Skip to main content

Cita itu Lagi

Memiliki mimpi dan keinginan setela berkeluarga tak semudah saat masih single dulu. Ketika keinginan pasca sarjanaku yang saat sebelum menikah tinggal selangkah kini terasa semakin jauh. Semakin kencang aku berlari mengejarnya, semakin banyak pertimbangan yang membuatku semakin terasa sulit untuk menggapainya. Optimisme itu berubah ketika dihadapkan pada kebutuhan dan kewajiban. Kebutuhan rumah tanggaku yang masih sangat baru ini mungkin dengan gaji suamiku saja tidak cukup untuk memenuhi biaya kuliahku. Kewajiban sebagai ibu dan kakak tertua membuatku harus berfikir untuk mencari pekerjaan untuk membantu kedua orang tuaku menyekolahkan adikku dan membagi waktuku untuk Nada, putri kecilku yang masih sayang untuk kutinggalkan.
Aku tak pernah menyesal atas keputusan yang telah kubuat karena ALLAH sudah menggariskan dengan sangat indah. Memiliki keluarga ini adalah anugerah terindah dalam hidupku dan pembelajaran atas setiap peristiwa yang terjadi. Aku bersyukur menjadi anak dari seorang bapak yang sabar dan berwibawa, memiliki ibu yang ceria dan optimis, menjadi kakak yang harus menjadi teladan dan menjadi istri dari seorang pekerja keras dan berkarakter serta menjadi ibu dari si kecil lucu, cerdas dan lincah.

Berharap cita itu akan tetap bisa terwujud meski entah kapan. Aku akan terus berusaha untuk itu. Melanjutkan pasca sarjana dan menjadi dosen sekaligus penulis.

Bismillahirrohmanirrohim....

Comments

Popular posts from this blog

Ujung Pertemuan Kita

Mbak Andin.... Jazakumullah Khoiron Katsiron Persahabatan kita membuat banyak kenangan indah. Persahabatan kita membawa banyak kebaikan. Persahabatan kita membuatku banyak belajar.  Aku tahu betapa kau adalah wanita yang luar biasa. Menghadapi banyak hal dengan selalu husznudzon pada Allah SWT, bertumbuh pantang menyerah untuk menjadi lebih baik. Kau yang mengajarkanku untuk menghadapi banyak hal dengan gagah berani. Sekarang ataupun nanti, semua pasti harus dihadapi.  Aku banyak belajar tentang kekuatan menghadapi darimu. Meski pahit, hadapi saja. Minta pertolongan dan kekuatan padaNya, pasti ini juga akan terlewati.  Terimakasih sudah terus saling menguatkan dan menjadi tempat yang nyaman untuk berkeluh kesah. Tak pernah menyalahkan, tapi memahami. Kau tahu, bersahabat denganmu adalah zona nyamanku. Namun, sekarang aku harus siap untuk keluar dari ini. Bukan berarti persahabatan kita akan berakhir, tapi jarak yang membuat kita tak bisa sering bertemu pasti akan membuka ...

Menikmati makan di Tengah Kebun Bambu, rasanya Seperti di Kampung

Siang itu, kami tidak punya tujuan makan siang. Salah seorang dari kami mengajak untuk ke Bonjeruk, begitu tempat makan ini terkenal di kalangan orang-orang. Belum ada diantara kami yang sudah pernah datang untuk makan di tempat yang katanya makanannya cukup khas. Kami mencoba menelusuri menggunakan Gmap dengan petunjuk arah Bonjeruk. Kami menemukan arah menuju Warung Bambu, Desa Wisata Bonjeruk Lombok Tengah.  Perjalanan menuju ke lokasi tidak lebih dari 30 menit perjalanan dengan kecepatan sedang. Bagi kami yang sudah tinggal di Lombok, lokasi ini tidak sulit ditemukan, Namun, bagi pendatang yang menjelajah Lombok sendiri mungkin butuh waktu lebih lama karena harus memperkirakan arah. Namun, google map cukup membantu dan akurat menunjukkan lokasi ini.  Ada 2 lokasi Warung Bambu ini. Kami singgah di lokasi cabang dari warung utamanya. Menurut penuturan karyawannya, di lokasi ini warung hanya buka sampai pukul 18.00 WITA, sedangkan di cabang utamanya buka hingga pukul 21.00 WI...

Kegiatan Rumah Peradaban Pagutan Bersama Read Aloud

 Rumah Peradaban adalah sebuah wadah yang difasilitasi oleh Spirit Nabawiyah Community untuk lebih banyak orang mengenal siroh melalui buku. Melalui buku, anak-anak bisa belajar banyak hal. Selain memahami isi buku yang dibaca, membawa buku melatih kesabaran, melatih berfikir kritis, melatih menyimpulkan setelah membaca yang berarti bisa memasukkan unsur bijaksana, melihat banyak sudut pandang juga memiliki wawasan yang lebih luas.  Membaca kini sudah tersingkirkan sejak adanya gadget yang membuat anak-anak bisa mendapatkan informasi dengan mudah. Ditambah ketika pandemi, semua harus melalui daring bahkan anak-anak sampai diberikan hanphone sendiri sampai kadang terlewat untuk memantau mereka dan memberikan batasan. Akses gadget tanpa batas membuat anak-anak semakin pasif dalam berinteraksi dengan lingkungan.  Melihat fakta dunia anak sekarang miris sekali rasanaya melihat mereka berkegiatan tanpa ada manfaat dengan gadget. Mereka tenggelam dalam kesenangan tanpa ada gera...