Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2011

galau

Satu lagi yang saya pelajari hari ini, cinta memilih jalannya sendiri. Dan saya, salah satu penganut paham ‘cinta adalah bagaimana kita menyikapi perasaan yang tumbuh dan berkembang di hati’. Akhir-akhir ini banyak banget yang curhat dan cerita soal cinta dan galau, sampai saya sendiri ikut terimbas, ingin membicarakan tentang cinta dan galau. Beberapa waktu yang lalu, saya conference lewat telfon sama sahabat-sahabat yang sedang galau karena cinta. Fafa dan Ian, kami ngobrol banyak dari jam 10 malam sampai sekitar jam 1 pagi {walaupun dengan banyak emosi gara2 Ian sering putus gara-gara jaringannya nggak bagus}. Membahas masalah hati, saling mengceritakan apa yang terjadi pada hati masing-masing. Fafa yang mencintai seorang sahabat dekatnya selama lima tahun dan memilih untuk memendamnya akhirnya mengungkapkan secara tersirat lewat email. Mereka terus dipertemukan dalam forum yang sama dengan komunitas yang sama membuatnya makin galau. Apalagi perlakuan si dia tidak seperti apa yang ...

Kangen Capinkrowo

Kangen bareng kalian kawan-kawan yang sudah setahun lebih tak pernah bisa menyapa secara langsung. Kalau denger kabar dari kalian, rasanya pengen pake pintu kemana sajanya doraemon biar langsung nyampe di Ngampin, tertawa lepas bersama kalian. Melakukan banyak hal bersama kalian, melakukan kegilaan bersama kalian, tapi saya harus segera bangun dari mimpi. Ada yang menepuk pipi saya, “hei” Saya baru sadar, kalau nggak mungkin bisa seperti itu. Saya harus memulai hal baru di tempat yang baru dengan teman-teman yang baru. Mungkin karena belum banyak teman, makanya rasanya sepi. Biasanya kalau ada kalian, kita bisa jalan-jalan, nongkrong di mushola, nggrebek rumah orang, ngabisin makanan atau sekedar jalan-jalan ke pangsar. Kadang ada rasa sesal ketika tidak memanfaatkan waktu bersama kalian sebaik-baiknya. Ingatkah waktu kita spontan bikin rencana ke Sido Mukti? Ingatkah kalian waktu kita nonton pasar malem Cuma nongrong di bawajh tiang bendera pangsar trus pulang lewat jalan baru? Bikin...

Kangen Masa-Masa itu

Duduk di sini, di depan komputer yang setiap hari setia menemani dalam terang maupun gelap. Teringat masa-masa itu, masa-masa menanti dosen, masa-masa bosen kuliah, masa-masa nongkrong di kampus gara-gara badmood, masa-masa pengen cepet lulus, masa-masa nunggu dosen berjam-jam buat konsul, masa-masa kasih support temen-temen yang belum mendapatkan titik terang pada skripsinya.  Ternyata setelah terlewatkan memang kenangan itu terasa sangat indah, meski ketika itu sama sekali tak pernah menyadarinya. Tak berusaha menikmatinya, tak berusaha untuk mensyukuri saat itu. Tapi tak apa, aku masih bisa mengingatnya sebagai kenangan dan akan menjadikannya guru. Meskipun tidak suka, cobalah untuk menikmati dan mensyukuri dengan ikhlas maka kenangan itu akan terasa semakin indah. inilah saat makan-makan terakhir bareng temen-temen, habis yudisium...kenangan sebelum pulang ke kampung kelahiran...

Malam Dila Jojor

Ada sebuah adat yang unik ketika Ramadhan. Ramadhan di Mabagik penuh denagn suara petasan setiap malam. Itulah yang membedakan dengan bulan-bulan yang lain. Setiap malam ramai dengan lantunan ayat suci hingga sahur. Langit Ramadhan terlihat sangat indah dengan keikhlasan dan kesederhanaan. Ramadhan adalah bulan yang terasa sangat spesial di Masbagik. Kesepian di pagi dan siang hari digantikan dengan keramaian sore dan malam hari. Ada satu malam di bulan Ramadhan yang unik untuk menyambut malam Lailatul Qadar. Ada malam menyalakan dila jojor (dila adalah bahasa sasak yang artinya lampu atau penerangan). Dila   jojor adalah sebatang bambu yang sudah dibentuk seperti tusukan sate, tapi lebih besar. Buah jarak yang sudah dikeringkan dililitkan di bambu seperti sate. Diberi sedikit minyak tanah untuk merekatkan. Warnanya hitam, kalau sudah tertempel di bambu bentuknya seperti sate. Nah, biasanya selama sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, di malam-malam ganjil, setiap desa digilir ...

