anak-anaknya mungkin kesepian, tapi tak terluka. Yu menyembunyikan banyak hal dari mereka.
Anak-anak tumbuh sehat dan baik. Si Sulung rajin adzan ke Masjid. Tilawahnya bagus, bisa menggunakan banyak jenis langgam dan tentu Al Qur'an sangat dekat dengannya. Adiknya sudah hafal Suroh pendek di Juz 30 dan bisa membaca. Pemikirannya kritis dan jeli.
Melewatkan masa ketidakpastian tanpa sia-sia. Sebab amanah tak lepas meksi ujian melanda. Inilah cara melewati ujian untuk bisa naik kelas. Bukan untuk bersedih berkepanjangan atau meratapi berlama-lama. Semua tak akan berubah kalau tak ada usaha. Namun, qodarullah adalah sebuah keharusan yang harus diyakini sebagai kekuatan.
Hari itu, Yu membualtkan tekad untuk mendatangi tempat yang diberitahu oleh salah satu teman suaminya. Meski informasi ini sudah lama, tapi Yu belum berani mendatangi. Ia belum siap dengan segala konsekuensinya. Ia berharap suaminya tidak disana, tapi kalaupun ada disana, ia harus siap untuk menghadapinya.
Menghadapi kenyataan itu tidak mudah. Apalagi sebuah pengkhianatan. Namun, masalah tak akan selesai hanya menunggu. Sudah terlalu lama diam, saatnya untuk mengambil sikap. Meski opsi berpisah tak pernah ada dalam pilihan utama. Ia ingin membuktikan sendiri kalau semua yang orang bilang itu tidak benar.
Mendatangi sebuah alamat kos yang diberikan seorang teman, jantungya berdegup kencang. Masih di dalam kota, selama ini ia tak pernah pergi jauh, tapi sulit sekali bertemu dengannya. Semua kehangatannya sirna. Semua kelembutannya menguap, semua perhatiannya tak berbekas.
Kos-kosan itu ada di pinggir Kota Mataram. Hampir berbatasan dengan Rembiga, Lombok Barat. Telihat dari pagar dan gerbangnya yang khas seperti bangunan di Bali, sepertinya yang punya orang beragama Hindu dengan pura dan pagar ukiran. Terlihat pura yang menonjol sampai melewati batas gerbang tinggi. Kos daerah sini memang kebanyakan kos bebas. Siapapun boleh keluar masuk bahkan membawa pasangan tidak halal sekalipun tidak ada aturan.
Yu tak ingin berprasangka. Gerbang kos tidak dikunci. Plang bertuliskan nama kos terbaca jelas dari luar gerbang. No kamar yang diinfo temannya ada di deretan kiri. Pojokan, agak tersembunyi. Yu masih berharap tak menemukan suaminya di tempat itu. Kalupun ada disini, ia berharap tanpa ada wanita yang selama ini disebut dalam setiap cerita teman-teman.
Yu mendekati kamar no 8. Kos-kosan 10 kamar itu terlihat lengang. Tak banyak orang lalu lalang, tapi ada beberapa kamar yang terlihat membuka pintu, meski tertutup tanaman di depan kamarnya sehingga tak terlihat aktifitas orang di dalamnya.
Yu berjalan pelan menuju kamar no 8 seperti yang diinformasikan oleh seorang teman. Ada dua pasang sandal. Laki-laki dan perempuan, tapi sepengetahuannya, bukan milik suaminya. Motor yang terparkir di depan kos juga hanya satu dan bukan yang dibawa suaminya. Namun, memang katanya, motor itu sudah dijual untuk menutup biaya proyek.
Diketuknya pelan pintu kamar kos yang terlihat sepi. Seorang wanita muda membuka pintu. Parasnya manis, khas wanita Bali yang menyenangkan saat dilihat. Ia tersenyum melihat Yu, tapi bingung siapa yang ada di hadapannya.
"Cari siapa,Kak?"
"Benar namamamu Ria?"
"Iya." gadis muda itu makin bingung.
"Ada Bang Ikmal disini?"
Deg. Gadis muda itu terlihat kaget. Ia terdiam sesaat, bingung mau menjawab apa, tapi suara kamar mandi terbuka dan sosok yang ditanyakan wanita dewasa di depannya yang muncul. Bang Ikmal terlihat terkejut melihat istrinya ada di depan pintu kamar kos Ria. Matanya berusaha memastikan kalau yang dilihatnya itu benar, bukan mimpi. Ini nyata dan bukan halusinasi.
