2 November lalu, kami bertiga, saya, si Sulung dan ayahnya menonton Senggigi Sunset Jazz Festival 2025. Ayah memberikan kami tiket sejak tiga bulan yang lalu saat dibuk early bird pembelian tiket. Ia tau si sulung sangat suka Juicy Luicy yang saat ini sedang banyak dikenal dengan lagu-lagunya yang hits.
![]() |
| panggung (dokumentasi pribadi) |
Kami seuk menikmati lagunya dan ayah ingin menghadiahi untuk ulang tahun Nada yang bertepatan dengan pertunjukan music itu. Meski hari itu kami cukup sibuk karena harus kondangan ke Sembalun paginya, tapi kami bisa sampai di lokasi acara pukul 18.00 WITA saat sedang istirahat sholat Maghrib.
Pertunjukan Bernadiya sudah terlewat, tapi lautan manusia masih memadati lokasi acara. Setelah mendapatkan tempat parkir yang sudah padat kendaraan, kami langsung masuk menukar e-tiket dengan gelang di panitia yang berjaga di jalan masuk.
Ada 3 tipe tiket yang ditawarkan yaitu VIP standing, VIP seat dan Festival. VIP standing ada tepat di depan panggung, disekat sebuah pagaar besi dengan penonoton dengan tiket festival. Tentu karena harganya yang paling tinggi dibanding yang lain. VIP seat ada di bagian samping dengan kursi yang tertata rapi meghadap ke panggung. Sedang tiket festival tentu yang paling terjangkau sehingga paling banyak penontonnya.
Kami membeli tiket fetsival seharga Rp. 90.000/orang bulan September 2025 sedang harganya saat sudah normal sekitar Rp. 120.000 - Rp. 150.000. Cukup lumayan hemat kantong kalau beli 3 tiket.
![]() |
| gerbang masuk festival (dokumentasi pribadi) |
Saya dan suami mungkin menjadi segelintir generasi milenial yang ada di lautan anak Gen Z yang ada di lokasi. Saat kami memasuki area festival, sebagian besar masih duduk memperthankan posisinya agar tidak diambil orang.
Hari mulai gelap, matahari sudah tak terlihat untuk memberi cahaya dan kehangatan. Angin pantai menjadi semakin kencang, tapi tak memberikan sejuk di tengah lautan manusia yang sedang menunggu idolanya melantunkan suara emasnya.
Datang bersama teman, ada yang asik ngobrol, ada yangs sedang makan jajann yang ada di boot umkm yang berjajar di samping lokasi festival.
Ayah mencarikan temapat yang nyaman dari desakan untuk menonton. Kami sengaja tidak memilih di depan karena pasti akan panas karena semua berdesakan ingin ada di depan. Ada sebuah gundukan tanah yang bisa dijadikan pijakan agar bisa berdiri lebih tinggi. Meski ada 2 layar besar di kanan kiri panggung tapi tetap saja panggung menjadi hal yang harus terlihat jelas.
![]() |
| pertama kali nonton konser (dokumentasi pribadi) |
Selama menunggu, tentu kami tidan diam. Si paling ingin tahu itu bertanya banyak hal, mulai dari siapa yang membayar artis, berapa dibayar, siapa urus artis, uang darimana menyelenggarakan acara ini, bagaimana bisa dapat uangnya, bagaimana iklannya, bagaimana membuat panggung sebesar itu, siapa yang mengontrol lampu yang berubah-ubah sorotnyasetiap waktu juga siapa yang kontrol soundsystem sebanyak itu.
Kebetulan tempat kami berdiri dekat dengan kontrol sound dan lighting. Obrolan kami begitu banyak hari itu tentang promotor, Even Organizer, sponsor, iklan dan pendapatannya kira-kira berapa. Si paling banyak tanya ini membuat saya menjadi senang dengan banyak pertanyaannya yang kadang memang membuat saya harus berpikir dan mencari tahu.
Setiap kali melakukan hal baru, selalu ada pertanyaan dan pengalaman berbeda. Menonton konser juga bisa menjadi ajang belajar untuknya yang mulai ingin tahu banyak hal. Menjadi pengetahuan baru, sebuah pemikiran yang terbuka dan semakin luas. Hidup memiliki banyak cara untuk menjadikan kegiatan kita menjadi amal ibadah. Segala sesuatu berawal dari niat mendapat ridhoNya juga mempertimbangkan manfaat dan mudhorot, merupakan kunci dari ibadah.
Setelah menunggu 2 pertunjukan dari Band asli Lombok, dan Nadine Amizah, akhirnya pertunjukan Juicy Luicy menjadi acara yang paling ditunggu. Semua berdiri, semua ikut menyanyi dan semua senang termasuk si sulung.
![]() |
| Ucapan saat pertunjukan Nadine Amizah |
Ada selusup rasa haru. Anakku sudah mulai beranjak remaja, nanti dia akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-temannya, tapi saya harus tetap menjadi ibu yang asik agar dia tetap bisa menjdi tempat berkeluh kesahnya.
Ia harus tau kalau ada kami menjadi rumah untuknya pulang.
_cerita Venti_
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)


.jpeg)

Comments
Post a Comment