Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2011

Biarlah Aku Diam di Tengah Gelombang

Jalan raya masih sepi ketika motorku melaju menyusurinya. Bahkan terlampau sepi hingga lebih dari 2 km, hanya ada satu motor yang melaju di jalan berukuran lebar sekitar 4 meter itu yang hanya ada beberapa orang anak muda yang lari pagi di pinggir jalan. Beberapa kendaraan lain mulai terlihat ketika hampir sampai di Pancor. Bisa dibilang Pancor dan Selong adalah pusat kotanya di Lombok Timur. Apalagi dekat pasar, sudah mulai ramai orang berangkat ke pasar pagi untuk berbelanja. Sudah lama nggak jalan Subuh begini. Setelah sholat Subuh langsung membawa motor jalan-jalan melintasi daerah baru yang menjadi tempat tinggalku sekarang. Mesk dilahirkan di tanah ini, tapi sejak bayi hingga lulus kuliah hidup di tanah Jawa dengan segala kekompleksannya. Memulai hidup di tanah kelahiran lagi dengan ketenangan dan kesederhanaan seperti memberi hawa baru di kehidupanku yang sebelumnya sempat sedikit diguncang badai cobaan. Sengaja kuajak sepeda motor itu berlari tak terlalu kencang untuk menikma...

Kemping euy

Adik sepupuku kelas 5 SD ikut kemah di SD N 4 Masbagik, cuma sekitar 2 km dari rumah. Aku diminta Bibi At jenguk dek Izah disana karena nggak ada yang lain yang bisa. Rencananya aku sama Dek Piyan (kakaknya Azizah), tapi karena Bibi At nggak ada temen jaga warung di rumah akhirnya aku berangkat bersama Bibi Yah. Sampai di TKP ternyata mereka sedang apel. Di pinggir lapangan, tenda kecil-kecil berderet mengelilingi lapangan. Di depan masing-masing tenda ada sebuah lilin. Melihat suasana itu, ingatanku kembali ke 12 tahun silam ketika masih duduk di bangku SD. Waktu itu kami kemah di sekolah, bedanya ketika itu kami hanya satu sekolah saja, murid kelas lima dan enam. Nggak pake tenda juga, tidurnya di ruang kelas. Detailnya sih udah nggak inget, tapi yang berkesan ketika kami harus menampilkan sebuah pentas seni waktu api unggun. Reguku yang ketika itu akulah Piru nya, menampilkan drama musikal. Kami bermain peran sambil bernyanyi di depan api unggun. Ceritanya apa, nyanyinya apa, aku p...

Cita dan Asa

Lulus kuliah bukan sebuah akhir, tapi awal. Awal untuk sesuatu yang baru, awal untuk langkah selanjutnya menuju cita dan asa. Dari SD sampai SMA, aku masih belum punya cita-cita yang pasti. Yang ada dalam otak saya ketika itu adalah belajar yang rajin dan aku akan menjadi orang yang sukses. Dan sukses dalam benak saya ketika itu adalah mendapatkan apa yang saya mau masih dalam hal materi, seperti rumah bagus, mobil, dan sejenisnya. Mulai duduk di bangku kuliah, saya mulai tau apa yang saya butuhkan untuk masa depan saya. Saya mulai menyusun tujuan hidup. Karena saya pikir tanpa tujuan dan cita, akan terasa hampa. Yang pasti tujuan hidup saya adalah hubungannya dengan Allah SWT. Saya ingin menjadi hamba bahagia dunia dan akherat. Sedang cita dan asa, saya punya tiga mimpi. Mimpi membuat kita menjadi lebih bersemangat menggapainya. Saya punya tiga mimpi besar selain yang pasti menghajikan kedua orang tua saya. Saya suka dunia membaca dan menulis. Saya ingin sekali menjadi penulis sua...

Smile...^_^

Alhamdulillah masih diberikan banyak nikmat sampai detik ini, terutama nikmat hidup. Hidup dengan berani dan berani hidup. Hidup itu juga perlu keberanian, nyatanya banyak orang yang nggak berani hidup yang akhirnya memilih untuk bunuh diri dan kita adalah orang-orang yang masih diberikan nikmat untuk menjalani hidup. Hidup dengan berani dan berani hidup. Hidup itu seperti apa yang kita fikirkan. Kalau kita menilainya tidak baik maka ketidak baikanlah yang akan selalu kita rasakan, tapi kalau hidup dinilai sebagai sebuah kesempatan untuk berbuat lebih banyak manfaat dan mengambil manfaat dari kehidupan itu sendiri maka seperti itulah yang terjadi. Seperti kata orang bijak kalau kebahagiaan bukan terletak pada memperoleh yang terbaik tapi bagaimana kita mensyukuri apa yang kita peroleh sebagai yang terbaik.  Teori tak semudah kenyataan, memang benar. Saya pun merasakan hal yang sama. Terkadang merasa kurang, iri, ingin lebih, ingin ini, ingin itu, nafsu manusia selalu menjadi ala...