Runtuh langit sore hari. Mendung menggelayut siap menurunkan hujan badai sederas mungkin. Rasa sakitnya terasa begitu dalam. Seperti ada yang sedang menyayatnya. Benar ternyata kata mereka. Tak ingin rasanya percaya ini semua, tapi ini nyata.
Sosok yang selama ini hilang, ditemukannya disini. Wajahnya tak seperti dulu. Ia terlihat lelah, layu dan tak ada semangat. Keluar kamar sama terkejutnya dengan Yu.
"Kamu ngapain kesini?"
"Cari kamu. Selama ini kamu disini, Bang? Kamu nggak ingat anak istri ternyata disini," Yu menahan air matanya jatuh, tapi tak bisa. Air matanya meringsek keluar dengan deras. Dadanya sesak, seperti kehabisan napas. Namun, ia haru tetap kuat untuk anak-anak.
Laki-laki di hadapannya terdiam. Tak bisa menjawab, tak bisa memberi alasan. Ia berdiri tertunduk. Tak bisa lagi mengelak, percuma memberi alasan. Ia salah.
"Kamu punya rumah, Bang. Kita bicarakan di rumah, sekarang," Yu pergi meninggalkan laki-laki yang pernah begitu dicintainya, kini tak bisa berkutik. Perempuan muda yang tadi membuka pintu kamar kos tak bicara juga. Ia terdiam melihat sepasang suami istri itu menahan emosinya masing-masing.
Ia tahu ia salah, tapi rasa itu muncur tanpa disadarinya. Ia tak ingin merusak hubungan rumah tangga orang lain, tapi nyatanya semua berjalan begitu saja sampai sejauh ini. Sampai ia merasa sangat nyaman dengan sosok yang sudah memiliki anak istri itu.
Ia hanya tertegun melihat dua orang dewasa itu menjalani negosiasi. Yu meninggalkan kos terlebih dahulu tanpa berpamitan. Rasanya bergejolak. Suaminya yang baru saja tiba di kos gadis itu mengambil jaket lalu pergi dengan motor berbeda. Yu menoleh, memastikan sosok yang masih berstatus suaminya itu beranjak juga. Pulang.
Sepanjang perjalanan, Yu tak melihat spion. Air matanya terus mengalir, tak bisa dibendung Masker menutupi wajahnya basah kuyup, matanya sesekali kabur karena luapan air mata yang mendesak keluar bersamaan.
"Kenapa setega itu kamu," katanya dengan suara lirih yang bergetar di atas motor. Monolog itu mengiringi makin derasnya air mata yang terus keluar.
Dilihatnya di kaca spion ketika lampu lalu lintas berwarna merah. Ada sosok yang tadi ditemuinya di belakangnya. Tak mau berhenti di samping motornya, mungkin memang sengaja.
Yu melaju lebih cepat ketika jalanan sepi. Sampai di rumah, ia mendapati dua buah hatinya sedang bermain dengan teman-teman di luar rumah. Mereka tidak tahu kalau Mamiq pulang. Yu sengaja tidak langsung bilang ke anak-anak agar mereka bisa ngobrol terlebih dahulu.
Yu duduk di kursi depan dapur. Menaruh jaket dan masker di meja. Menunggu suaminya yang sengaja mengulur waktu masuk rumah.
Mamiq tak bisa mengelak. Kali ini ia harus mengahadapi Yu yang sudah menunggunya. Sudah tak ada linangan air mata, tapi jelas terlihat matanya bengkak dan memerah. Amarah masih memenuhi matanya, tapi berusaha ditahan. Ia pasti baru selesai menangis. Mamiq tak berani menatap mata Yu. Ia duduk lemah di sebelah sosok perempuan yang sangat dicintainya itu.
"Maumu apa, Bang?"
Mamiq masih diam. Yu mengulang kalimatnya.
"Aku minta maaf," katanya lirih. "Aku khilaf," tambahnya.
"Harus sampai aku menemukan bukti dari mata kepalaku sendiri baru kamu bilang ini? Aku nggak tanya berapa lama kamu punya hubungan dengan perempuan itu, sudah sejauh mana, aku nggak mau tau. Biar itu jadi urusanmu sama Allah. Aku serahkan semua. Sekarang aku mau tahu kita ini mau bagaimana? Nggak mungkin selamanya bakalan begini."
