Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2019

Menyikapi dan Bersikap

Sejak masih single, saya adalah tipe orang yang tidak terlalu suka terlalu berkumpul dengan banyak orang. Berteman memang banyak, tapi yang cukup dekat hanya beberapa orang. Berteman pun saya tidak cukup dekat untuk menceritakan banyak hal. Hanya sekedarnya dan seperlunya. Bagi saya, terlalu banyak berkumpul untuk kegiatan yang tidak jelas akan membuang banyak waktu. Saya lebih suka berkumpul untuk membuat sebuah kegiatan yang bermanfaat atau berinovasi. Apalagi sekarang, setelah sudah memiliki dua buah hati ditambah mengurus kos-kosan membuatku tidak banyak waktu untuk sekedar ngerumpi atau berkumpul bersama teman. Mencoba banyak belajar tentang parenting islami, banyak membaca untuk menambah pengetahuan tentang mendidik anak, berkomunikasi dengan anak dan mengarahkan anak agar memiliki landasan yang kuat untuk mereka bawa kelak hingga ke masa depan. Membuat anak mengerti nilai dasar dan dapat membedakan yang baik dan yang tidak baik itu tidak mudah. Harus konsisten dan ekstra kes...

Mbah Put, Tak Ada Alasan Pulang Lagi

Rasanya baru kemarin rencana pulang ke Jawa menjenguk Mbah Put tercetus. Ada sedikit uang yang bisa kami tabung untuk bisa kami gunakan untuk menjenguk satu-satunya Simbah yang masih saya punya. Beliau sangat ingin melihat kedua anakku, kedua buyut yang belum pernah bertemu bahkan cucu menantunya pun belum pernah bertemu. Bukan karena tak berniat mempertemukan, tapi ada trauma yang masih belum bisa terhapus. Ada trauma yang ingin kubuang , tapi rasanya masih menggelayut. Aku bahkan tidak ingin berhubungan lagi dengan orang-orang di masa kecilku di sekitar tempat tinggalku dulu. Memang tidak semua memandang kami bersalah, tapi melihat mereka rasanya membuka luka yang sudah berusaha kututup sendiri. Melihat mereka seperti melihat kegelapan di masa lalu. Tak ingin kukenang lagi, aku hanya ingin hidup untuk hari ini dan masa depan, tak lagi menengok ke belakang. Cukup semua itu menjadi pelajaran hidup untuk bisa lebih bijaksana dalam mengelola titipanNya. Mamak beberapa kali ceri...

Curhatan Ibu Kos

Menjadi ibu kos memang bukan impian, tetapi sebuah kenyataan yang harus diterima saat menikah. Aku tidak pernah tahu kalau ternyata calon suamiku punya usaha kos-kosan enam kamar yang dibangun di sebuah lahan seluas 2 are. Setelah menikah, barulah kami mulai mengelola satu-satunya aset yang kami punya. Saya mulai belajar mengelola kos-kosan dan mengelola anak kos. Saya yang awalnya hanya sesekali bersih-bersih kos, lalu sesekali menerima anak kos, berlanjut ke menyeleksi anak kos, menerima keluhan dan memperbaiki fasilias kos yang akhirnya diserahkan sepenuhnya urusan kos ke saya. Nah, dari situlah saya mulai belajar tentang mengelola kos. Pernah menjadi anak kos, saya sedikit banyak mengerti kebutuhan kos. Air yang agak bau menjadi kendala terbesar bagi kos. Saya selalu memberi tahu siapa saja yang kos tentang air sumur bor yang agak bau, saya tidak mau mereka kecewa karena airnya yang tidak sesuai yang mereka mau. Sebisa mungkin saya memperlihatkan keadaan kos yang sesunggu...