Skip to main content

Bermain Layang-Layang #LoRa Mau Kemana 3


Penghujung libur sekolah ditutup dengan kegiatan bersama Lombok Read Aloud (LoRA) mengenl lebih dekat permainan tradisional. Permainan yang memiliki banyak manfaat ini masih banyak anak-anak yang memainkan, tapi jarang yang bisa membuatnya. 

Anak-anak mulai fokus saat saya membuka acara.

Antusias anak-anak mengikuti kegiatan LoRA mau kemana 3

Kal Ilmi Membacakan Buku Berjudul Kota Layanh-Layang





Bernyanyi bersama 

Memba

Memantik kembali ketertarikan dalam membuatnya dan memainkannya menjadikan mereka bisa mendapatkan manfaat permainan tersebut. Membuat layang-layang memiliki banyak manfaat. Anak-anak belajar untuk bisa membuat mainan sendiri, belajar keseimbangan dengan menyesuaikan letak ikatan benang pengikat layang-layang agar bisa terbang sempurna.

Bermain layang-layang membuat anak-anak mengetahui manfaat energi yang ada di alam untuk bisa menggerakkan suatu benda. Konsep dasar terciptanya pesawat dan sejenisnya dengan memanfaatkan angin. Anak-anak juga belajar sabar untuk bisa menerbangkan layang-layang dengan memperkirakan kecepatan angin. Angin yang kurang besar ataupun terlalu besar tidak bisa membuat layang-layang terbang tinggi. Selain itu, tarik ulur tali merupakan cara untuk layang-layang tetap bisa terbang. Sesekali harus diulur, sesekali harus ditarik. Filosofi kehidupan yang diterapkan dalam permainan yang terlihat sederhana, tapi penuh manfaat. 

Semakin sempit lahan bermain anak dan keterikatan dengan gadget membuat anak-anak tidak lagi tertarik pemainan fisik. Apalagi semakin banyak mainan jenis baru yang berdalih menambah kecerdasan otak, tapi mengesampingkan kebutuhan sosial anak. 

Kegiatan Lombok Read Aloud kali ini diselenggarakan di Ruang Terbuka Hijau (RTH) atau banyak disebut Hutan Kota Mataram yang ada di Pagutan. Letaknya di pinggiran kota Mataram, tapi aksesnya cukup mudah. Areanya yang sangat luas dan lapang  cocok untuk bermain layang-layang dan berkegiatan. Anak-anak bisa bergerak bebas sepanjang pengawasan orang tua. 

Hari Minggu. 14 Juli 2024 menjadi waktu yang sangat dinantikan. Pukul 08.00 WITA, panitia sudah siap menyambut kedatangan peserta. Membawa banyak bahagia untuk bisa berbagi bersama. Kegiatan offline kedua LoRA ini memantik antusias yang cukup besar hingga penutupan pendaftaran masih banyak yang ingin bergabung. Kami membatasi jumlah peserta untuk bisa maksimal mendampingi adik-adik dalam berkegiatan. 

Satu persatu peserta datang didampingi orang tua. Karpet sudah digelar di atas hamparan rumput siap menyambut kedatangan peserta dengan buku dan kertas mewarnai yang tersedia. Sambil menunggu, adik-adik bisa mewarnai, bisa membaca buku bahkan bercerita dengan teman-temannya. 

Kegiatan yang seharusnya dimulai pukul 09.00 WITA harus mundur 30 menit karena beberapa kendala. Panitia menggeser lokasi acara ke tempat yang lebih teduh karena sudah mulai panas. Meski tidak jauh, memindahkan beberapa barang nyatanya memakan waktu sampai harus terlambat memulai acara. 

Antusias peserta membuat panitia makin semangat memulai. Acara dimulai oleh Kak Venti sebagai MC kemudian perkenalan Lombok Read Aloud oleh Kak Via selaku Ketua LoRA. Dilanjutkan Membacakan Buku berjudul Kota Layang-Layang Terbang karya Nha Thuyen oleh Kak Ilmi. 