"Kasih aku waktu, Yu. Aku mau berubah, tapi aku butuh waktu menyelesaikan semua masalah kantor."
"Dari dulu ini aja alasanmu, aku mau bantu kamu nggak boleh, tapi kamu menghilang tanpa kabar. Anak-anak telfon pun kamu nggak angkat. Nggak usah inget aku kalau memang kamu udah nggak suka sama aku, tapi tolong putuskan hubungan kita mau bagaimana dan ingat anak-anak. Mereka butuh sosok ayah di masa tumbuh kembangnya. Jangan sampai nanti di masa dewasa mereka harus mencari sosok itu di orang lain. Ninik sudah meninggal, dimana mereka bisa dapat sosok itu?"
Mamiq tak bisa menjawabnya, hanya maaf yang bisa terucap lirih. Yu ingin bicara banyak, tapi ditahannya. Ia takut tiba-tiba anak-anak datang dan mendengar kalimat yang membuat mereka patah hati.
"Maumu apa sekarang? Aku butuh kepastian."
"Aku mau berubah, aku mau sama-sama kalian, tapi kasih aku waktu untuk menyelesaikan masalahku. Semuanya makin rumit, Yu."
"Apakah kalau disini kamu jadi makin tidak nyaman? Makanya kamu milih di kos perempuan itu? Apakah dia lebih bisa memberikan ketenangan dibanding aku dan anak-anak?"
"Aku nggak mau kalian kena imbas emosiku. Aku mau kalian tetap baik-baik saja, supaya debt collector itu juga nggak kesini. Aku nggak tinggal sama perempuan itu, aku pindah-pindah kos. Aku cuma sering numpang disana supaya nggak ketahuan."
"Aku nggak percaya. Aku yakin kamu punya hubungan. Terserah kamu. Kalau kamu serius sama omonganmu, aku mau bukti."
"Aku janji, Yu. Uang sekolah anak-anak gimana?"
"Oh, kamu masih ingat ternyata. Harusnya dari dulu kamu inget, Bang. Tabunganku udah habis. Mamak yang kasih uang bulanan ke aku."
"Syukur deh, aku minta maaf nggak bisa kasih uang bulanan dan biaya anak-anak. Aku sedang menutup hutang kantor pelan-pelan. Nanti aku usahakan ya."
"Kamu masih nggak mau aku bantu?"
"Nggak, Yu. Ini berat, kamu urus anak-anak aja."
"Hmh..." Yu kehilangan rentetan kalimat yang ingin dibicarakannya melihat sosok di depannya kehilangan wibawa. Lemah, lesu, kurus, tak seperti dulu.
"Bang, apa kurangku sampai kamu begini?"
Ingin sekali mengatakan 'Tega sekali, Bang' tapi sepertinya ini tidak akan mengubah apapun. Ia hanya ingin mendengar darinya kalau memang sudah tak ada lagi ruang untuknya di hatinya.
"Nggak ada, Yu. Aku yang salah, kamu baik sekali, Yu." Kembali ia tertunduk lesu. Ada sesal di nada suaranya, tapi ia sadar ia sudah sangat menyakiti banyak orang.
"Aku mandi ya, Yu. Aku mau ganti baju. Udah 2 hari aku nggak ganti."
Sepertinya benar, bajunya terlihat lusuh. Meski tidak tercium bau tidak enak, tapi penampakannya sekarang sangat tidak terawat. Yu mengangguk. Ia memanaskan air untuk membuat kopi panas.
Pisang goreng hangat pun disiapkannya juga. Anak-anak pulang saat menjelang maghrib.
"Ma, ada Mamiq?" Si Bungsu bersorak kegirangan.
Yu mengangguk. Anak-anak menghambur ke kamar. Menghampiri ayahnya yang sudah mandi. Terdengar suara tanya anak-anak tentang ayahnya yang tak pernah menjawab telfon dan tak pernah pulang. Sibuk. Satu-satunya alasan yang bisa diberikan suaminya pada dua anak yang sedang melepas rindu.
