Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2011

Persahabatanku dengan Angkutan Umum

Pulang dari Al Fikr di Serengan, naik bis Nusa A pulang ke kampus. Berhubung nggak punya kendaraan sendiri, kema-mana aku harus bersahabat dengan kendaraan umum dan memang aku sudah sangat bersahabat sejak SMP. Apalagi memang sejak kecil aku udah sering travelling ikut bapak yang kerja sebagai konsultasn di proyek jalan tol yang selalu pindah tempat. Dulu sih ikut kemana bapak proyek, tapi sejak sekolah TK, aku, adikku dan ibu menetap di Ambrawa bersama orang tua bapak alias simbah dalam bahasa Jawa. Itulah yang menyebabkanku akrab dengan kedaraan bermotor dan nggak gampang mabuk darat. Berhubung ibu asli Lombok jadi aku sering jenguk papuk (sebutan nenek dan kakek dalam bahasa sasak) di Lombok dan ternyata aku teruji nggak mabuk laut. Kalau udara belum pernah jadi aku nggak tahu mabuk udara apa nggak, tapi setidaknya dua titik aman udah teruji. Aku mulai menjalin persahabatan sejak SMP karena aku harus naik angkutan kota (angkot) untuk sampai di SMP ku yang jaraknya sekitar 5 km da...

Dua Kado Indah di Hari Ini

Beberapa teman menganggapku konyol ketika kuceritakan tentang keinginanku untuk dijodohkan. Mungkin memang sedikit aneh di zaman yang serba bebas dan anak-anak memilih pasangannya sendiri dan nggak mau dijodohin, aku justru menantang arus kebebasan. Aku minta orang tuaku menjodohkanku dengan orang yang mereka anggap cocok untuk menjadi penampingku. “Kamu serius?” Tifa masih tidak percaya dengan yang baru saja kuceritakan. Ini bukan pertama kalinya aku mendapatkan tatapan dan nada keherenan dan sedikit mencemooh ‘konyol’. Yah, mungkin konyol, tapi aku benar-benar ingin dijodohkan. Mungkin Umi yang sering aku ajak sharing tentang permintaanku untuk dijodohkan juga memiliki persepsi yang sama dengan mereka. Konyol. Tapi sorot mata dan nada bicaranya sama sekali tak menyiratkan kata itu muncul di benaknya. Beliau mengerti aku. Beliau paling tahu siapa aku dan aku percaya beliau takkan mengecewakanku walaupun beliau sempat bilang kalau aku harus menemukan jodohku sendiri. “Ayolah Umi…” den...

Saatnya Menentukan Langkah

Masih dalam penantian panjang akan mimpi, cita dan asa. Masih bimbang akan sebuah langkah ke depan. Di tempat baru, aku sendiri masih belum tau apa yang harus kulakukan, apa yang akan kulakukan untuk menggapai mimpi dan asa yang selama ini telah terajut di angan dan nafasku. Satu demi satu hal-hal tak terduga muncul untuk membuatku semakin bimbang, tapi inilah hidup, penuh kebimbangan dan kecemasadn dalam menentukan pilihan. Bijaksana bukanlah hal yang mudah. Berpuluh tahun besar di tanah Jawa ternyata tidak mudah menyesuaikan diri dengan budaya baru yang sangat sederhana dengan kulutr yang berbeda di tanah kelahiranku sendiri. Lombok, tanah kelahiranku dan ibuku. Setelah menyelesaikan studi sarjana, aku diminta untuk menemani ibu di Lombok karena bapak masih di Surabaya...padahal aku tak banyak tahu tentang Lombok...Oh, yeah./..saatnya bertualang, mendaki gunung lewati lembah menyusun strategi baru.

Labuan Haji di sore hari

Awal perjalanan kami di Pulau Eksotis (sebutan untuk Pulau Lombok tercinta) adalah labuan Haji. Ada di Lombok Timur, dekat dengan rumah eyangku di Masbagik. Walaupun tak seindah Senggigi, Kuta dan pantai lain di Lombok Barat yang biasa dikunjungi wisatawan domestik maupun manca, tapi pantai memmberikan energi tersendiri bagi siapa saja yang mengunjunginya. Kebersamaan dan kesederhanaan yang ditawarkan pantai ini cukup membuat puas siapa saja yang mengunjunginya. Sore itu, kami iseng jalan-jalan ke Labuan, sekedar melepas kejenuhan karena sampai sekarang masih belum ada kesibukan. Melepas penat setelah dua minggu terakhir ini disibukkan dengan peringatan kepergian eyang tersayang...