Skip to main content

Program Wakaf Buku Akhir Tahun

Literasi merupakan salah satu hal yang saya suka sejak kecil. Orang tua menjadi contoh bagi saya untuk mencintai literasi. Bapak terbiasa membelikan buku setiap kali pulang kerja dan mamak suka membaca majalah sambil menunggu kami belajar saat itu. Buku menjadi salah satu prioritas bagi saya dan menjadi sangat suka membeli buku.
Saat menjadi ibu, buku menjadi salah satu komponen yang menjadi pertimbangan untuk mendampingi tumbuh kembang anak-anak. Saya memutar otak bagaimana bisa mendapatkan buku untuk anak-anak. Menemukan beberapa penerbit yang menjual buku anak berkualitas menjadi sangat menyenangkan bagi saya.

Sampai akhirnya saya bertemu dengan sekelompok penjual buku yang akan mengadakan wakaf buku untuk beberapa sekolah dan rumah baca yang membutuhkan. Saya pun teringat pada seorang teman yang menceritakan tentang sebuah tempat belajar anak-anak yang didirikan besama beberapa teman karena melihat keterbatasan ekonomi di daerah itu dan mengurangi kemaksiatan yang terjadi akibat mereka kurang ilmu.

Namanya Belpas Institut. Sebuah tempat anak-anak pra sekolah belajar di sebuah tempat yang disediakan di rumah serang baik. Gaji gurunya dan operasionals sekolah dibayar dari hasil donasi orang-orang baik. Ada donatur rutin yang menjadi sumber pendanaan utama untuk tetap melanjutkan kebaikan untuk kemanfaatan.

MasyaaAllah, saya pun merasa sangat kecil diantara orang-orang yang bermanfaat bagi banyak orang. Saya menjadi kembali bersemangat untuk membantu sesama, bermanfaat dari hal yang kecil dan berhubungan dengan literasi. Meski saya belum bisa membeli buku lengkap atau belum punya perpustakaan yang ingin saya wujudkan untuk anak-anak di rumah, tapi semoga Allah memberikan manfaat dari hasil memperjuangkan wakaf buku untuk mereka yang membutuhkan.  

Berawal dari melihat postingan Mbak Gina di sosial media tanpa sengaja, saya menjadi terinspirasi untuk bisa melakukan wakaf buku untuk mereka yang kurang akses literasi. Saya mengusulkan sebuah Paud dan Tk yang pernah diceritakan oleh seorang teman. Sebuah perjuangan untuk bisa bermanfaat di sekitarnya dengan membuat sebuah wadah belajar anak-anak yang kurang mampu untuk bisa mendapatkan pendiikan yang layak seperti mereka yang mampu membayar untuk menyekolahkan anak-anaknya.

Belpas Institut. Sebuah nama yang berasal dari Belakang Pasar karena anak-anak belakang pasar banyak tidak bisa mendapatkan sekolah yang cukup baik dan kurang mendapatkan perhatian karena kondisi ekonomi dan latar belakang yang memang kurang mampu. Orang tua mereka sibuk bekerja, sedangkan anak-anak mereka dibiarkan main sendiri tanpa pengawasan. Banyak anak-anak kecil yang sampai salah pergaulan, sudah mengenal rokok dan sejenisnya kaerena orang tuanya tak cukup punya waktu memperhatikan. Sibuk mencari nafkah untuk bisa bertahan hidup untuk keluarganya menjadi prioritas. Pendidikan anak usia dini bukan menjadi prioritas bagi mereka.

Atas dasar itulah, pemuda setempat yang peduli dengan lingkungannya membuat wadah untuk mereka agar bisa belajar lebih banyak seperti mereka yang bisa membayar untuk sekolah yang bagus. Mereka menggalang dana dari orang sekitar untuk bisa membiayai guru dan operasional untuk mendidik anak-anak belakang pasar. Mereka mncari orang-orang yang mau berkomitmen untuk mendidik dengan bayaran yang mungkin masih dibawah seharusnya. Namun, semakin lama, semakin banyak yang berkontribusi, semakin cukup layak untuk membayar gaji guru.