Perih rasanga melihat ekspresi ini. Entah berapa bulan mereka tak bertemu ayahnya padahal ada di satu kota. Mengingat telfon yang tak pernah diangkat, lukanya seperti tersayat. Yu tak ingin banyak berharap dengan kepulangan suaminya. Bahkan ia tak bisa memberi kepastian untuk tetap tinggal bersama mereka.
Malam ini terasa lama. Anak-anak tak mau pisah dari Mamiqnya. Yu memberi ruang mereka melepas rindu. Bagaimana dengannya? Ah, sudahlah. Rasanya juga rindu itu sudah semakin menjauh, ditambah melihatnya ada di kamar wanita lain. Yu tak ingin makin luka dengan bertanya apa saja yang mereka lakukan meski prasangka terus mendesak untuk menguasai. Ia berusaha mendekatkan hati dan fikirannya dengan Al Qur'an agar tak muncul pikiran yang merusak dirinya.
Kalau Allah masih memberi jodoh padanya dan suaminya, pasti akan ada jalan, tapi kalau memang tidak, tak apa. Sampai disini saja kisah mereka. Tak mudah untuk kembali percaya setelah semua yang terjadi bahkan sampai tertangkap basah. Bukan tak percaya, tapi rasa itu sudah mulai memudar. Diserahkan semua padaNya, biarkan Ia yang membolak-balik hatinya. Tak ada espektasi lagi untuk hubunga mereka, Yu hanya berharap anak-anak tidak kehilangan sosok ayah.
Malam ini, anak-anak terlihat sangat bahagia. Mereka tidak keluar main seperti biasanya. Mereka melepas rindu yang dipendam cukup lama. Mamiq mendengarkan cerita anak-anak. Setiap mereka menanyakan kenapa jarang pulang dan tidak menjawab telepon, selalu dijawab sibuk kerja.
Yu masih belum bisa lupa apa yang dilihatnya siang tadi. Menemukan suaminya di kamar wanita lain baru keluar dari kamar mandi. Apakah ia sudah tak lagi bisa memberi bahagia, hingga harus mencari orang lain? Apakah rumah ini sudah tak bisa memberinya tenang hingga mencari tempat lain? Apakah cinta itu sudah benar-benar tak tersisa hingga bisa menggantinya dengan yang lain?
Semua berkecamuk. Malam itu ia tak bisa tidur. Tidur kembali bersama berempat, justru dialog antara Yu dan suaminya hampir tidak ada. Mereka hanya bicara yang penting-penting saja. Saat Yu tidak bisa terlelap, suami dan anak-anaknya bisa lelap.
Semalaman Yu menengadahkan tangannya di atas sajadah. Meluapkan segala keluh kesah dan rasa yang tak bisa terkatakan. Yu ingin bertanya, tapi ia tak sanggup dengan jawaban terburuk yang mungkin akan diberikan oleh suaminya. Sepertinya ayah dari anak-anaknya juga menghindari perbincangan soal mereka berdua.
Paginya, Yu sudah menyiapkan sarapan dan keperluan sekolah si Sulung. Mia, si Bungsu belum sekolah. Yu tak lagi menyiapkan keperluan kerja suaminya. Meski tak ada seragam, tapi Yu biasa menyiapkan kemeja dan celana juga kaos kaki yang digunakan hari itu. Namun, hari ini Yu bingung apa yang harus disiapkan. Sudah lama Yu tak menyiapkan apapun untuk suaminya yang tak pernah pulang.
Kemeja favorit Yu untuk dikenakan Mamiq disiapkannya di kamar sebelah. Sebuah celana jeans biru dongker ada di sampingnya, tak lupa kaos kaki hitam pendek ada di sana. Ada getir menyelusup, entah kapan terakhir ia menyiapkan semunya. Bahkan, Yu lupa wangi parfum suaminya karena tak ada lagi yang semerbak di rumah ini.
Selesai Sholat Subuh, tumben Adi tak ke musholla karena ada Mamiq di rumah, anak-anak kembali mengeglayut di samping Mamiq. Yu ingin bertanya, tapi tak ingin didengar anak-anak. Mendesak pertanyaan tentang posisi dirinya di hati dan pikiran suaminya mendesak ingin ditegaskan.Ia sadar kalau cepat atau lambat ini harus dijawab. Ia butuh kepastian.
Namun, tak ada waktu yang tepat. Yu sempat berkata,"Aku mau ngomong berdua, Bang."
