Skip to main content

Dear Diriku.....

Dear Aku.....




Fase dalam setiap kehidupan Ibu selalu menjadi cerita dan pembelajaran.  Tentu tidak mudah, semua butuh waktu untuk menerima segala peristiwa yang terjadi padanya. Ia tidak selalu harus kuat, ia juga manusia yang butuh ruang untuk mencerna apa yang terjadi padanya. Sedih, marah, kecewa, semua bagian dari rasa yang wajar dimilikinya. 

Salah juga tidak salah ketika Ibu harus belajar darinya. Ia dituntut untuk selalu memastikan anggota keluarganya baik-baik saja, anggota keluarganya diperhatikan, tapi bukan berarti itu semua tanggung jawab sepenuhnya seorang ibu, bahkan dosanya pun seperti ditanggung oleh ibu ketika satu kesalahan ibu yang tidak disengaja dirasa merugikan. 

Banyak hal yang mempegaruhi kehidupan ibu, salah satunya dipengaruhi hormon. Hormon yang terjadi pada seorang wanita sangat mempengaruhi menghadapi kehidupan sebagai ibu. Betul memang menjadi ibu harus siap terlebih dahulu. Selesai dengan dirinya, selesai dengan segala ego tentang dirinya. Akan lebih baik lagi ketika ia bisa mengikuti kelas atau konsultasi psikolog untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia pernikahan yang tentu akan banyak peristiwa dan kejadian yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Memiliki tambahan jabatan setelah menjadi istri, ini tak pernah disadari akan ada banyak perubahan bagi psikologinya. Seorang anak gadis yang berperan sebagai anak, cucu, karyawan, teman, tak banyak tanggung jawab apalagi kehidupan sosial karena orang tua menanggung tanggung jawab sosial sebagai bagian dari masyarakat dan masih terlindungi oleh orang tua.

Ia harus keluar dari seluruh kenyamanan itu. Ia yang bebas leluasa menggapai cita, mengambil keputtusan, tapi akan jauh berubah ketika ia memutuskan untuk hidup dengan orang lain. Ia meninggalkan banyak kenayamaan yang sudah lama ia rasakan, menjadi bergantung dan berbakti pada sosok baru dengan seluruh kehidupannya yang harus diterima.

Ia yang dulu bisa leluasa bercerita dengan sahabat, kini harus memilah karena ada marwah ada aib keluarga yang ia bawa kalau terlalu mengumbar cerita. Banyak hal yang dibatasi, banyak tanggung jawab yang kadang menjadi semaki berat ketika pasangan menumpukan semua padanya. Ia juga manusia, butuh dibagi bebannya, butuh diperhatikan dan sesekali ditanya apakah butuh bantuan. Mungkin sepele, tapi perhatian itu membuat tangki cintanya penuh.

Ia rela meninggalkan dunianya untuk keluarganya. Ia rela tidak banyak waktu untuk sekedar ngobrol dengan teman melepas penat untuk bisa memenuhi tangki cinta anak-anaknya, mendampingi suami dan menjadi sosok yang selalu ada untuk mereka.

Tak ada yang menanyakan kabarnya, tak ada yang menanyakan lelahkah ia, tak ada juga yang duduk menemaninya sekedar bercerita hal sepele saat ia sedang butuh ditemani. Seringkali ia berusaha menyembuhkan lukanya sendiri. Mencari cara untuk membuatnya tetap bahagia menjalani multi peran yang berpusat padanya. Tak butuh terimakasih, tak butuh diceritakan ke seluruh dunia, ia hanya butuh memenuhi tangki cintanya untuk bisa terus menjaga tangki cinta lain agar tetap penuh dan dirinya baik-baik saja.

Terlihat sepele, tapi psikologinya sering tergores karena beratnya beban yang harus dipikulnya. Tak terlihat, bahkan sering disepelekan karena dianggap "hanya ibu rumah tangga" yang nyatanya lebih membuat psikis lelah, bosan dan penat. Kebebasannya berkurang, kehidupannya harus selalu memprioritaskan selain dirinya, tapi tak pernah ada yang menanyakan keadaannya, eksistensi terhadap dirinya kerap dianggap tak berguna ketika bukan materi yang didapatkan. Sakit disembuhkannya sendiri, luka fisik maupun batinnya disembuhkannya sendiri. Perannya besar, tapi sering dianggap remeh karena terus berada di rumah. 

Padahal hal terberat adalah berada di dalam banyak keterbatasan. Eksistensinya dianggap tidak penting, padahal itu hanya cara untuk aktualisasi diri sebagai manusia yang ingin terus bertumbuh dan bekembang, melakukan amal terbaik di dunia dengan apa yang bisa dilakukan. Selalu harus tahu konsekuensi di setiap langkah yang diambilnya, ia sadar itu. 

Hidupnya tak lagi leluasa dengan mengesampinkan banyak hal bahkan citanya untuk bisa menunaikan tanggung jawabnya. Tak perlu mengeluh, ia berusaha menyembuhkan lukanya sendiri, mencari bahagianya, belajar untuk bisa menjadi lebih baik dan bertumbuh. 