Saya pun teringat pada mereka ketika ada seorang teman yang mengajak menggalang dana wakaf buku, aku pun mengusulkan Belpas Institut untuk bisa mendapatkan salah satu buku berkualitas tersebut. Alhamdulillah belum sampai sebulan, kami bertujuh bisa menggalang dana untuk 6 paket buku wakaf untuk dibagikan ke 4 tempat, bahkan bisa menambah satu paket buku lagi. MasyaaAllah, Tabarokallah





Comments

Popular posts from this blog

Ujung Pertemuan Kita

Mbak Andin.... Jazakumullah Khoiron Katsiron Persahabatan kita membuat banyak kenangan indah. Persahabatan kita membawa banyak kebaikan. Persahabatan kita membuatku banyak belajar.  Aku tahu betapa kau adalah wanita yang luar biasa. Menghadapi banyak hal dengan selalu husznudzon pada Allah SWT, bertumbuh pantang menyerah untuk menjadi lebih baik. Kau yang mengajarkanku untuk menghadapi banyak hal dengan gagah berani. Sekarang ataupun nanti, semua pasti harus dihadapi.  Aku banyak belajar tentang kekuatan menghadapi darimu. Meski pahit, hadapi saja. Minta pertolongan dan kekuatan padaNya, pasti ini juga akan terlewati.  Terimakasih sudah terus saling menguatkan dan menjadi tempat yang nyaman untuk berkeluh kesah. Tak pernah menyalahkan, tapi memahami. Kau tahu, bersahabat denganmu adalah zona nyamanku. Namun, sekarang aku harus siap untuk keluar dari ini. Bukan berarti persahabatan kita akan berakhir, tapi jarak yang membuat kita tak bisa sering bertemu pasti akan membuka ...

Menikmati makan di Tengah Kebun Bambu, rasanya Seperti di Kampung

Siang itu, kami tidak punya tujuan makan siang. Salah seorang dari kami mengajak untuk ke Bonjeruk, begitu tempat makan ini terkenal di kalangan orang-orang. Belum ada diantara kami yang sudah pernah datang untuk makan di tempat yang katanya makanannya cukup khas. Kami mencoba menelusuri menggunakan Gmap dengan petunjuk arah Bonjeruk. Kami menemukan arah menuju Warung Bambu, Desa Wisata Bonjeruk Lombok Tengah.  Perjalanan menuju ke lokasi tidak lebih dari 30 menit perjalanan dengan kecepatan sedang. Bagi kami yang sudah tinggal di Lombok, lokasi ini tidak sulit ditemukan, Namun, bagi pendatang yang menjelajah Lombok sendiri mungkin butuh waktu lebih lama karena harus memperkirakan arah. Namun, google map cukup membantu dan akurat menunjukkan lokasi ini.  Ada 2 lokasi Warung Bambu ini. Kami singgah di lokasi cabang dari warung utamanya. Menurut penuturan karyawannya, di lokasi ini warung hanya buka sampai pukul 18.00 WITA, sedangkan di cabang utamanya buka hingga pukul 21.00 WI...

Menapaki Sembalun, dari Kondangan sampai Sajang Retreat

    Minggu pagi, selepas sholat Subuh, kami menyusuri jalanan Mataram menuju Lombok Timur untuk memenuhi undangan rekan kerja Ayah di Sembalun . Jalanan masih sangat lengang. Belum ada aktifitas yang ramai kecuali pasar. Pasar selalu menjadi tempat paling ramai di pagi hari.  Udar sejuk mengiringi perjaann menuju ke lembah Gunung Rinjani yang menjadi tujuan pendakin bukit maupun gunung. Bukit-bukit di sekitar Rinjani sudah menjadi destinasi wisata yang banyak dikunjungi bagi yang belajar mendaki. Sebelum mendaki Gunung Rinjani, ada bukit Anak Dara , Bukit Gedong , Bukit Pergasingan , Bukit Sempana , Bukit Kondo , Bukit Bao Daya yang bisa dicoba bagi pemula atau yang memang tidak suka bermalam, tapi ingin menikmati keindahan dari atas bukit.  Meninggalkan desa di lereng bukit menuju ke hutan alami dengan monyet di sepanjang jalan yang mencari makan. Kebiaasaan orang lewat memberi mereka makan membuat mereka sering merebut makanan. Hutan yang mereka tinggali tak l...