Skip to main content

Pasar Karang Sukun Mataram, tren Baju Bekas

 

Menapakkan kaki di Pulau Lombok untuk menetap setelah lulus kuliah ketika itu merupakan pilihan yang tidak mudah bagi saya. Menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dan tanpa teman di pulau kecil yang keindahan alamnya sungguh luar biasa. Namun, tentu saja hal baru pasti akan membuat banyak ketidaknyamanan dan harus dibuat nyaman. Saya akhirnya memilih untuk mempelajari banyak hal baru di tempat tinggalku, di sebuah kampung di Kabupaten Lombok Timur.

Kesederhanaan dan keterbatasan penghasilan membuat mereka tidak cukup punya uang sisa untuk memenuhi kebutuhan selain untuk makan. Pakaian bekas menjadi pilihan mereka untuk mencukupi kebutuhan sandang yang harus dipenuhi. Sejak saya kecil sering menjenguk nenek di Masbagik ini, saya tahu banyak orang yang memilih membeli pakaian bekas karena selain harganya terjangkau, modelnya pun tidak kalah menarik. Apalagi baju dari luar negeri itu kebanyakan baju bermerk, jadi meski sudah dibilang bekas tapi banyak warna dan kainnya yang masih bagus. Layak untuk dipakai.

Bukan hanya baju orang dewasa, baju anak, handuk, gorden, selimut, bed cover, bahkan tas yang masih bagus juga boneka anak. Ada yang membuka lapak di pasar, ada yang membuka lapak saat pasaran saja sehingga harus berkeliling ke pasar demi pasar. Meski memang banyak yang berjualan pakaian bekas, kebanyakan mereka berjualan di pasar atau berkeliling seusai hari pasaran setiap pasar. Namun, banyak peminat pakaian bekas menjadikan toko pakaian bekas mulai banyak buka di pinggir jalan. Tentu kualitasnya pun berbeda. Harnya di pasar yang biasanya ada di bawah 10 ribu, yang ada di toko atau kios sederhana pinggir jalan berkisar diatas Rp. 10.000,-. 

Di Mataram, ada sebuah pasar di Karang Sukun yang khusus menjual Baju, Tas dan Banyak kain bekas import dengan harga yang bervariasi tergantung kualitas. Pasar Karang Sukun ini sudah sangat terkenal menjual baju bekas import yang banyak dikunjungi bahkan oleh kalangan bahkan pegawai sekalipun. Meski lantainya hanya plester, tapi bersih dan rapi sehingga nyaman dikunjungi. Tempatnya luas, dibuat seperti los seperti pada umumnya, lahan yang cukup luas itu mampu menampung sekitar 53 kios baju bekas import yang siap untuk ditawarkan.

Kualitas baju bekas di Pasar Karang Sukun sangat bervariasi. Mulai dari yang murah hingga yang mahal. Baju bahkan ada yang mencapai diatas Rp 50.000,- ketika kualitasnya juga masih sangat baik dengan warna yang tidak pudar dan bahan yang masih bagus. Banyak yang masih sangat layak digunakan. Jeans dan celana cargo pun banyak yang masih dengan kualitas sangat bagus, bahkan tidak seperti pakaian bekas. Cacat pada jahitan biasanya sudah diperbaiki oleh penjual agar tidak mengurangi harga pasaran dan mereka bisa mendapatkan untung yang cukup lumayan.

Biasanya, pada saat bongkaran barang baru di Pasar Karang Sukun Mataram, harga baju akan lebih mahal karena lebih banyak pilihan. Selain itu, belum banyak baju yang dibawa ke luar daerah, jadi pembeli bisa lebih puas memilih barang yang bagus kualitasnya sebelum dipilih secara random oleh penjal baju bekas di luar Mataram dan dikirim ke Pulau Sumbawa. Setelah hari bongkaran, biasanya harganya bisa sedikit turun dan bisa ditawar lebih banyak karena sudah banyak baju yang dibeli dalam jumlah besar untuk dibawa ke luar Mataram. 


 Mereka yang pandai memilih akan mendapatkan barang yang bagus tidak seperti barang bekas. Tas, selimut, bed cover bahkan handuk pun ada dijual di sini. Sama seperti berbelanja di pusat perbelanjaan, banyak pilihan barang dengan variasi harga yang beragam, jadi harus teliti dalam memilih dan membeli agar mendapatkan barang yang bagus. Tak sedikit yang bahkan tak terlihat seperti barang bekas karena kualitas kain dan warnanya yang memang masih bagus. 

Beberapa pakaian yang tak banyak laku biasanya dijual murah dalam bentuk karungan. Pembelinya akan menjual kembali ke pasar-pasar tradisional dengan harga kisaran Rp 10.000an atau si penjual menggaji orang lagi untuk membuka lapak kecil di depan pasar tradisional mengobral barang yang sudah lama tidak laku. Pakian itu biasanya berupa pakaian rumahan sehingga harganya lebih murah.