"Iya, nanti ya Yu. Aku harus cepet ke proyek. Biar aku yang antar Adi," katanya dengan raut muka yang lebih cerah. Tak seperti kemarin. Yu menyimpan harap, nanti ia akan pulang ke rumah ini.
"Pulang jam berapa nanti?"
"Belum tahu, saya mau cek proyek drainase di Lombok Tengah. Mudahan cepet selesai, " katanya sambil tersenyum.
Senyum yang sudah lama tak dilihatnya. Namun, sayu matanya tak bisa menutupi banyak beban yang sedang dipikulnya.
Tak banyak waktu untuk mereka berdua karena Mamiq menghabiskan waktu untuk anak-anak. Biarlah anak-anak memenuhi tangki cintanya.
Setelah Adi dan Mamiq pergi, rasa sesak itu kembali muncul. Namun, Yu ingat kalau ada Terget hafalan Mia yang harus diselesaikan. Ia pun mengajak Mia untuk murojaah Surah An Naba yang sudah selesai talaqi dan menghafal. Kesibukan membersamai dua amanah yang dititipkan untuk bisa berlajar Al Qur'an bersama membuat Yu tak larut dalam pikiran tak menentu.
Kalau benar nanti suaminya pulang, Yu ingin memasak kesukaan suaminya. Ia ingin masak sayur lebui dan ikan bumbu kuning dengan banyak kuah.
*&&^%$
Sampailah saat harus dijemput kedua orang tuanya. Tak bisa lagi Yu menutupi semuanya. Ia hanya meminta Kak Maya untuk menunda memberitahu kedua orang tuanya sampai selesai Idul Adha. Memberi ruang pada kedua buah hatinya untuk bersama Niniknya di Hari Raya. Kak Maya sudah lama menanyakan hal itu, tapi masih ditutupinya.
Sudah lama juga ia tak pulang ke Riau. Namun, ia tak mau orang tuanya khawatir akan dirinya. Sampailah hari ini, ketika ia akhirnya jujur pada kedua orang tuanya tentang keadaan rumah tangganya. Mereka meminta Yu segera mengurus kepindahan sekolah Adi dan berkemas. Seminggu lagi mereka datang menjemput ia dan kedua cucunya pulang ke Riau.
"Bukan untuk dipisahkan, tapi kami tak tega melihatmu seperti ini. Silahkan kalau dia masih punya itikad baik, dia bisa jemput kalian kembali," ucap Papa di ujung telefon.
Yu tak bisa mengelak. tTak ada yang tega melihat anaknya diperlakukan seperti ini.
Ia menceritakan keputusan kedua orang tuanya pada mertuanya, Niniknya anak-anak. Tangis itu pecah, tapi ia pun tak bisa menahan. Putranya bersalah, tapi ia juga tak bisa menasehati. Ia berusaha ikhlaskan untuk kebahagiaan mereka. Ninik membantu menantu dan cucunya berkemas.
Minggu itu menjadi minggu yang sangat sibuk. Ia harus segera berkemas.
"Barang-barangmu jual saja. Mamak udah ada semua," ucap mertuanya. "Rumah ini tetap untuk Adi dan Mia, ya. Mamak bantu rawat selama kalian di Riau. Maaf ya atas perlakuan anak Mamak," sesak rasanya melihat mertua yang baik itu terluka.
Yu masih berharap dengan suaminya. Entah masih bisa disebut suami atau tidak setelah bertahun-tahun tanpa nafkah lahir batin.
Ia mengirim pesan whatsapp yang dia tahu takkan dibalas. Pertemuan terakhir setelah hari itu yang ternyata ia tak pulang lagi membuat Yu tersayat.
- Bang, aku dijemput Mama Papa pulang ke Riau sama anak-anak. Barang-barang sebagian kujual. Tanggal 8 Agustus ini pesawat kami siang. Kalau Abang belum sempat ketemu anak-anak sebelum kami berangkat, bisa ke Riau. Orang tuaku tidak marah, mereka hanya ingin dekat denganku dan anak-anak-
Tak diduga, pesan itu dibalas setelah seharian.
-Yu, aku minta maaf, aku usahakan ketemu Mama Papa sebelum kalian berangkat dan aku janji kalau semua sudah selesai, aku akan jemput kalian kembali. Maafkan aku, Yu-
Yu tak mau berharap lagi, semua sudah cukup. Ia bahkan tak yakin kalau suaminya akan bertemu kedua orang tuanya. Namun, ia masih berharap suaminya menepati janjinya menjemputnya dan kedua buah hatinya nanti di saat yang lebih baik.