Selesai mendengarkan Kak Ilmi membacakan nyaring, adik-adik antusias untuk menjawab pertanyaan dari Kak Ilmi. Ada 5 orang peserta yang mendapatkan hadiah hiburan berupa buku cerita dari panitia. Menyenangkan sekali, bukan?

Acara dilanjutkan dengan membagi peserta menjadi 3 kelompok usia untuk memudahkan saat menandu membuat layang-layang. Kit yang sudah ditaruh dalam Goodey Bag dibagikan oleh Kakak-kakak panitia di setiap kelompok usia. 






Adik-adik usia 7-10th dipandu oleh Kak Ega dan Kak Ning. Ada 10 anak dalam satu kelompok. Anak-anak di usia ini sudah lebih mandiri sehingga tidak lagi didampingi orang tuanya. 

Adik-adik usia 4-6th sejumlah 14 anak dipandu oleh Kak Ilmi dan Kak Venti. Kelompok usia ini masih didampingi orang tuanya. Namun, tidak sepenuhnya dikerjakan oleh orang tuanya. Ada arahan lebih detail dari orang tua juga merapikan guntingan, tapi mereka tetap ikut andil dalam membuat pola dan menggunting juga menempel kertas pada kerangka layang-layang yang sudah dibuat. 

Adik-adik usia 4 tahun ke bawah ada 6 orang dipandu Kak Via dan Kak Winny. Usia ini masih sepenuhnya dibantu orang tuanya sehingga anak-anak hanya bertugas memperhatikan apa yang dilakukan orang tuanya. 

Selesai membuat layang-layang, semua anak berusaha untuk menerbangkannya. Ternyata ada banyak kreasi layang-layang yang dibuat. Ada yang membuat ekor, ada yang membuat mata dan mulut tersenyum dan masih banyak lagi. Angin bertiup terlalu kencang, banyak yang tidak bisa terbang sempurna, tapi tetap semangat untuk berusaha menerbangkannya. Tali yang digunakan untuk mengikat sudah dipilih dari benang kasur agar tidak tajam

Sambil bermain, snack dibagikan lalu dilanjutkan membagikan sertifikat kegiatan. Adik-adik diberi kesempatan foto dengan sertifikat juga bersama Ayah Bunda. Acara kemudian ditutup dengan foto bersama panitia dan peserta setelah sertifikat semua terbagi merata. 

Alhamdulillah, sebelum adzan dzuhur, acara selesai dan semua senang. 



Panitia kegiatan yang luar biasa. LoRA mau kemana #2 (Kak Ning, Kak Winny, Kak Venti, Kak Winda, Kak Via, Kak Ega, Kak Ilmi dan Kak Kiki)

Apa saja manfaat dari kegiatan ini?

Pada halaman belakang sertifikat yang diterima peserta, sudah dijelaskan beberapa aspek tumbuh kembang yang didapatkan dari kegiatan ini diantaranya:
  1. Aspek Sosial dan Emosional : Anak-anak belajar berinteraksi dengan teman-teman baru, mengikuti aturan sosial, rasa puas dan percaya diri serta pengelolaan emosi.
  2. Aspek Fisik : Kegiatan ini melibatkan keseimbangan dan keterampilan spasial, keterampilan motorik halus dan kasar, serta koordinasi tangan dan mata.
  3. Aspek Bahasa dan Komunikasi: Anak-anak diajak mendengarkan tentang layang-layang dan dilibatkan dalam diskusi.
  4. Aspek Kognitif: Anak-anak mampu membuat layang-layang dan menyesuaikan perubahan angin saat menerbangkan layang-layang.
  5. Aspek seni dan kreatifitas: Anak-anak mendapatkan kesempatan untuk mengekspresikan diri, melatih kreativitas dan berinovasi secara menyeluruh.
  6. Aspek spiritual dan moral : Kegiatan ini mengajarkan anak rasa syukur atas keindahan alam ciptaan Tuhan, serta nilai tanggung jawab, kejujuran dan pantanh menyerah.
Seru, bukan? Sudah tidak sabar LoRA mau kemana lagi ya....