TOPENG

Topeng, dimana-mana ada topeng. Semua rang memakai topeng. Tak ada seorang pun yang tak memakai topeng. Di bus, di mall, di kantor, di pasar, di semua tempat, semua orang memakai topeng. Kenapa semua memakainya? Kenapa harus memakai topeng? Ada yang menjawab“Tuntutan keadaan” Memangnya keadaan bisa menuntut? Kayak pengacara aja. Lain lagi menjawab “Zaman edan, kalo nggak pake topeng nggak bisa hidup di kota metropolitan begini” Ini lagi, malah zaman yang dibilang edan, kalo gitu dibawa ke rumah sakit jiwa aja biar sembuh. Topeng bisa bikin hidup? Berarti kalau nggak pake topeng bisa mati? Semakin ngawur. Lain orang, lain jabatan, lain jawaban “Biar pede aja,” Cuma bis geleng-geleng dengan jawaban ini. Kalo nggak pake topeng berarti nggak pede. “Biar gaul,” ini jawaban anak muda yang pikirannya picik. “Ngikutin tren” ada juga tren topeng ternyata, aku baru tahu. “Kalau nggak, nggak bisa hidup di kota besar begini” Oh, jadi topeng bisa bikin orang hidup. Apa secera otomatis kalau hidup...

Cinta itu Bukan untuk Hati ini

Mencintai adalah sebuah rasa yang selalu beriringan dengan harapan dan ingin memiliki. Cinta kan selalu membuat tak bisa menyadari kapan dia hadir dan kapan dia harus pergi. Kadang cinta membuat kita terpuruk, tapi kadang cinta juga membuat kuat. Cinta mengajarkan banyak hal tentang bahagia dan sakit hati. Cinta datang untuk menawarkan harapan dan kebahagiaan pada hati ini. Meski hati ini tak mempedulikannya, tapi cinta tak kenal lelah untuk mengenalkan kebahagiaan dan harapan indah untuk hati. Pengorbanan dan ketulusan diberikan agar hati mau melihatnya, meski tak mengizinkan cinta untuk memasukinya. Memberinya harapan dan bahagia itu. Namun, tanpa disadari oleh hati ini, cinta telah berhasil masuk dan melekat di hati ini. Hati ini masih belum menyadarinya. Hingga akhirnya cinta berpindah ke lain hati dan meninggalkan luka. Sakit rasanya, meski masih ada yang tertinggal di sana. Hati ini tak rela ditinggalkan oleh cinta itu. Ada luka di hati ini. Ketika hati ini berusaha untuk menyem...

Menatap Hujan

Dari balik jendela, mata itu menatap tajam jalanan yang dibasahi air hujan. Derasnya menyiratkan kepedihan. Lama air sebanyak itu tak tertumpah di tanah itu dan menebarkan bau sejuk itu. Sepasang mata yang masih menatap hujan dan merasakan kesejukan bau tanah yang basah membuatnya teringat pada seseorang. Seseorang yang senyumnya masih kuingat, lembut wajahnya masih terngiang. Khaira masih belum mau beranjak dari jendela. Menikmati harumnya tanah yang dibasahi air hujan. Eyang paling suka menatap hujan sampai berjam-jam. Ada yang membuatnya teringat tiap kali menatap hujan. “Eyang sama eyang kakungmu paling senang menatap hujan lewat jendela dulu,” kata beliau ketika Khaira menanyakan alasannya menatap hujan. Kata Ibu, eyang putri dan eyang kakung berpisah karena dipisahkan oleh orang tua eyang putri yang tidak setuju dengan hubungan mereka berdua. Ibunya eyang putri sudah nggak setuju kalau eyang putri berhubungan dengan eyang kakung yang waktu itu Cuma tukang kayu. Beliau ingin eya...