Skip to main content

Ketulusan di Lereng Bukit Desa Sandik Bawak

Mengantarakan buku wakaf selalu jadi cerita berkesan. Sandik Bawak, sebuah desa yang ada di lereng bukit yang menyimpan banyak cerita. Cerita dari banyak orang hebat. Hebat bukan hanya yang sukses dalam karir, tapi mereka yang bisa bermanfaat di tengah keterbatasan. Itulah yang mereka lakukan sekarang. 

Sebuah sekolah untuk anak usia dini yang dibangun oleh sosok yang peduli pada sekitarnya. Ketika itu, beliau merupakan orang yang memiliki cukup lahan di sebuah bukit. Sosok yang ingin anak-anak di sekitarnya mendapatkan akses pendidikan usia dini yang terjangkau. Beliau sadar kalau pendidikan anak usia dini merupakan pondasi penting untuk mereka menjadi generasi penerus yang akan membangun negeri. Beliau hanya berharap kalau anak-anak bisa mendapatkan pendidikan yang layak seperti anak-anak lain yang hidup berkecukupan.  

Beliau membuat sebuah tempat belajar anak-anak tepat di samping rumah beliau. Menggandeng orang-orang di sekitarnya yang mau ikut membantu mengurus yayasan tersebut. Di bawah Kemenag, beliau mendirikan Raudhatul Athfal yang cukup untuk menampung anak-anak di sekitar. Memberi ruang kepada anak-anak untuk mengenal kegiatan sensori dan kegiatan motorik yang mereka butuhkan di usia dini. Tak hanya itu, beliau juga memberikan kesempatan untuk guru yang memiliki ilmu dan ketulusan untuk membersamai anak-anak. 

Bukan gaji yang cukup yang dijanjikan untuk mereka, tapi amal jariyah yang kelak bisa menjadi pemberat amal baik di Yaumil Akhir. Sosok yang kini telah tiada itu telah membukakan banyak jalan kebaikan bagi banyak orang untuk menuai amal jariyah. Amal jariyah sebagai pendidik, amal jariyah untuk berkontribusi kebaikan disini telah dibuka.

Perlahan, sekolah untuk anak usia dini mulai berkembang. Beberapa orang ambil bagian, andil untuk membuat sekolah ini menjadi layak untuk dijadikan tempat . Generasi demi generasi keluarga ini mengambil alih tanggung jawab untuk mengurus sekolah yang menjadi amanah orang tuanya. 

Kami datang menyampaikan amanah dari wakiif sepaket Buku Siroh terbitan Sygma Daya Insani. Hasil galang wakaf bersama teman SNC untuk bisa menghadirkan buku berkualitas untuk anak-anak yang memiliki keterbatasan akses terhadap buku. Buku Mengapa Islam Mengagumkan diterima oleh pengelola sekolah di lereng bukit ini. 

Melewati gang sempit, kami berjalan sedikit menanjak menuju ke lokasi RA Assakinah yang ada di Desa Sanik Bawak. Seorang teman merupakan cucu pendiri RA ini. Darinya lah jalan wakaf ini terbuka. Dari dia lah kami dibukakan jalan kebaikan dan jalan untuk mengenal lebih banyak orang luar biasa. 

Setiap kali berjalan melewati perkampungan, kami merasakan aura bahagia yang tulus. Jalanan menuju ke RA sudah cukup rapi. Sudah bukan lagi jalan tanah. Ada sebuah bangunan Masjid yang sangat megah di tengah perkampungan penduduk yang sederhana. Tak bisa dipungkiri, penduduk di Lombok sangat mengutamakan Masjid. Hampir semua Masjid dan Musholla di pulau ini dibuat besar dan megah meski ada di dalam perkampungan. 

Penduduk bergotong royong untuk membangun, dana mengalir dari warga yang berkecukupan maupun tidak. Apa yang mereka punya mereka berikan untuk bisa membangun tempat ibadah yang baik untuk menghadap kepada Yang Maha Kuasa. 

Ketulusan orang disini membuatku iri. Mereka bahkan mengesampingkan kepentingan pribadi untuk bisa membangun tempat ibadah. Mereka kumpulkan sedikit yang mereka punya untuk bisa berkontribusi membangun Masjid. Kalau tidak punya uang, tenaga mereka berikan untuk bisa ambil bagian. 

Sampai di sebuah bangunan kokoh yang terlihat usang, kami diajak masuk. Anak-anak kecil sedang bermain diluar. Lantai yang masih berupa semen kasar, dinding yang cat nya terlihat cerah, tapi mengelupas di beberapa bagian. Daun pintu yang terlihat sudah mulai usang, rak penyimpanan sederhana tertata rapi di sebuah ruangan berukuran sekitar 4 m x 5 m. Jendela besar membuat sirkulasi udara terasa sejuk. Selain juga sekitar bangunan juga masih banyak pepohonan.

Di sebelah ruang belajar terdapat ruang guru yang sederhana dengan keadaan yang hampir sama dengan keadaan kelas yang kami kunjungi. Meja dan kursi guru hanya ada satu. Sangat berseberangan dengan bangunan sekolah di kota Mataram yang tak jauh dari sini dengan bagunan megah ruangan ber AC. Namun, semangat pengajarnya luar biasa. 

Kami disambut senyum tulus dari guru dan pengelolanya. Mereka sangat senang dibawakan buku yang hampir tidak ada yang layak dibaca disini karena sudah banyak robek. Buku menjadi salah satu hal yang tidak mudah didapatkan selain buku lembar kegiatan siswa. Bagaimana mau menyisihkan untuk beli buku kalau operasional sekolah saja masih kekurangan?