_Cerita Venti_

Comments

Popular posts from this blog

Barima (Membaca Nyaring Bersama) Menjadi Ajang Silaturahmi Member Lora di Perpustakaan dan Taman Baca

  Barima bersama adik-adik SDI Bidayatul Hidayah di Perpustakaan Kota Mataram Barima di Perpustakaa Kota Mataram bersama Member Lombok Read Aloud Barima di Pusda Lombok Timur Read Aloud Lombok menjadi komunitas kedua yang membuatku kembali menemukan rumah. Mendapati teman-teman yang luar biasa di dunia nyata, mendapati teman-teman yang punya semangat bermanfaat yang tak kenal lelah membuat saya semakin semangat.  Barima, Membaca Nyaring Bersama menjadi ajang kumpul para member Lombok Read Aloud di Perpustakaan. Ada di Perpustakaan Daerah di Lombok Timur dan Perpustakaan Kota di Mataram. Setiap dua kali dalam satu bulan, kegiatan tersebut rutin dilakukan.  Tujuan kami adalah mengajak lebih banyak orang tua untuk membacakan buku pada anak-anaknya, merasakan manfaat membaca nyaring untuk peningkatan minat baca anak, literasi anak dan bonding dengan anak. Manfaat membaca nyaring bisa dirasakan lebih banyak orang, bisa menyebarkan kebaikan ke lebih banyak orang dan yang pentin...

Kegiatan Rumah Peradaban Pagutan Bersama Read Aloud

 Rumah Peradaban adalah sebuah wadah yang difasilitasi oleh Spirit Nabawiyah Community untuk lebih banyak orang mengenal siroh melalui buku. Melalui buku, anak-anak bisa belajar banyak hal. Selain memahami isi buku yang dibaca, membawa buku melatih kesabaran, melatih berfikir kritis, melatih menyimpulkan setelah membaca yang berarti bisa memasukkan unsur bijaksana, melihat banyak sudut pandang juga memiliki wawasan yang lebih luas.  Membaca kini sudah tersingkirkan sejak adanya gadget yang membuat anak-anak bisa mendapatkan informasi dengan mudah. Ditambah ketika pandemi, semua harus melalui daring bahkan anak-anak sampai diberikan hanphone sendiri sampai kadang terlewat untuk memantau mereka dan memberikan batasan. Akses gadget tanpa batas membuat anak-anak semakin pasif dalam berinteraksi dengan lingkungan.  Melihat fakta dunia anak sekarang miris sekali rasanaya melihat mereka berkegiatan tanpa ada manfaat dengan gadget. Mereka tenggelam dalam kesenangan tanpa ada gera...

Yant Sorghum, Pioneer Budidaya dan Olahan Sorgum di NTB

  Sorgum merupakan sebuah tanaman lahan kering yang kaya manfaat. Namun, tanaman ini kurang dibudidayakan karena dirasa kurang menjanjikan. Sorgum  ( Sorghum bicolor (L .) Moench ) termasuk famili Graminae (Poaceae )   ini sebenarnya sudah dikenal sejak zaman nenek moyang kita, tapi tidak banyak yang memanfaatkannya. Bahkan di Lombok pun hanya digunakan sebagai pakan ternak sehingga tidak banyak petani yang tertarik untuk membudidayakannya. Tanaman ini tidak sulit dibudidayakan sebab merupakan tanaman lahan kering yang cocok dengan lahan pertanian yang ada di beberapa daerah di Pulau Lombok. Namun, karena hanya biasa dimanfaatkan untuk pakan ternak, tidak banyak petani yang membudidayakannya.     Peluang ini dilihat oleh Ibu Nur Rahmi Yanti. Seorang penyuluh pertanian lulusan Universitas Mataram ini memulai pengembangan budidaya sorgum di Lombok. Melihat manfaat sorgum dan ingin mencari sesuatu yang baru untuk diproduksi, Ibu Yanti mencoba untuk mengembangka...