Skip to main content

Posts

Showing posts from 2019

Piknikus adalah Kami

Orang jawa mengatakan liburan itu piknik. Salah satu cara menghilangkan bosan dan mempererat bonding keluarga. Ada liburan tipis-tipis bulanan yang biasa kami lakukan dengan melakukan perjalanan tak jauh dari rumah. Beruntungnya kami tinggal di pulau kecil yang cukup cantik. Tak butuh waktu lama untuk bisa menikmati keindahan alam seperti Pantai dan air terjun. Apalagi sekarang banyak tempat makan yang menawarkan suasana pedesaan dan persawahan di pinggiran kota dengan udara yang bersih. Kali ini, kami merencanakan piknik bersama teman-teman. Bukan temanku, teman kantor suami yang cukup dekat. Tahun lalu, entah mendapat hidayah dari mana mereka memutuskan untuk piknik bersama empat keluarga. Membawa keluarga masing-masing, suami yang merencanakan dan mendanai. Istri dan anak menjadi peserta yang diistimewakan. Tahun lalu, dua kali kami piknik bersama di daerah Pantai Kuta Mandalika dan daerah Senggigi. Memilih memanjakan diri di hotel, bapak-bapak bisa tidur dengan nyenyak, an...

Mbak Nur, tetanggaku

Hidup di kompleks mengajarkanku banyak hal. Sebagai salah satu rumah tangga baru, salah satu warga muda dan baru pindah, saya memang memilih untuk hanya menjalin silaturahim seperlunya dengan tetangga. Saya yang pada dasarnya memang tidak suka mengurus hidup orang dan tidak suka diurus hidup saya lebih suka membersamai anak-anak dan belajar untuk bisa menjadi lebih baik. Saya merasa selama ini sudah stag. Tidak produktif. Pernah bekerja, pernah aktif menulis, pernah berarti, saya merasa sejak punya bayi dan berkutat dengan pekerjaan rumah tangga jadi tidak produktif. Padahal mungkin sebenarnya saya sedang berproses, mengembangkan anak-anak yang sedang dalam masa tumbuh kembang. Membersamai   mereka, belajar teknik parenting yang lebih baik dan terutama mengelola emosi. Emosi menjadi pelajaran yang sangat penting bagi saya karena ternyata memang musuh yang paling besar bagi ibu rumah tangga adalah jenuh. Jenuh dengan rutinitas, tapi bukan berarti tidak ikhlas. Dalam hal apap...

Drama Kompleks

Sudah tiga tahun saya dan suami memutuskan untuk pindah ke rumah yang kami beli di sebuah kompleks perumahan yang sudah lama ada, bukan kompleks perumahan baru. Kami membeli rumah yang sudah dipakai dan direnovasi oleh pemilik sebelumnya. Katanya beliau punya banyak rumah dan rumah ini jarang ditempati, lebih sering dikontrakkan. Menurut cerita, si empunya rumah sempat mencalonkan diri menjadi anggota dewan dan rumah ini sempat tidak bisa membayar cicilan. Sebelum disita oleh Bank, seorang teman melunasinya kemudian membantu menjualkan. Hampir tiga bulan kami mencari rumah yang sesuai dengan budget kami, tapi tak kunjung mendapatkan. Setiap weekend, si Ayah keliling mencari informasi ruamh dijual hingga bertemu dengan rumah ini. Benar kata orang, rumah itu jodoh. Pertama kali mengajakku melihat rumah ini, si Ayah bertanya, "Mau tinggal di sini?". Tanpa berfikir panjang, saya hanya mengiyakan. Saat itu, yang ada di fikiranku adalah bagaimana caranya kami bisa mandiri. Meski ...

Menyikapi dan Bersikap

Sejak masih single, saya adalah tipe orang yang tidak terlalu suka terlalu berkumpul dengan banyak orang. Berteman memang banyak, tapi yang cukup dekat hanya beberapa orang. Berteman pun saya tidak cukup dekat untuk menceritakan banyak hal. Hanya sekedarnya dan seperlunya. Bagi saya, terlalu banyak berkumpul untuk kegiatan yang tidak jelas akan membuang banyak waktu. Saya lebih suka berkumpul untuk membuat sebuah kegiatan yang bermanfaat atau berinovasi. Apalagi sekarang, setelah sudah memiliki dua buah hati ditambah mengurus kos-kosan membuatku tidak banyak waktu untuk sekedar ngerumpi atau berkumpul bersama teman. Mencoba banyak belajar tentang parenting islami, banyak membaca untuk menambah pengetahuan tentang mendidik anak, berkomunikasi dengan anak dan mengarahkan anak agar memiliki landasan yang kuat untuk mereka bawa kelak hingga ke masa depan. Membuat anak mengerti nilai dasar dan dapat membedakan yang baik dan yang tidak baik itu tidak mudah. Harus konsisten dan ekstra kes...

Mbah Put, Tak Ada Alasan Pulang Lagi

Rasanya baru kemarin rencana pulang ke Jawa menjenguk Mbah Put tercetus. Ada sedikit uang yang bisa kami tabung untuk bisa kami gunakan untuk menjenguk satu-satunya Simbah yang masih saya punya. Beliau sangat ingin melihat kedua anakku, kedua buyut yang belum pernah bertemu bahkan cucu menantunya pun belum pernah bertemu. Bukan karena tak berniat mempertemukan, tapi ada trauma yang masih belum bisa terhapus. Ada trauma yang ingin kubuang , tapi rasanya masih menggelayut. Aku bahkan tidak ingin berhubungan lagi dengan orang-orang di masa kecilku di sekitar tempat tinggalku dulu. Memang tidak semua memandang kami bersalah, tapi melihat mereka rasanya membuka luka yang sudah berusaha kututup sendiri. Melihat mereka seperti melihat kegelapan di masa lalu. Tak ingin kukenang lagi, aku hanya ingin hidup untuk hari ini dan masa depan, tak lagi menengok ke belakang. Cukup semua itu menjadi pelajaran hidup untuk bisa lebih bijaksana dalam mengelola titipanNya. Mamak beberapa kali ceri...