Proses kepindahan ini penuh haru. Dengan alasan Mamiq nya anak-anak pindah kerja, Yu meluapkan kesan yang dalam di tempatnya membersamai anak-anak tumbuh.
)(*&^%$
Sekarag Yu mengambil keputusan. Setahun setelah pulang ke Riau dan menjadi dosen, akhirnya Yu melayangkan surat permohonan perceraian di Pengadilan Agama di daerahnya. Pengadilan tak berlama-lama memberi putusan karena memang sudah tak ada nafkah sama sekali yang diberikan.
Rasanya lebih lega dan tenang.
Hampir tiga tahun tanpa ketidakpastian, tanpa kejelasan dan tak pernah ada lagi
harapan. Yu sudah ikhlas dengan semua yang terjadi padanya. Kesibukannya
menjadi dosen di sebuah kampus baru di kotanya membuatnya tak punya banyak
waktu untuk resah dengan keadaan rumah tangganya.
Ini bagian dari qodarullah. Tak
ada yang luput dari ketetapanNya. Anak-anak tumbuh menjadi anak-anak yang baik
dan sehat. Mereka tingal bersama orang tua Yu selama ia bekerja. Sebisa mungkin
Yu mengusahakan menjemput karena Kakek yang mengantar mereka sekolah. Kampus Yu
letaknya tidak searah dengan sekolah anak-anak.
Namun, Yu selalu mengusahakan untuk mengambil peran. Menikmati waktu bersama anak-anak yang sudah
tak banyak lagi. Terkadang, rindu itu menyergap. Kalau saja keluarga mereka
utuh, anak-anak pasti akan lebih bahagia. Ditepisnya segera segala angan tak
pasti itu. Dikuatkannya anak-anak.
“Mamiq mana, Ma?” pertanyaan yang
dulu dijawabnya dengan sedang sibuk bekerja kini mulai dirubah. Mereka sudah
mulai beranjak besar dan mungkin inilah saatnya mereka tahu.
“Mamiq di Lombok. Mamiq dan Mama
nggak sama-sama lagi, tapi Mamiq masih tetap bisa ajak kalian main kapan aja.
Mungkin sekarang masih sibuk.”
Kalimatnya terhenti. Sulit menceritakan perpisahan ini ke anak-anak. Apa yang bisa mereka mengerti dengan
apa yang terjadi pada kedua orang tuanya.
“Nggak sama-sama lagi gimana Ma?”
“Mama sama Mamiq sudah berhenti
menikah.”
“Jadi Mamiq bukan bapak kita
lagi?”
“Nggak, Mamiq tetap bapak kalian,
tapi bukan suami Mama.”
Tidak mudah pasti mereka memahami
ini, tapi nanti mereka akan semakin memahami apa yang terjadi pada kedua orang
tuanya.Yu meyakini kalau yang diberikan untuk kedua buah hatinya adalah yang
terbaik Allah tahu usahanya memantaskan menunaikan amanah.
Meski tidak sempurna, tapi ini
adalah cara Allah menguatkan kedua buah hatinya. Makin membaca siroh, makin
kuat rasanya. Nabi dan Rosul yang kuat dan tangguh juga ditempa dengan
pengalaman hidup yang tidak mudah. Inilah yang mereka sedang jalani. Ini yang
sedang mereka ikhtiarkan untuk menggapai ridhoNya.
Doa menjadi pengiring jalan. Doa
menjadi pennguat langkahnya dan anak-anak. Teriring keluarga yang tak pernah
lelah membersamai. Yu sadar ini adalah bagian dari takdirNya. Ia pasti mampu
melewati ini.
Menjadi seorang single parents tidak mudah. Anak-anak seperti diyatimkan, padahal mereka masih punya Ayah. Sebuah kajian Ustadz Salim A. Fillah dikirim seorang teman tentang kisah dua Nabi besar yang masih punya ayah tapi diyatimkan untuk ditempa menjadi sosok yang kuat. Nabi Yusuf a.s dan Nabi Ismail a.s merupakan dua utusan Allah SWT yang harus tumbuh dewasa jauh dari sosok seorang ayah. Padahal, ayah mereka ada.

Comments
Post a Comment