Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2019

Percaya Diri Nada

Hari ini, gladi bersih pentas seni si Mbak Nada besok. Gendhuk paling antusias kalau pentas. Ini pertama kalinya dia pentas, berekspresi di depan orang banyak. Bunda juga ikut antusias, memberikan dukungan dan semangat atas keberaniannya. Belajar tampil di depan orang banyak dan belajar percaya diri. Sebenarnya, Bunda ingin mengikutsertakan Nada di beberapa perlombaan. Kemarin sempat mau ikut lomba gambar kolase dengan bahan bekas alami. Namun, karena adek sakit, jadi gagal ikut lomba. Janji yang sempat terucap itu terus diingat dan terus ditanya. "Kapan kita lomba yang hadiahnya main di Dinosaurus itu, Bunda?" Dinosaurus itu maksudnya di Transmart yang ada patung Dinosaurusnya. Bunda sedih setiap kali ditanya begitu. Tak kuasa mengatakan kalau sebenarnya sudah lewat acaranya dan gagal ikut karena adek sakit. Yah, cuma bisa bilang besok saja ya sayang. Untungnya sekarang si Mbak sudah sekolah, jadi tetap terhibur dengan kegiatan di sekolahnya. Kali ini, dia ada pentas sen...

Mendidik Anak

Pilihan menjadi ibu rumah tangga seutuhnya sudah kupilih sejak sebelum menikah. Mendidik anak sendiri, mengontrol mereka sepenuhnya menjadi pilihanku sejak masih gadis. Karena banyak teman yang ibunya bekerja yang pada akhirnya memilih untuk berlama-lama di luar karena kesepian, aku merasa sangat nyaman berada di rumah. Dengan ibu yang selalu ada kapanpun dibutuhkan, dengan ibu yang selalu ada untuk mendengar cerita dan ibu yang memberi nasehat dengan cara yang asik. Meski tidak sepenuhnya cara mendidik orang tua saya persis seperti cara saya mendidik anak-anak, tapi saya juga belajar dari banyak hal. Belajar dari membaca dan mendengar cerita teman-teman tentang mendidik anak. Mendidik anak itu juga harus mengikuti perkembangan zaman, selain juga tetap mengedepankan agama sebagai landasan utama. Akhlaq dan aqidah menjadi utama dalam mendidik anak-anak. Itu juga banyak saya contoh dari orang tua saya yang selalu mengedepankan aqidah dan akhlaq dalam mendidik kami. Mereka tidak menghar...

Pertimbangan Sekolah Usia Dini

Nada memang sejak kecil tipe anak yang sangat aktif. Suka memanjat dan hal baru, termasuk bertemu orang baru. Dia suka sekali hal baru dan selalu harus bisa melakukannya kalau sulit. Dia juag tidak mudah menangis bertemu orang baru. Gampangan diajak siapa aja. Haha... tapi bukan gampangan dalam arti orang dewasa ya. Ini gampangan versi anak-anak. Diajak siapa aja mau. Dulu sempat waktu baru mengenal orang, dia tidak mau dengan selain Bunda atau Ayahnya. Sama Mbah saja dia mau karena ketika itu kami masih tinggal di rumah Mbah. Namun, tidak lama setelah itu, dia mulai mau dengan siapapun yang ingin menggendongnya. Banyak orang suka dengannya yang bertubuh gemuk ginuk-ginuk , kata orang Jawa. Nada kecil murah senyum dan tidak mudah menangis, jadi banyak orang yang gemes dan suka dengannya. Meski banyak yang suka, tapi sebenarnya saya agak khawatir juga kalau dia mudah diajak dengan orang baru. Pernah suatu kali, saya sedang menyuapinya di depan rumah Mbah. Sore itu, Mbah sedang arisa...

Menjadi Mandiri

Hidup bermasyarakat pasti akan bertemu dengan berbagai macam karakter orang. Berbagai macam karakter terbentuk dari latar belakang dan lingkungannya. Tinggal di tempat baru, bertemu dengan orang baru dan bergaul selalu menjadi cerita baru untuk saya. Dua tahun yang lalu, saya pindah dari rumah mertua ke sebuah kompleks perumahan. Kami memilih membeli rumah yang sudah siap huni karena tidak ada biaya untuk renovasi ketika itu. Pas saat Nada umur dua tahun, Allah memberi kami rezeki sebuah rumah, meski masih dengan jalan meminjam uang di kantor suami. Masuk dengan perlengkapan seadanya yang diberi mertua karena kami sebelumnya tinggal di rumah mertua. Kompor dikasih kakak yang dapet doorprise dari kantornya. Tabung gas dapet dari kakak yang nggak mau pake tabung gas 3kg karena banyak yang bocor. Sisanya dari mertua yang masih bisa dipake. kasur dan lemari dikasih waktu kami menikah. Alhamdulillah, kami hanya meambah beberapa yang memang dibutuhkan saat itu seperti kipas angin, magic ...

Keputusan setiap Rumah Tangga

Kali ini saya hanya ada sedikit cerita tentang kisah poligami di sekitar saya. Dari keluarga suami, ada beberapa sepupuya yang akhirnya memutuskan untuk menikah lagi dan bercerai dengan istri sebelumnya dengan beberapa masalah. Ada yang tidak punya keturunan, ada juga yang memilih menikah lagi karena si istri memiliki dominasi lebih besar dalam hal ekonomi dan satu lagi memilih poligami karena istri pertamanya kurang peduli dengan keluarganya. Sebelum melabeli mereka dengan opini pribadi, lebih baik menghormati keputusan mereka. Mereka pasti punya latar belakang yang kuat untuk memutuskan apa yang terbaik dengan rumah tangganya. Orang luar tidak pernaah tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangga mereka. Ada banyak orang yang menyalahkan mereka yang akhirnya memutuskan untuk bercerai dengan isri sebelumnya dan menikah lagi. Apalagi kalau kehidupannya tidak lebih baik dengan bersama istri yang baru.  Nah, saya tipe orang yang daripada menghakimi melabeli mereka ...