Curhatan Ibu Kos

Menjadi ibu kos memang bukan impian, tetapi sebuah kenyataan yang harus diterima saat menikah. Aku tidak pernah tahu kalau ternyata calon suamiku punya usaha kos-kosan enam kamar yang dibangun di sebuah lahan seluas 2 are. Setelah menikah, barulah kami mulai mengelola satu-satunya aset yang kami punya. Saya mulai belajar mengelola kos-kosan dan mengelola anak kos. Saya yang awalnya hanya sesekali bersih-bersih kos, lalu sesekali menerima anak kos, berlanjut ke menyeleksi anak kos, menerima keluhan dan memperbaiki fasilias kos yang akhirnya diserahkan sepenuhnya urusan kos ke saya. Nah, dari situlah saya mulai belajar tentang mengelola kos. Pernah menjadi anak kos, saya sedikit banyak mengerti kebutuhan kos. Air yang agak bau menjadi kendala terbesar bagi kos. Saya selalu memberi tahu siapa saja yang kos tentang air sumur bor yang agak bau, saya tidak mau mereka kecewa karena airnya yang tidak sesuai yang mereka mau. Sebisa mungkin saya memperlihatkan keadaan kos yang sesunggu...

Percaya Diri Nada

Hari ini, gladi bersih pentas seni si Mbak Nada besok. Gendhuk paling antusias kalau pentas. Ini pertama kalinya dia pentas, berekspresi di depan orang banyak. Bunda juga ikut antusias, memberikan dukungan dan semangat atas keberaniannya. Belajar tampil di depan orang banyak dan belajar percaya diri. Sebenarnya, Bunda ingin mengikutsertakan Nada di beberapa perlombaan. Kemarin sempat mau ikut lomba gambar kolase dengan bahan bekas alami. Namun, karena adek sakit, jadi gagal ikut lomba. Janji yang sempat terucap itu terus diingat dan terus ditanya. "Kapan kita lomba yang hadiahnya main di Dinosaurus itu, Bunda?" Dinosaurus itu maksudnya di Transmart yang ada patung Dinosaurusnya. Bunda sedih setiap kali ditanya begitu. Tak kuasa mengatakan kalau sebenarnya sudah lewat acaranya dan gagal ikut karena adek sakit. Yah, cuma bisa bilang besok saja ya sayang. Untungnya sekarang si Mbak sudah sekolah, jadi tetap terhibur dengan kegiatan di sekolahnya. Kali ini, dia ada pentas sen...

Mendidik Anak

Pilihan menjadi ibu rumah tangga seutuhnya sudah kupilih sejak sebelum menikah. Mendidik anak sendiri, mengontrol mereka sepenuhnya menjadi pilihanku sejak masih gadis. Karena banyak teman yang ibunya bekerja yang pada akhirnya memilih untuk berlama-lama di luar karena kesepian, aku merasa sangat nyaman berada di rumah. Dengan ibu yang selalu ada kapanpun dibutuhkan, dengan ibu yang selalu ada untuk mendengar cerita dan ibu yang memberi nasehat dengan cara yang asik. Meski tidak sepenuhnya cara mendidik orang tua saya persis seperti cara saya mendidik anak-anak, tapi saya juga belajar dari banyak hal. Belajar dari membaca dan mendengar cerita teman-teman tentang mendidik anak. Mendidik anak itu juga harus mengikuti perkembangan zaman, selain juga tetap mengedepankan agama sebagai landasan utama. Akhlaq dan aqidah menjadi utama dalam mendidik anak-anak. Itu juga banyak saya contoh dari orang tua saya yang selalu mengedepankan aqidah dan akhlaq dalam mendidik kami. Mereka tidak menghar...

Pertimbangan Sekolah Usia Dini

Nada memang sejak kecil tipe anak yang sangat aktif. Suka memanjat dan hal baru, termasuk bertemu orang baru. Dia suka sekali hal baru dan selalu harus bisa melakukannya kalau sulit. Dia juag tidak mudah menangis bertemu orang baru. Gampangan diajak siapa aja. Haha... tapi bukan gampangan dalam arti orang dewasa ya. Ini gampangan versi anak-anak. Diajak siapa aja mau. Dulu sempat waktu baru mengenal orang, dia tidak mau dengan selain Bunda atau Ayahnya. Sama Mbah saja dia mau karena ketika itu kami masih tinggal di rumah Mbah. Namun, tidak lama setelah itu, dia mulai mau dengan siapapun yang ingin menggendongnya. Banyak orang suka dengannya yang bertubuh gemuk ginuk-ginuk , kata orang Jawa. Nada kecil murah senyum dan tidak mudah menangis, jadi banyak orang yang gemes dan suka dengannya. Meski banyak yang suka, tapi sebenarnya saya agak khawatir juga kalau dia mudah diajak dengan orang baru. Pernah suatu kali, saya sedang menyuapinya di depan rumah Mbah. Sore itu, Mbah sedang arisa...