Skip to main content

Sekolah, Keresahan Orang tua, Ambisi dan Gengsi

 Sekolah untuk anak-anak selalu menjadi topik yang tak pernah berhenti dibahas. Setiap orang tua tentu ingin memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya, tanpa terkecuali. Namun, kadang mereka lupa untuk mempertimbangkan perasaan anak-anak dan kesukaan mereka.

Banyak orang tua yang memilih sekolah karena gengsi, memilih sekolah favorit meski mungkin sebenarnya nilai dan zona anak itu tidak memenuhi syarat untuk bisa masuk disana. Mereka ingin menunjukkan kalau anak-anaknya adalah anak hebat dengan masuk di sekolah tersebut. Meski pada kenyataannya memang ada yang masuk tanpa kriteria yang benar.

Meski sudah menggunakan web atau apapun, tapi masih banyak yang menggunakan jalur 'orang dalam' agar anak atau kerabatnya bisa masuk di sekolah tersebut. Berbagai alasan diungkapkan, tentu semua itu ada imbal baliknya. Inilah yang merusak kejujuran sistem pendidikan. 

Bahkan, bukan hanya orang awam saja yang melakukannya. Bahkan orang yang berpendidikan tinggi, pejabat pemerintahan yang katanya peduli dengan sistem pendidikan yang melakukannya. 

Miris sebenarnya melihat fenomena seperti ini dianggap biasa di masyarakat.

Berikut beberapa dampak yang tidak baik pada anak dengan titipan masuk sekolah

- Memberi contoh tidak sportif

- Menurunkan tingkat kegigihan berjuang pada anak karena anak memiliki zona nyaman. Meski dia tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkan, akan ada bantuan dari orang lain yang akan membuatnya bisa mendapatkannya. 

- Anak-anak bermental manja. Mereka cenderung meminta bantuan kepada orang di sekitarnya kalau merasa kesulitan. 

- Anak menjadi kurang tahan bterhadap tekanan karena terbiasa dibantu dan tidak pernah merasakannya. Kegagalannya akan dibantu orang lain untuk bisa mewujudkannya.

- Anak menjadi tidak memiliki pengalaman perasaan sedih, kecewa yang sekaligus tidak akan tahu bagaimana cara menangguanginya. Kelak, ketika dewasa, dia akan sulit meregulasi emosinya sendiri, apalagi membersamai anak keturunannya untuk meregulasi emosi.

-  Anak menjadi generasi yang tidak tangguh karena terbiasa dibantu.

- Tertanam sifat yang menganggap hal tidak sportif itu biasa, menjadikan korupsi dan nepotisme menjadi hal yang biasa.

- Nilai kejujuran menjadi bias. Hal yang diluar kebiasaan bahkan di luar nilai kebaikan dijadikan biasa akan membuat nilai kebaikan menjadi bias dan tidak lagi seperti yang seharusnya. 

Jadi jangan heran kalau anak muda menjadi generasi penerus akan menjadi generasi yang manja dan mudah menyerah. Tidak mau kesulitan bahkan tidak tahan terhadap tekanan. Generasi seperti ini yang akan mudah melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme. Mereka akan hanya berorientasi materialistis karena sudah tertanam kalau masalah bisa diselesaikan dengan uang. 

Jadi Parents, berhati-hatilah dalam bertindak meski itu dengan dalih untuk kebahagiaan anak-anak. 

Bukankan itu fatal? Tapi nyatanya masih banyak yang menyepelekannya. Mengedepankan kesenangan sesaat untuk memenuhi gengsi dan ambisi. Melupakan tujuan pendidikan sebenarnya untuk memberikan pengalaman dan rasa yang berbagai macam untuk anak-anak bisa menghadapi dunia dengan lebih tangguh dan bijaksana. 



_Cerita Venti_

Comments

Popular posts from this blog

Menikmati makan di Tengah Kebun Bambu, rasanya Seperti di Kampung

Siang itu, kami tidak punya tujuan makan siang. Salah seorang dari kami mengajak untuk ke Bonjeruk, begitu tempat makan ini terkenal di kalangan orang-orang. Belum ada diantara kami yang sudah pernah datang untuk makan di tempat yang katanya makanannya cukup khas. Kami mencoba menelusuri menggunakan Gmap dengan petunjuk arah Bonjeruk. Kami menemukan arah menuju Warung Bambu, Desa Wisata Bonjeruk Lombok Tengah.  Perjalanan menuju ke lokasi tidak lebih dari 30 menit perjalanan dengan kecepatan sedang. Bagi kami yang sudah tinggal di Lombok, lokasi ini tidak sulit ditemukan, Namun, bagi pendatang yang menjelajah Lombok sendiri mungkin butuh waktu lebih lama karena harus memperkirakan arah. Namun, google map cukup membantu dan akurat menunjukkan lokasi ini.  Ada 2 lokasi Warung Bambu ini. Kami singgah di lokasi cabang dari warung utamanya. Menurut penuturan karyawannya, di lokasi ini warung hanya buka sampai pukul 18.00 WITA, sedangkan di cabang utamanya buka hingga pukul 21.00 WI...

Ujung Pertemuan Kita

Mbak Andin.... Jazakumullah Khoiron Katsiron Persahabatan kita membuat banyak kenangan indah. Persahabatan kita membawa banyak kebaikan. Persahabatan kita membuatku banyak belajar.  Aku tahu betapa kau adalah wanita yang luar biasa. Menghadapi banyak hal dengan selalu husznudzon pada Allah SWT, bertumbuh pantang menyerah untuk menjadi lebih baik. Kau yang mengajarkanku untuk menghadapi banyak hal dengan gagah berani. Sekarang ataupun nanti, semua pasti harus dihadapi.  Aku banyak belajar tentang kekuatan menghadapi darimu. Meski pahit, hadapi saja. Minta pertolongan dan kekuatan padaNya, pasti ini juga akan terlewati.  Terimakasih sudah terus saling menguatkan dan menjadi tempat yang nyaman untuk berkeluh kesah. Tak pernah menyalahkan, tapi memahami. Kau tahu, bersahabat denganmu adalah zona nyamanku. Namun, sekarang aku harus siap untuk keluar dari ini. Bukan berarti persahabatan kita akan berakhir, tapi jarak yang membuat kita tak bisa sering bertemu pasti akan membuka ...

Outbound Aqil Baligh

Usia si sulung sudah 10 tahun. Saatnya kami sebagai orang tua untuk mengenalkan tentang Aqil Baligh. Saat seperti ini, ternyata ada yang membuat sebuah kegiatan yang menyenangkan.  Outbound reflektif aqil baligh yang diselenggarakan oleh Cahaya Bangsa. Sebuah institusi pendidikan yang dididirikan oleh Ustadz Yulhaidir, psikolog anak yang ingin menghadirkan pengalaman menyenangkan pada anak, tapi tetap bermakna sehingga kesan yang tertanam akan terus terngiang lekat dengan makna yang terkandung di dalamnya.  Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 15 Februari 2025 di lingkungan sekolah Cahaya Bangsa yang ada di Lenek, Lombok Timur. Bukan pertama kali, kegiatan seperti ini sering diadakan oleh Cahaya Bangsa sebagai cara untuk menjembatani anak-anak kembali mengenal alam, kembali dekat dengan alam untuk mengembalikan kepekaan pada alam.  Saya dan anak-anak berangkat dengan menggunakan engkel, angkutan umum yang ada di Lombok dari Matara sampai ke Lombok Timur. Sebuah kendaraa...