Skip to main content

Posts

Produktif di Usia Senja

 Ramadhan, tak jauh berda dengan tahun lalu. Masih dalam masa pandemi dan masih dalam masa yang tidak mudah bagi banyak orang. Masih berusaha untuk kembali bangkit dari segala peristiwa yang telah terjadi yang menguatkan dan menjadi pengingat.  Mataram sangat terasa perbedaannya meski sudah mulai diperbolehkan untuk berjualan dengan protokol kesehatan yang ketat. Namun, bagi banyak pedagang, sangat terasa perbedaannya dari yang dulu. Penjualan menurun, tapi mereka tetap bersyukur. Tak jarang harus banyak kembali, tapi mereka tetap optimis dalam membuka lapak setiap harinya. Tak ada kata menyerah dalam ikhtiar, tak ada kata putus asa, yang mereka yakin adalah rezeki sudah diatur sedemkian rupa untuk disyukuri apapun hasilnya. Nyatanya masih bisa hidup adalah sebuah karunia yang luar biasa. Ramadhan kali ini, qodarullah diberikan kesempatan untuk menemani si Ayah di Lombok Timur. Meski biasanya memang terbiasa sendiri saat di Lombok Timur, tapi puasa menjadi moment yang berbeda ...

Belajar Puasa si Sulung

Alhamdulillah... Marhaban Yaa Ramadhan... Alhamdulillah dipertemukan dengan bulan suci dalam keadaan sehat sehingga bisa menunaikan ibadah wajib puasa yang merupakan detox diri dan sebagai pengingat bahwa ada yang merasakan puasa seperti ini karena keadaan dalam waktu yang lama. Sebagai sebuah empati pada mereka yang kurang mampu dan bulan yang segala amal baik dilipat gandakan adalah bulan yang mulia untuk bisa bersedekah sebanyak-banyaknya. Ramadhan kali ini, kami diajak untuk ikut Ayah di Lombok Timur, tempatnya bertugas. Ayahnya yang biasanya sendiri di rumah Selong sekarang meminta kami untuk ikut serta menemaninya buka puasa dan sahur. Ramadhan sendirian terasa kurang nikmat. Suara canda anak-anak membuatnya semangat setiap kali pulang ke rumah. Si Sulung yang memang masih Belajar Dari Rumah (BDR) pun lebih mudah diajak karena bisa belajar dari mana saja. Ditambah selama Ramadhan ini, dia ikut serta dalam festival Ramadhan Mungilmu dan Little Zam. Mbak Nada semangat karena Bunda ...

Pengalaman Menginap di Kumbara Villas

 Weekend menjadi salahs atu waktu yang ditunggu anak-anak karena bisa berlama-lama dengan Ayahnya. Weekdays tentu saja sudah disibukkan dengan pekerjaan si Ayah di luar kota. Meski seminggu dua kali pulang, tapi tetap saja pulang malam dalam keadaan lelah membuat mereka tidak puas bermain.  Weekend menjadi tempat quality time yang sangat dinantikan meski kadang hanya mengantar mereka naik odong-dong ke taman kota. Namun, weekend kali ini, kami hanya ingin mencari tempat yang nyaman untuk kami bisa bermain bersama tanpa ribet dengan urusan rumah. Menepi sejenak dari rutinitas, weekend ini kami memilih menginap di villa privat pool. Sambil beberes baju, kami mencari beberapa referensi menginap yang nyaman untuk bisa menghabiskan waktu bersama. Kawasan Wisata Kuta Mandalika yang sedang gencar dipromosikan dan sedang dalam tahap pembangunan kawasan MOTO GP menjadi pilihan kami. Selain banyak pantia yang bagus, mencari makan dari yang murah hingga yang mahal pun banyak tersedia....

Perjalanan dan Pelajaran

 Hujan, angin dna panas datang silih berganti menandai musim pancaroba. Hujan terjadi tiba-tiba berbarengan dengan angin kencang. Saya dan anak-anak tidak bisa kemana-mana karena cuaca sedang tidak memungkinkan. Si Sulung bosan karena tidak bisa keluar main. Kami pun memutuskan untuk ke Lombok Timur menggunakan angkutan umum.  Ayah yang sedang dinas di Lombok Timur cukup sibuk sehingga tidak bisa pulang. Biasanya, seminggu pulang dua kali kalau tidak sibuk. Kali ini akhir bulan sehingga tidak bisa pulang. Si sulung merengek ingin ke rumah Uti, orang tua saya yang ada di Lombok Timur. Kami pun baru membangun sebuah rumah kecil untuk tempat tinggal sementara di Selong. Tempat tinggal Utinya anak-anak dan rumah yang kami bangun memang tidak dekat sekali karena rumah yang kami bangun dekat dengan kantor suami di sebuah perumahan. "Bunda, ayo ke Lombok Timur." "Mau naik engkel?" "Mau." "Bilang Ayah dulu." Si Ayah memperbolehkan kami ke Lombok Timur de...

Sembalun di Awal Februari

Cuti menjadi waktu yang sangat dinantikan bagi kami yang memiliki kepala keluarga seorang gila kerja. Sejak pertama menikah, saya memang sedikit kaget dengan ritme kerja suami yang sering tak kenal waktu. Mereka bilang terlalu rajin, tapi memang ternyata dia seperti melimpahkan ketidakpercayaan dirinya pada pekerjaan. Cuti besar tahun 2020 tidak bisa diambil banyak karena banyak pekerjaan dan tak ada yang menggantikan. Rencana ke Jawa pun harus pupus karena pandemi, mungkin Allah memiliki banyak rencana indah untuk manusia kembali muhasabah diri, kembali mendekatkan diri dengan keluarga dan sekitar setelah selama ini mungkin terlalu sibuk dengan urusan sendiri. Kembali menata keadaan yang mungkin harus berubah dan menyesuaikan dengan keadaan yang sekarang. Juga memberi kesempatan untuk lebih peduli dengan mereka yang sekarang sedang terdampak oleh pandemi. Cuti si Ayah akhirnya kami gunakan untuk melihat betapa luas bumi Allah. Melihat betapa luar biasa ciptaanNya yang baru sebagia...