Sebuah tempat yang mengajarkan banyak tentang ketulusan dan keikhlasan. Sekolah yang baru saja menaikkan uang pendaftaran menjadi Rp 100.000,- saat masuk yang sebelumnya Rp 50.000,-. Ketika di sekolah di luar sana sudah mematok harga berjuta-juta, disini masih dengan biaya sangat murah pun masih boleh dicicil selama setahun. 

SPP bulanan hanya Rp 30.000/ bulan yang terkadang berat untuk mereka yang kurang mampu. Bahkan, disini untuk anak yatim pun digratiskan. MasyaaAllah.... betapa tulus mereka yang mengelolanya. Gaji guru didapatkan dari sertifikasi dari Kemenag setiap 3 bulan sekali setelah melengkapi persyaratan yang cukup menguras waktu dan fikiran. Berkah menjadi satu-satunya harapan mereka. Tak ada bisa mendapatkan dari pos lain karena kebutuhan sekolah pun masih banyak yang belum tercukupi. 

Biaya operasional yang dibantu oleh pemerintah pun tidak bisa mencukupi sepenuhnya. Namun, Allah SWT mengirimkan banyak orang baik yang datang untuk membantu. Atap yang bocor, meja dan kursi pun diberikan kemudahan untuk diperbaiki dan diganti dari bantuan banyak orang baik yang Allah kirimkan. 

Sungguh, ketulusan dan keikhlasan mereka membuat iri. Disaat banyak orang sedang berlomba untuk mendapatkan untung di setiap hal yang mereka lakukan, tapi mereka justru rela bersusah susah untuk berbagi ilmu dan cinta. Semoga Allah membalas dengan lebih banyak kebaikan untuk mereka yang tetap istiqomah. 






_Cerita Venti_

Comments

Popular posts from this blog

Menikmati makan di Tengah Kebun Bambu, rasanya Seperti di Kampung

Siang itu, kami tidak punya tujuan makan siang. Salah seorang dari kami mengajak untuk ke Bonjeruk, begitu tempat makan ini terkenal di kalangan orang-orang. Belum ada diantara kami yang sudah pernah datang untuk makan di tempat yang katanya makanannya cukup khas. Kami mencoba menelusuri menggunakan Gmap dengan petunjuk arah Bonjeruk. Kami menemukan arah menuju Warung Bambu, Desa Wisata Bonjeruk Lombok Tengah.  Perjalanan menuju ke lokasi tidak lebih dari 30 menit perjalanan dengan kecepatan sedang. Bagi kami yang sudah tinggal di Lombok, lokasi ini tidak sulit ditemukan, Namun, bagi pendatang yang menjelajah Lombok sendiri mungkin butuh waktu lebih lama karena harus memperkirakan arah. Namun, google map cukup membantu dan akurat menunjukkan lokasi ini.  Ada 2 lokasi Warung Bambu ini. Kami singgah di lokasi cabang dari warung utamanya. Menurut penuturan karyawannya, di lokasi ini warung hanya buka sampai pukul 18.00 WITA, sedangkan di cabang utamanya buka hingga pukul 21.00 WI...

Ujung Pertemuan Kita

Mbak Andin.... Jazakumullah Khoiron Katsiron Persahabatan kita membuat banyak kenangan indah. Persahabatan kita membawa banyak kebaikan. Persahabatan kita membuatku banyak belajar.  Aku tahu betapa kau adalah wanita yang luar biasa. Menghadapi banyak hal dengan selalu husznudzon pada Allah SWT, bertumbuh pantang menyerah untuk menjadi lebih baik. Kau yang mengajarkanku untuk menghadapi banyak hal dengan gagah berani. Sekarang ataupun nanti, semua pasti harus dihadapi.  Aku banyak belajar tentang kekuatan menghadapi darimu. Meski pahit, hadapi saja. Minta pertolongan dan kekuatan padaNya, pasti ini juga akan terlewati.  Terimakasih sudah terus saling menguatkan dan menjadi tempat yang nyaman untuk berkeluh kesah. Tak pernah menyalahkan, tapi memahami. Kau tahu, bersahabat denganmu adalah zona nyamanku. Namun, sekarang aku harus siap untuk keluar dari ini. Bukan berarti persahabatan kita akan berakhir, tapi jarak yang membuat kita tak bisa sering bertemu pasti akan membuka ...

Outbound Aqil Baligh

Usia si sulung sudah 10 tahun. Saatnya kami sebagai orang tua untuk mengenalkan tentang Aqil Baligh. Saat seperti ini, ternyata ada yang membuat sebuah kegiatan yang menyenangkan.  Outbound reflektif aqil baligh yang diselenggarakan oleh Cahaya Bangsa. Sebuah institusi pendidikan yang dididirikan oleh Ustadz Yulhaidir, psikolog anak yang ingin menghadirkan pengalaman menyenangkan pada anak, tapi tetap bermakna sehingga kesan yang tertanam akan terus terngiang lekat dengan makna yang terkandung di dalamnya.  Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 15 Februari 2025 di lingkungan sekolah Cahaya Bangsa yang ada di Lenek, Lombok Timur. Bukan pertama kali, kegiatan seperti ini sering diadakan oleh Cahaya Bangsa sebagai cara untuk menjembatani anak-anak kembali mengenal alam, kembali dekat dengan alam untuk mengembalikan kepekaan pada alam.  Saya dan anak-anak berangkat dengan menggunakan engkel, angkutan umum yang ada di Lombok dari Matara sampai ke Lombok Timur. Sebuah kendaraa...