Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2012

Aku yang Sekarang

Pindah ke Cabang selalu dianggap sebuah kemajuan pesat. Berada di pusat kepemimpinan, berada ditengah orang-orang pengambil keputusan tertinggi dianggap suatu perkembangan yang pesat. Dilihat-lihat nggak banyak perubahan sebenernya. Hanya pindah tempat, tapi banyak orang menganggap sebuah kemajuan. Jadi sebenernya, kemajuan atau nggak cuma kita yang tahu. Kemajuan itu ketika kita bisa lebih menikmati apa yang menjadi pekerjaan kita. Memang awalnya bukan jadi keinginanku jadi pegawai bank seperti sekarang. Bahkan sampai detik penerimaan sempat berniat melepaskannya. Bukan suatu hal yang membuatku excited ketika itu. Sudah terbayang duduk yang membosankan dengan basa-basi busuk di hadapan banyak orang. Yah sebenernya nggak pake busuk sih, tapi berbicara di depan orang adalah sesuatu yang tak terlalu kusukai. Aku lebih menyukai berada di depan komputer mengutak-atik angka. Analisis dan riset adalah impianku, tapi keadaan yang membuatku harus menerima pekerjaan ini. Hidup di pulau k...

Pantai Cemara

Inilah Lombok, indah dengan semua yang ada di setiap sudutnya. Kalau orang bilang Lombok itu Pulau Bali kedua, mereka semua salah. Lombok ya Lombok, Bali ya Bali, dua pulau yang memiliki keindahannya sendiri-sendiri yang tak bisa dibandingkan hanya dari satu sudut saja. Bali menjual budaya, tradisi dipadu dengan ketenangan dan harmoni alamnya. Namun, Lombok memberikan suasanya nyaman dipadu dengan kelamian alam yang belum tersentuh. Bahkan tak hanya satu, ada banyak yang benar-benar indah tanpa sentuhan. Mulai dari banyaknya gili (pulau kecil) yang masih sepi dan tak kalah indah dibanding gili trawangan dan gili air, gili yang lain memberikan kenyamanan yang berbeda. Ketenangan dan kesendirian sebagai tempat untuk melepas penat setelah beraktifitas. Ini juga salah satu pantai indah di selatan Pulau Lombok yang masih masuk dalam wilayah Lombok Timur. Pantai cemara. Tak ada rencana kesana hari itu, seminggu setelah Abang pulang dari naik gunung kami keluar beli obat untuk giginya yan...

Pada Akhirnya Harus Memilih

Kabut masih menyelimuti perjalanan ke Pusuk, kali ini dengan suasana hati yang tak menentu. Sebuah keputusan yang sulit untuk diambil. Sebuah pertimbangan masa depan yang sama-sama berat untuk dilepaskan. Namun, untuk menerimanya pun bukan perkara yang mudah. “Kamu mau nikah sama aku?” pertanyaan yang tak pernah kuduga sebelumnya. Pertanyaan yang kupikir hanya bercanda itu benar-benar terucap dengan sangat berbeda malam itu. Tatapan mata yang tak pernah kuharapkan dan membuatku bahkan tak berani untuk kembali menatap matanya. Anganku melayang, fikiranku tertuju pada satu sosok yang selama ini kuharapkan mengucapkan kalimat itu. “Aku tahu kamu masih berhubungan sama Alfan, tapi aku hanya ingin kamu tahu kalau aku nggak pernah main-main sama apa yang aku ucapkan” Tak ada kata yang bisa keluar dari mulutku, aku masih melihat genangan air, memberikan remah roti pada ikan-ikan di bawah gazebo tempat kami duduk. “Apa yang membuat Mas Dedi yakin padaku? bukannya Mas Dedi sayangnya...