Sosok yang baru dikenal, harus beradaptasi dengan sifatnya, kehidupanya, keluarganya, lingkungan sosial sekitarnya. Perannya bertambah disertai bertanggungjawab atas banyak hal Istri, anak, menantu, tetangga, ditambah ibu dari anak dan lingkungannya. 

Lillita'ala.....
Kalima ajaib yang selalu menguatkan. Sebuah tujuan yang selalu bisa menjadi pelipur lara. Ada Allah 'azza wa jalla. Ada yang menguatkan ketika sajadah sudah terhampar, larut dalam doa meminta kekuatan. Hanya padaNya harapan tak pernah mengecewakan. Bahagia kita yang menciptakan, lewati fase demi fase untuk bisa terus melakukan amal terbaik di dunia hingg kelak kita berpulang.

Terimakasih diriku, sudah kuat sampai hari ini.
Terimakasih untuk mau terus muhasabah dan tidak menggantungkan bahagia pada manusia
Terimakasih sudah berusaha lebih baik dari hari ke hari
terimakasih untuk sadar kalau diri ini berharga meski banyak yang mecob meremehkan dan merendahkan
Nilai dirimu bukan dari penilaian orang lain, tapi dari dirimu sendiri yang menhargai diri, mau berubah menjadi lebih baik dan tentu terus menggantungkan harapan hanya padaNya

Kamu hebat 
Kamu luar biasa


Comments

Popular posts from this blog

Menikmati makan di Tengah Kebun Bambu, rasanya Seperti di Kampung

Siang itu, kami tidak punya tujuan makan siang. Salah seorang dari kami mengajak untuk ke Bonjeruk, begitu tempat makan ini terkenal di kalangan orang-orang. Belum ada diantara kami yang sudah pernah datang untuk makan di tempat yang katanya makanannya cukup khas. Kami mencoba menelusuri menggunakan Gmap dengan petunjuk arah Bonjeruk. Kami menemukan arah menuju Warung Bambu, Desa Wisata Bonjeruk Lombok Tengah.  Perjalanan menuju ke lokasi tidak lebih dari 30 menit perjalanan dengan kecepatan sedang. Bagi kami yang sudah tinggal di Lombok, lokasi ini tidak sulit ditemukan, Namun, bagi pendatang yang menjelajah Lombok sendiri mungkin butuh waktu lebih lama karena harus memperkirakan arah. Namun, google map cukup membantu dan akurat menunjukkan lokasi ini.  Ada 2 lokasi Warung Bambu ini. Kami singgah di lokasi cabang dari warung utamanya. Menurut penuturan karyawannya, di lokasi ini warung hanya buka sampai pukul 18.00 WITA, sedangkan di cabang utamanya buka hingga pukul 21.00 WI...

Ujung Pertemuan Kita

Mbak Andin.... Jazakumullah Khoiron Katsiron Persahabatan kita membuat banyak kenangan indah. Persahabatan kita membawa banyak kebaikan. Persahabatan kita membuatku banyak belajar.  Aku tahu betapa kau adalah wanita yang luar biasa. Menghadapi banyak hal dengan selalu husznudzon pada Allah SWT, bertumbuh pantang menyerah untuk menjadi lebih baik. Kau yang mengajarkanku untuk menghadapi banyak hal dengan gagah berani. Sekarang ataupun nanti, semua pasti harus dihadapi.  Aku banyak belajar tentang kekuatan menghadapi darimu. Meski pahit, hadapi saja. Minta pertolongan dan kekuatan padaNya, pasti ini juga akan terlewati.  Terimakasih sudah terus saling menguatkan dan menjadi tempat yang nyaman untuk berkeluh kesah. Tak pernah menyalahkan, tapi memahami. Kau tahu, bersahabat denganmu adalah zona nyamanku. Namun, sekarang aku harus siap untuk keluar dari ini. Bukan berarti persahabatan kita akan berakhir, tapi jarak yang membuat kita tak bisa sering bertemu pasti akan membuka ...

Outbound Aqil Baligh

Usia si sulung sudah 10 tahun. Saatnya kami sebagai orang tua untuk mengenalkan tentang Aqil Baligh. Saat seperti ini, ternyata ada yang membuat sebuah kegiatan yang menyenangkan.  Outbound reflektif aqil baligh yang diselenggarakan oleh Cahaya Bangsa. Sebuah institusi pendidikan yang dididirikan oleh Ustadz Yulhaidir, psikolog anak yang ingin menghadirkan pengalaman menyenangkan pada anak, tapi tetap bermakna sehingga kesan yang tertanam akan terus terngiang lekat dengan makna yang terkandung di dalamnya.  Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 15 Februari 2025 di lingkungan sekolah Cahaya Bangsa yang ada di Lenek, Lombok Timur. Bukan pertama kali, kegiatan seperti ini sering diadakan oleh Cahaya Bangsa sebagai cara untuk menjembatani anak-anak kembali mengenal alam, kembali dekat dengan alam untuk mengembalikan kepekaan pada alam.  Saya dan anak-anak berangkat dengan menggunakan engkel, angkutan umum yang ada di Lombok dari Matara sampai ke Lombok Timur. Sebuah kendaraa...