Selain baju bekas Import, ada juga sekarang tren membuka garage sale bagi baju yang jarang dipakai dengan kualitas bagus. Tentu ini berbeda dengan baju bekas import. Biasanya garage sale harga yang ditawarkan sedikit lebih mahak karena kualitasnya pun berbeda. Biasanya yang banyak di Garage Sale adalah barang branded yang dipakai baru beberapa kali. Kualitasnya pun tergolong masih sangat layak untuk dijual. Berbeda dengan barang bekas import yang terkadang ada yang sobek atau berlubang, Garage Sale biasanya lebih berkualitas dengan harga yang lebih mahal tentunya.

Jangan lupa untuk mencuci pakaian sebelum digunakan dan menjemur di bawah sinar matahari agar bakteri ataupun virus yang menempel bisa hilang. Tak ada salahnya memilih barang bekas karena bekas pun bisa terlihat berkelas saat kita bisa memadu padankan dengan baik.

 

sumber: dokumentasi pribadi




Comments

Popular posts from this blog

Barima (Membaca Nyaring Bersama) Menjadi Ajang Silaturahmi Member Lora di Perpustakaan dan Taman Baca

  Barima bersama adik-adik SDI Bidayatul Hidayah di Perpustakaan Kota Mataram Barima di Perpustakaa Kota Mataram bersama Member Lombok Read Aloud Barima di Pusda Lombok Timur Read Aloud Lombok menjadi komunitas kedua yang membuatku kembali menemukan rumah. Mendapati teman-teman yang luar biasa di dunia nyata, mendapati teman-teman yang punya semangat bermanfaat yang tak kenal lelah membuat saya semakin semangat.  Barima, Membaca Nyaring Bersama menjadi ajang kumpul para member Lombok Read Aloud di Perpustakaan. Ada di Perpustakaan Daerah di Lombok Timur dan Perpustakaan Kota di Mataram. Setiap dua kali dalam satu bulan, kegiatan tersebut rutin dilakukan.  Tujuan kami adalah mengajak lebih banyak orang tua untuk membacakan buku pada anak-anaknya, merasakan manfaat membaca nyaring untuk peningkatan minat baca anak, literasi anak dan bonding dengan anak. Manfaat membaca nyaring bisa dirasakan lebih banyak orang, bisa menyebarkan kebaikan ke lebih banyak orang dan yang pentin...

Kegiatan Rumah Peradaban Pagutan Bersama Read Aloud

 Rumah Peradaban adalah sebuah wadah yang difasilitasi oleh Spirit Nabawiyah Community untuk lebih banyak orang mengenal siroh melalui buku. Melalui buku, anak-anak bisa belajar banyak hal. Selain memahami isi buku yang dibaca, membawa buku melatih kesabaran, melatih berfikir kritis, melatih menyimpulkan setelah membaca yang berarti bisa memasukkan unsur bijaksana, melihat banyak sudut pandang juga memiliki wawasan yang lebih luas.  Membaca kini sudah tersingkirkan sejak adanya gadget yang membuat anak-anak bisa mendapatkan informasi dengan mudah. Ditambah ketika pandemi, semua harus melalui daring bahkan anak-anak sampai diberikan hanphone sendiri sampai kadang terlewat untuk memantau mereka dan memberikan batasan. Akses gadget tanpa batas membuat anak-anak semakin pasif dalam berinteraksi dengan lingkungan.  Melihat fakta dunia anak sekarang miris sekali rasanaya melihat mereka berkegiatan tanpa ada manfaat dengan gadget. Mereka tenggelam dalam kesenangan tanpa ada gera...

Yant Sorghum, Pioneer Budidaya dan Olahan Sorgum di NTB

  Sorgum merupakan sebuah tanaman lahan kering yang kaya manfaat. Namun, tanaman ini kurang dibudidayakan karena dirasa kurang menjanjikan. Sorgum  ( Sorghum bicolor (L .) Moench ) termasuk famili Graminae (Poaceae )   ini sebenarnya sudah dikenal sejak zaman nenek moyang kita, tapi tidak banyak yang memanfaatkannya. Bahkan di Lombok pun hanya digunakan sebagai pakan ternak sehingga tidak banyak petani yang tertarik untuk membudidayakannya. Tanaman ini tidak sulit dibudidayakan sebab merupakan tanaman lahan kering yang cocok dengan lahan pertanian yang ada di beberapa daerah di Pulau Lombok. Namun, karena hanya biasa dimanfaatkan untuk pakan ternak, tidak banyak petani yang membudidayakannya.     Peluang ini dilihat oleh Ibu Nur Rahmi Yanti. Seorang penyuluh pertanian lulusan Universitas Mataram ini memulai pengembangan budidaya sorgum di Lombok. Melihat manfaat sorgum dan ingin mencari sesuatu yang baru untuk diproduksi, Ibu Yanti mencoba untuk mengembangka...